
Menurut Achmad, kebijakan tersebut seharusnya dibahas lebih dahulu bersama para pemangku kepentingan, termasuk ESI sebagai organisasi resmi yang menaungi cabang olahraga esport di Indonesia. Dengan demikian, konsep ekstrakurikuler dapat dirancang secara matang, memperhatikan aspek pendidikan, pembinaan karakter, serta perlindungan terhadap anak.
“Kami sebagai pegiat olahraga esport tentu sangat menyayangkan keputusan tersebut. Seharusnya ESI diajak duduk bersama terlebih dahulu untuk menyusun konsep pembinaan esport yang ramah anak dan sesuai dengan dunia pendidikan,” ujar Achmad, Rabu (29/7).
Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya itu menilai keberadaan ekstrakurikuler esport justru dapat menjadi wadah yang positif bagi pelajar untuk menyalurkan bakat dan minat di bidang gim kompetitif secara lebih terarah.
Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi telah membuat anak-anak semakin mudah mengakses berbagai permainan digital. Karena itu, pendekatan yang tepat bukan dengan melarang, melainkan mengatur serta memberikan pembinaan yang benar.
“Perkembangan gim tidak mungkin kita hindari. Yang perlu dilakukan adalah mengakomodasi potensi tersebut agar menjadi sarana meraih prestasi, dengan pengaturan waktu bermain yang sehat dan bermanfaat bagi siswa,” katanya.
Achmad menjelaskan, melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, pengawasan terhadap aktivitas bermain gim dapat dilakukan secara lebih efektif. Orang tua dan guru dapat bekerja sama mengatur durasi bermain sehingga tidak mengganggu kewajiban belajar maupun aktivitas lainnya.
Menurutnya, pembina ekstrakurikuler yang berasal dari atlet maupun pengurus ESI juga akan dibekali pemahaman mengenai pembinaan esport yang sehat. Dengan demikian, siswa tidak hanya diasah kemampuan kompetitifnya, tetapi juga dibimbing agar disiplin dalam mengatur waktu.
Selain mendukung pembinaan atlet usia dini, Achmad menilai program ekstrakurikuler esport juga memiliki dampak ekonomi. Ia menyebut program tersebut berpotensi membuka peluang kerja baru bagi mantan atlet maupun pelatih esport di Surabaya sebagai tenaga pembina di sekolah.
“Dengan adanya ekskul esport, mantan atlet maupun pelatih memiliki peluang untuk berkontribusi di dunia pendidikan sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru di sektor informal,” ujarnya.
Achmad juga mengungkapkan bahwa minat masyarakat Surabaya terhadap olahraga esport terus mengalami peningkatan. Hal itu tercermin dari tingginya jumlah peserta dalam berbagai turnamen yang diselenggarakan ESI Kota Surabaya, termasuk ajang Piala Wali Kota Surabaya.
“Antusiasme peserta pada setiap turnamen sangat tinggi. Ini membuktikan bahwa esport memiliki potensi besar untuk berkembang apabila dibina dengan konsep yang tepat,” pungkasnya. (dra)
