
Surabaya, Wirafokus.com – Blantika seni lukis Indonesia selama ini di dominasi kaum pria. Namun di era emansipasi, kaum wanita tak mau ketinggalan jejaknya dengan kaum pria.
Salah satu pelukis wanita Indonesia selain Kartika Affandi anak mendiang maestro Affandi yang mengikuti jejak ayahnya. Kini Kartika yang biasa dipanggil mami oleh kalangan seniman Yogyakarta menjadi inspirasi banyak pelukis wanita. Diantara ribuan pelukis wanita di Indonesia sosok wanita bernama Sri Muhartini asal Surabaya, 27 Agustus 1969.
Dalam aktifitasnya sebagai pelukis, Sri Muhartini cukup aktif mengikuti berbagai pameran yang diselenggarakan oleh kelompok seni rupa. Karya Sri Muhartini banyak mengambil tema alam, bunga dan sosok kaum lansia. Bu Har panggilan akrab nya istri dari almarhum Masrunsyah yang meninggal tahun 2008. Bu Har mendapat support dari ke 4 anak nya untuk mengisi waktu luang berkarya bersama rekan-rekan pelukis wanita di Surabaya. Ia bahkan memanggil pelukis yang setiap Minggu melatih untuk melukis di rumahnya bersama ke 5 kawan-kawan seusianya.
“Saya berkarya dan melukis setelah pensiun dari perbankan. Bagi saya melukis bisa mencegah pikun atau dimensia,” ungkap Bu Har kepada media di Galeri Merah Putih usai mengantar lukisan nya untuk ikut pameran Bursa yang digelar besok, Sabtu, 3 Februari 2024. Wanita yang kini berusia 55 tahun ini terlihat penuh semangat untuk mengikuti beberapa pameran lukisan. Kota-kota yang pernah disinggahi lukisan nya, Surabaya, Yogyakarta, Malang dan Batu. Sri Muhartini bersaudara 11 orang, 4 diantara nya menjadi pelukis, Bu Murni, pak Jon, Rendy pelukis kaca asal Mojokerto dan ia sendiri yang tiap melukis. Kini karya Sri Muhartini sudah tersimpan sebanyak 50 karya sejak melukis tahun 2017 silam.
Organisasi yang ia ikuti diantaranya sebagai pengurus Ikatan Pelukis Indonesian (IPI) dan Ikatan Pelukis Wanita Indoneisia (IPWI). Ia didapuk sebagai seksi sosial.

Selain melukis untuk konsumsi pameran, Sri Muhartini mengembangkan lukisan nya pada kain kerudung dan topi untuk melayani sofeniran.
“Bagi saya melukis sebagai hobi dan bisa menambah nilai ekonomi. Itu semua saya syukuri,” ujarnya semangat.
Kini dalam pameran yang bertajuk Bazart di Galeri Merah Putih, Komplek Balai Pemuda, Alun-Alun Surabaya, jalan Gubernur Suryo. Pameran yang di organizer oleh Perupa Wanita Jawa Timur (Perwajati) yang dimotori pelukis Muit Arsa menampilkan 15 pelukis wanita. Pameran berlangsung 3 – 8 Februari 2024. Pelukis peserta pameran berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Kediri. Para pelukis diantaranya Aliet, Ani Hasan, Anik Ardana, Ary Indrastuti, Devina Anggreini, Widijayati Wilopo, Paulina Soesri H, Hesti Setyowati, Nadira Zahra R, Sri Muhartini, Nini Sumini, Nining HW, Tjiples PL, Diahrini dan Maria.
Catatan kecil tentang , “Bazart” awalnya pameran Bazart diproyeksikan sebagai pameran lukisan pada umumnya yang kerap diselenggarakan oleh para pelukis. Melalui diskusi kecil konsep pameran lukisan bergeser menjadi Bazart ( Bazar Seni ). Ini merujuk pada keinginan bersama yang ingin menyajikan karya-karya dengan harga yang lebih merakyat . Karya lukis yang bisa dinikmati dan dikoleksi oleh berbagai lapisan masyarakat, karena selama ini lukisan identik dengan barang seni yang mahal. Melalui kegiatan ini rekan-rekan Perwajati ingin menyuguhkan karya-karya lukisan keren yang harganya sangat terjangkau oleh masyarakat luas. Karya – karya lukisan yang ditampilkan diberi harga maksimal Rp.500.000,- ( Lima Ratus Ribu ). Harga yang sangat merakyat sesuai dengan konsep Bazart yang berharap kegiatan ini bisa menjadi pencerahan bagi segenap masyarakat yang selama ini kurang mengapresiasi Karena melihat harga lukisan yang dianggap Mahal. Maka pada gelaran Bazart ini penikmat seni akan disuguhkan karya lukis yang murah tapi tidak murahan.
Kedepan Perawajati akan menggelar kegiatan serupa baik di Surabaya maupun kota-kota lainnya. Untuk itu Perwajati membuka pintu yang seluas-luasnya bagi rekan-rekan perupa wanita yang ingin mengembangkan diri dan bersosialisasi diranah Seni Rupa bisa bergabung, untuk turut bergerak bersama memajukan Seni Rupa di Jawa Timur, ungkap Muit Arsa Founder Perwajati. (Jup/Fks)
