
Dalam orasinya, peserta mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap berbagai persoalan bangsa, termasuk kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan yang dinilai telah menimbulkan penderitaan bagi masyarakat serta mengancam kelestarian ekosistem. Peserta juga menyerukan agar pemerintah lebih memperhatikan kepentingan rakyat dan melakukan evaluasi terhadap kebijakan selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Sejumlah kritik disampaikan melalui spanduk dan poster, antara lain tuntutan pemberantasan korupsi, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), penolakan terhadap kebijakan pajak yang dinilai membebani masyarakat, serta desakan reformasi kabinet. Peserta juga menyoroti persoalan kesejahteraan masyarakat, kebebasan berpendapat, dan perlindungan hak asasi manusia.
Melalui slogan seperti “Indonesia Sadar”, “Pemerintah Takut Sama Tulisan”, “Stop MBG”, dan “Melawan atau Tenggelam”, peserta mengajak masyarakat untuk tidak apatis terhadap kondisi bangsa serta turut mengawasi kebijakan pemerintah. Kritik juga disampaikan dengan sejumlah tulisan bernada keras yang ditujukan kepada pemerintah dan pejabat publik.
Selain menyampaikan aspirasi, peserta membuka lapak buku dan menyediakan dua kotak donasi berbasis barcode QR untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Kegiatan berlangsung hingga pukul 10.00 Wita dan ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka serta foto bersama. Aksi tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah sekaligus menggalang kepedulian masyarakat terhadap persoalan lingkungan. (AryA.N)
