
Perbedaan itu muncul dalam banyak cara. Ada yang berbicara tentang penguatan pesantren dan sanad keilmuan. Ada yang melihat pentingnya diplomasi internasional dan peran NU dalam percaturan global. Ada pula yang menaruh perhatian pada ekonomi warga, tata kelola organisasi, kaderisasi, serta posisi generasi muda di tengah perubahan teknologi. Masing-masing memiliki alasan dan pengalaman yang tidak selalu sama.
Di titik ini, Muktamar menjadi lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan. la menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pandangan tentang masa depan NU. Karena itu, terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai hasil kontestasi, melainkan sebagai awal dari babak baru.
Kontestasi pada akhirnya menghasilkan pemenang. Namun pekerjaan setelah kontestasi justru mungkin lebih rumit. Berbagai kelompok yang sebelumnya mengambil posisi perlu kembali menemukan titik temu. Energi yang sebelumnya digunakan untuk berkompetisi kemudian berhadapan dengan kebutuhan untuk membangun kebersamaan. Di sinilah persoalan kepemimpinan menjadi menarik untuk dibaca.
Perbedaan pandangan dalam NU sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Organisasi sebesar NU memang sulit berdiri dengan satu warna pemikiran. Warga NU datang dari latar sosial yang beragam. Sebagian tumbuh di pesantren, sebagian berada di kampus, birokrasi, dunia usaha, pertanian, dan berbagai komunitas masyarakat. Ada yang bergerak melalui jalur kultural dan ada pula yang bekerja dalam struktur organisasi.
Perbedaan generasi juga semakin terasa. Generasi yang lebih tua banyak dibentuk oleh tradisi kitab kuning dan kehidupan pesantren. Sementara generasi muda tumbuh bersama internet, media sosial, teknologi digital, dan berbagai sumber pengetahuan baru. Dua dunia tersebut tidak selalu berhadapan. tetapi juga tidak otomatis bertemu.
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana keragaman tersebut ditempatkan dalam satu rumah besar bernama NU.
Robert Greenleaf melalui gagasan servant leadership,mengatakan,” melihat kepemimpinan dari sisi pelayanan. Pemimpin tidak semata-mata ditempatkan sebagai pengendali organisasi, tetapi sebagai orang yang bersedia memikul tanggung jawab terhadap orang lain. Dalam tradisi pesantren, gagasan ini memiliki kedekatan dengan makna khidmah.,”jelasnya.
Jika demikian, kepemimpinan setelah Muktamar mungkin tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengatur struktur. la juga berkaitan dengan kemampuan membaca perbedaan, merawat hubungan, dan menemukan titik temu di antara berbagai kepentingan.
Pesantren dan Arah Perubahan NU
Ada pertanyaan sederhana yang menarik untuk terus diajukan ketika NU berbicara tentang masa depan. Dari mana sebenarnya NU berangkat?
Jawabannya tentu tidak bisa dilepaskan dari pesantren. Pesantren bukan hanya tempat berlangsungnya pendidikan keagamaan. Dari pesantren tumbuh sanad keilmuan, tradisi intelektual, adab, sekaligus basis kultural yang selama ini membentuk karakter NU. Karena itu, ketika NU berbicara tentang modernisasi, persoalannya bukan sekadar menerima atau menolak perubahan.
Yang lebih menarik adalah bagaimana tradisi dapat berdialog dengan perubahan.
Prinsip Al-Muhafazhatu ‘ala al-qadimis shalih wal-akhdzu bil-jadidil ashlah) memberi ruang untuk melihat persoalan tersebut secara lebih terbuka. Yang lama tidak selalu harus dipertahankan seluruhnya. Yang baru juga tidak otomatis lebih baik. Di antara keduanya terdapat proses memilih, menimbang, dan menyesuaikan.
Dalam konteks inilah kepemimpinan Gus Kikin dan jajaran PBNU 2026-2031 memiliki ruang yang cukup luas untuk mempertemukan tradisi dengan kebutuhan zaman. Modernisasi dapat berjalan tanpa harus menjauh dari pesantren. Sebaliknya, tradisi dapat tetap hidup tanpa harus menutup diri dari perubahan.
Ekonomi dan Kehidupan Warga
Pada akhirnya, pembicaraan mengenai NU akan kembali kepada kehidupan warga. Perdebatan tentang organisasi menjadi kurang berarti ketika petani masih kesulitan meningkatkan pendapatan, anak muda mencari pekerjaan, pesantren menghadapi persoalan kemandirian, dan UMKM warga nahdliyin sulit berkembang.
NU sebenarnya memiliki modal sosial yang besar. Jaringan pesantren, madrasah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, koperasi, badan usaha, komunitas profesional, dan jutaan warga merupakan kekuatan yang tidak kecil. Namun di antara besarnya modal sosial dan kekuatan ekonomi masih terdapat jarak.
Pertanyaannya bukan sekadar seberapa besar jaringan yang dimiliki NU, tetapi sejauh mana jaringan tersebut mampu memberi dampak terhadap kesejahteraan warga.
Di sinilah gagasan kemandirian ekonomi menjadi penting. Ekonomi tidak harus mengubah NU menjadi organisasi bisnis. la dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat khidmah dan memperbesar daya tawar masyarakat.
Mungkin karena itu, ukuran keberhasilan program NU ke depan tidak cukup berhenti pada jumlah kegiatan. Vang lebih penting adalah perubahan apa yang dirasakan warga setelah kegiatan tersebut selesai.
NU dan Panggung Peradaban
Dalam beberapa tahun terakhir, NU semakin sering hadir dalam percakapan nasional dan internasional. Islam Nusantara, perdamaian, demokrasi, toleransi, dan diplomasi agama telah membawa NU ke ruang global.
Perkembangan tersebut tentu membuka peluang. Namun ada pertanyaan lain yang layak diajukan. Apa yang sesungguhnya hendak dibawa NU ke ruang global?
Jawabannya mungkin tidak harus berupa gagasan yang sepenuhnya baru. Pengalaman NU dalam mempertemukan Islam, tradisi, kebangsaan, demokrasi, dan kehidupan masyarakat justru menjadi kekuatan yang memiliki nilai tersendiri.
Gagasan transformational leadership Bernard Bass dapat dibaca dalam konteks ini,”Kepemimpinan tidak berhenti pada pengelolaan organisasi, tetapi menyangkut kemampuan menggerakkan banyak orang menuju tujuan yang lebih luas,”dalam konteks Bernard Bass
Persoalannya kemudian kembali kepada dinamika internal. Seberapa banyak energi yang tersedia untuk membawa gagasan NU ke luar jika sebagian energi organisasi masih habis dalam perdebatan internal?
Pertanyaan tersebut mungkin tidak memiliki jawaban sederhana. Namun justru dari sanalah refleksi mengenai masa depan NU menjadi penting.
Generasi Muda dan Masa Depan NU
Generasi muda hampir selalu disebut ketika orang berbicara tentang masa depan NU. Tetapi persoalannya bukan sekadar bagaimana anak muda diberi ruang dalam struktur organisasi.
Generasi muda NU telah hidup dalam lingkungan yang berbeda. Mereka belajar dari media digital, komunitas, jurnal, podcast, teknologi, dan berbagai ruang pengetahuan yang sebelumnya tidak tersedia dalam bentuk seperti sekarang.
Mereka juga berhadapan dengan persoalan baru seperti kecerdasan buatan, ekonomi digital, kompetisi global, pekerjaan, dan perubahan pola otoritas keagamaan.
Karena itu, kaderisasi NU sedang berhadapan dengan kebutuhan untuk mempertemukan dua hal yang tampak berbeda. Di satu sisi terdapat penguasaan ilmu dan teknologi. Di sisi lain terdapat adab dan tradisi kepesantrenan.
Ronald Heifetz juga menyebut,” kemampuan menghadapi perubahan semacam ini sebagai adaptive leadership. Dalam konteks NU, gagasan tersebut menarik karena perubahan tidak selalu berarti meninggalkan identitas. Perubahan justru dapat menjadi cara untuk menjaga identitas tetap hidup dalam situasi yang berbeda,”jelasnya.
Setelah Muktamar
Terpilihnya Gus Kikin membuka babak baru dalam perjalanan PBNU 2026-2031. Namun hasil Muktamar tentu bukan akhir dari proses. Justru setelah keputusan diambil, berbagai perbedaan yang sebelumnya muncul dalam kontestasi mulai memasuki ruang yang lain.
Politik menang dan kalah pada akhirnya perlu menemukan bentuk baru dalam kehidupan jamiyah. NU bukan partai politik yang seluruh prosesnya berhenti setelah pemenang ditetapkan. Hubungan antarkader tetap berlangsung setelah Muktamar selesai.
Karena itu, kemenangan seorang kandidat dapat dibaca sebagai kemenangan organisasi ketika ia mampu membawa kembali berbagai kekuatan yang sebelumnya berbeda ke dalam satu kerja bersama. Begitu pula kekalahan tidak semestinya menjadi alasan untuk mengambil jarak dari jam’iyah.
Di titik inilah kepemimpinan akan menemukan ujian sebenarnya. Bukan ketika seseorang sedang memenangkan kontestasi, tetapi ketika ia harus berhadapan dengan mereka yang sebelumnya berbeda pilihan.
PBNU 2026-2031 memiliki berbagai modal untuk membangun babak tersebut. Pesantren menyediakan akar keilmuan dan kultural. Kekuatan ekonomi dapat menjadi penopang kemandirian warga. Diplomasi membuka ruang bagi NU untuk berbicara lebih jauh di tingkat dunia. Sementara generasi muda membawa energi baru untuk menghadapi perubahan.
Keempatnya sebenarnya tidak harus dipertentangkan. Tradisi dan modernitas dapat saling berdialog. Pesantren dan teknologi dapat berjalan bersama. Akar rumput dan panggung global dapat saling menguatkan. Khidmah dan profesionalisme juga tidak harus dipisahkan.
Barangkali di situlah makna kepemimpinan integratif menjadi relevan. NU tidak sedang mencari satu pilihan yang harus mengalahkan pilihan lainnya. NU sedang mencari cara agar berbagai kekuatan yang dimilikinya dapat bergerak dalam satu arah tanpa kehilangan keragamannya.
Pertarungan wacana menjelang Muktamar telah menjadi bagian dari perjalanan organisasi. Kini pertanyaan yang tersisa bukan lagi siapa yang paling kuat dalam perdebatan, melainkan apa yang dapat dikerjakan setelah perdebatan itu selesai.
Waktu akan menjadi penguji yang paling adil. la akan memperlihatkan apakah energi Muktamar berhenti sebagai cerita tentang kontestasi atau berubah menjadi kerja nyata bagi jam’iyah dan warga nahdliyin. Di situlah kepemimpinan PBNU 2026-2031 menemukan maknanya. (Fks/Red)
