
Surabaya, Wirafokus.com – Lukis abstrak selama ini masih dianggap sebelah mata. Tak banyak perupa yang benari menggeluti lukisan abstrak secara intens. Pasar seni lukis abstrak dianggap kurang menjanjikan dibanding lukisan lainnya, lukisan naturalis, impresionis dan realisme dirasa Namun akhir-akhir ini dunia digoncang lukisan abstrak hingga boming.
Hasil karya seni yang tidak merepresentasikan suatu obyek di dunia nyata. Hal ini bisa disebut seni abstrak. Dibandingkan jenis lainnya, seni abstrak cenderung lebih unik dan memiliki ciri tersendiri. Mengutip dari buku Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas: Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa (2004), sejarah perkembangan seni abstrak bermula dari Barat. Diperkirakan seni abstrak mulai dikenal di abad ke-19 di Eropa.
Kemudian pada awal abad ke-20, seni ini mulai berkembang cukup pesat di Amerika Serikat. Pada awal kemunculannya, seni abstrak berhasil memunculkan aliran seni baru di Barat, yang mana sebelumnya selalu berkutat pada aliran rasionalisme, empirisme, materialisme serta realisme.
Unsur dan Jenis Seni Rupa
Setelah seni abstrak makin dikenal, beberapa pelukis mulai beralih ke jenis seni ini. Para pelukis mulai merepresentasikan obyek nyata ke seni abstrak dengan mengutamakan warna simbolik dibanding warna alami.
Saat beralih ke seni abstrak, para pelukis di era itu mulai mengabaikan tiruan kenyataan atau obyek nyata alam dan lebih memilih membuat isyarat obyek tersebut. Para pelukis juga lebih mengutamakan gagasan mereka tentang karya seni yang akan dibuat, dibanding observasi.
Puluhan tahun lukisan abstrak bisa dibilang menjalani masanya, namun kini lukisan abstrak menemukan masanya. Lukisan abstrak menjadi buruan para kolektor dunia bahkan karya abstrak Jakson Pollock pelukis asal Amerika kini bisa disejajarkan dengan karya maestro dunia seperti Vincen Van Goht, Leonardo Da Vince maupun Pablo Picasso.
Menurut Dr. Mikke Susanto, kurator dan dosen ISI Yogyakarta, seni abstrak merupakan sebagai ciptaan seni yang mengandung unsur garis, bentuk dan warna yang sifatnya bebas atau tidak terikat dengan bentuk alam.
Dalam seni abstrak, bentuk nyata alam tidak menjadi fokus pembuatan obyek utamanya. Jikalaupun menggunakan bentuk nyata alam, biasanya hanya dijadikan motif dasar untuk membentuk karya seni. abstraksi atau bentuk penyederhanaan dari realitas. Di mana bagian yang paling kecil dihilingkan dari objek tersebut dan dapat dikenali dengan hanya menyisakan esensi dari objek itu saja maupun beberapa derajat bentuk yang dapat dikenali oleh mata.

Di Indonesia tidak banyak pelukis yang menggeluti lukisan abstrak. Satu diantara Pelukis abstrak Indonesia yang intens menggarap lukisan abstrak. Herry Kiswanto (60) pelukis kelahiran Sidoarjo yang kini tinggal di Bau-Bau Sulawesi Tenggara sejak 1996. Selama setahun tinggal di Ubud Bali, Herry panggilan akrab nya Herry Kiswanto sempat melanjutkan kuliahnya di STIBA Surabaya atas saran kawan sekatnya dari Austria. Herry melukis sejak kecil, pada usia remaja ia bekerja di perusahaan Nestle mulai tahun 1982 hingga 1992. Setelah ia keluar dari karyawan Nestle, Herry menekuni dunia nya sebagai pelukis profesional.
Herry mengembangkan figuratif abstrak sejak 1997 secara kontinyu ia kerjakan dan kini dikembangkan karya figuratif abstrak nya dengan tehnik drowing terdapat figur dan topeng dan garis secara leluasa. Namun Heri juga melukis kolase dari limbah kain tenun buton, pasir putih, dan kulit telor (mix media).
“Saya ini pokok nya melukis dengan nurani saya, sekarang saya kembangkan dengan drowing abstrak dan kolase,” ungkap Herry saat dihubungi via selular (6/2/2024).
Lukisan figuratif abstak Herry terlihat menggunakan garis, bentuk, simbol dan pewarnaan yang begitu tajam, mencolok. Namun ia melukis dengan sentuhan halus seakan terkesan lukisan sufisme. Sebanyak 30 karya figuratif abstrak telah terkumpul dan 50 karya drowing nya. Herry berencana untuk memamerkan karya nya di Surabaya pada tahun 2024.
Selama ini Herry memang jarang untuk berpameran karena ia terus berproses dengan karya figuratif abstrak nya. Terhitung 3 kali pameran yang diikutinya antara lain paneran PBSR (Pameran Besar Seni Rupa) tahun 2014, 2015 dan 2016. Heri mewakili Sulawesi Tenggara. Pameran diadakan di Papua, Bandung dan Manado. Herry pernah mengadakan pameran tunggal di Taman Budaya Sulawesi Tenggara th.2015 dan pada Desember 2023 bersama kawan perupa. Herry menggelar pameran di Dewan Kesenian Sidoarjo bertema Beyond Art bersama Altak Ifada Amdo Brada, Fauzan Ja’far, Herry Kiswanto, Karyono, M. Taufiq dan Okit.
Herry mengungkapkan selama di Bau – Bau Sulawesi Tenggara Herry sangat menyangkan perkembangan seni rupa seakan mati suri. “Saya merasa selama ini di Bau-Bau kurang aktif bahkan dibilang mati suri untuk pertumbuhan seni rupa,” pungkas Herry mengakhiri obrolan nya. (Jup/Fks)
