
Jakarta, Wirafokus.com – Dunia seni rupa Indonesia berduka. Seniman lintas zaman Amrus Natalsya meninggal dunia di usia 91 tahun pada 31 Januari 2024 di Cibinong, Jawa Barat.
Kepergian Amrus Natalsya dibenarkan oleh putranya dari pernikahan dengan Sulastri, Dida Natalsya atau akrab disapa Jagoeng.
“Secara fisik Bapak sudah usia tapi beliau tetap saja berkarya. Bapak ada komplikasi juga, ada masalah di lambung sampai sudah berlobang,” ucap Jagoeng.
Awalnya, almarhum Amrus Natalsya dirawat di Sukabumi. Tapi jenazahnya sudah dimakamkan di TPU Kampung Sampora, Cibinong, Jawa Barat, siang ini (31/1/2024). “Teman-teman dari kalangan seniman sudah datang sejak semalam,” tambahnya.
Sepanjang karier sebagai seniman Amrun Natalsya merupakan sekiman yang konsisten dan punya semangat tinggi dalam berkarya. Dalam setiap zaman ketika era Orde Lama, Orde Baru hingga Reformasi, Amrus Natalsya tetap konsisten. Karya-karya nya bertemakan kritikan yang sarat dengan kondisi sosial-politik.
Semangat yang dimiliki Amrus Natalsya dalam. berkarya tidak kendor, ia selalu konsisten dari perubahan zaman ke zaman. Amrus Natalsya bisa diantar sebagai sosok pekerja seni tulen.
Setiap seniman yang pernah mengenal karya-karya anggota Sanggar Bumi Tarung, kata dia, punya ciri khas dan semangatnya masing-masing.
“Bapak masih tetap semangat dengan ceritanya sendiri dan tidak berubah. semangat berkarya itulah yang cukup meneladani kami. Mudah-mudahan semangat Bapak bisa tertular kepada seniman muda,” kata Jagoeng menceriakan Ikhwal Bapaknya.
Salah satu lukisan terakhir Amrus Natalsya lebih kepada simbol kebahagiaan keluarga.

Amrun Natalsya dalam karya terakhir nya menggunakan simbol-simbol yang memaknai perjalanan damai.
Amrus Natalsya lahir pada 21 Oktober 1993 di Medan, Sumatera Utara. Pada 1954, ia memulai pendidikan seni di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yang kini berganti nama menjadi Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. dan sepanjang kariernya dikenal dengan gaya unik yang menggabungkan teknik memahat sekaligus patung dengan elemen khas Batak.
Pada 1955, patung hasil karya pertama Amrus yang berjudul ‘Orang Buta yang Terlupakan’ dibeli oleh Presiden Soekarno ketika dipamerkan dalam “LUSTRUM Pertama Asri” di Sono Budoyo, Yogyakarta. Presiden Soekarno juga mengoleksi karya Amrus lainnya yang berjudul “Kawan-kawanku”.
Keterlibatan Amrus Natalsya di Sanggar Bumi Tarung membuatnya terafiliasi dengan PKI di masa tersebut. Dia menjadi tahanan politik pada periode 1968-1973. Setelah Reformasi di 1998, Amrus mendapatkan kebebasan kembali dan mulai aktif dalam berkarya.
Pada 2008, Amrus bersama dengan beberapa seniman yang sebelumnya aktif di Sanggar Bumi Tarung mengadakan Pameran Seni Rupa ke-2 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran ini menjadi momen penting dalam mengangkat kembali karya-karya mereka dan menunjukkan eksistensi mereka setelah melalui masa kesulitan. Selamat jalan sang Maestro seni lukis Indonesia, Amrus Natalsya karya mu tetap abadi dan dikenang sepanjang zaman. (Jup/Fks)
