― Advertisement ―

Materi itu Sedang Dijawab Oleh Mahasiswa

Oleh: Gus Bahar Halim Mahfudz ​Ada satu pemandangan yang amat karib sekaligus merisaukan dalam lanskap kehidupan modern belakangan ini. Di berbagai pelosok penjuru dunia, gelombang...
BerandaPeristiwaMateri itu Sedang Dijawab Oleh Mahasiswa

Materi itu Sedang Dijawab Oleh Mahasiswa

Gus Bahar Halim Mahfudz
Oleh: Gus Bahar Halim Mahfudz

​Ada satu pemandangan yang amat karib sekaligus merisaukan dalam lanskap kehidupan modern belakangan ini. Di berbagai pelosok penjuru dunia, gelombang ketegangan sosial, gerakan kebudayaan, hingga demonstrasi mahasiswa terus meletus silih berganti. Banyak pengamat ekonomi dan pakar politik tergesa-gesa menyimpulkan bahwa pusaran gelombang protes tersebut dipicu semata-mata oleh kegagalan regulasi publik, ketimpangan distribusi pendapatan, atau instabilitas konstelasi politik global. Padahal, jika kita bersedia menarik benang merahnya secara jernih hingga ke dasar akar permasalahannya, kerapuhan struktural ini sebenarnya bersumber dari satu pergeseran spiritual yang sangat sunyi: hilangnya mental untuk memberi dan membagi manfaat kepada sesama.

​Al-Qur’an melalui Surah Ali ‘Imran ayat 134 jauh-jauh hari telah menyiratkan bahwa ketahanan sebuah tatanan masyarakat sejati dibangun di atas daya tumpu dari individu-individu al-ladzīna yunfiqūna fis-sarrā’i wad-darrā’i—orang-orang yang senantiasa tergerak menginfakkan potensi dirinya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Bukan hanya materi namun juga tenaga, ilmu, dan doa. Maka, ketika suatu peradaban mendadak bergeser dari asas ketulusan kontribusi (how to serve) menuju dahaga akumulasi pribadi (how to take), tali rekat kesadaran kolektif dipastikan runtuh seketika, dan kita sedang menyaksikan ini. Manusia tidak lagi memandang sesamanya sebagai saudara dalam kemanusiaan, melainkan sekadar kompetitor bebas dalam gelanggang perburuan materi yang ganas. Ketidakpedulian ini pada akhirnya menumpuk kekecewaan tersembunyi hingga meledak menjadi kemarahan massa di ruang-ruang publik.

​Ironisnya, benteng-benteng pertahanan peradaban yang seharusnya paling tangguh merawat kompas moral ini—seperti lembaga pendidikan, kampus, hingga kalangan pendidik dan kiai—justru rentan ikut terseret ke dalam pusaran arus utama yang serba transaksional. Sekolah dan pesantren kerap kali tidak lagi menjadi laboratorium batin untuk mengenali sunatullah sosial, melainkan bergeser menjadi korporasi jasa yang sibuk dengan perburuan akreditasi, kalkulasi komersial, dan formalitas simbol-simbol artifisial. Ketika ruang-ruang pengajaran kehilangan kejujuran batinnya, masyarakat kehilangan panutan moral yang memiliki kebebasan batin untuk menegur ketimpangan.

​Ketika Teknologi dan Pendidikan Kehilangan Arah

​Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat hadis menegaskan bahwa dunia ini pada hakikatnya merupakan sijnul mu’min—penjara bagi orang-orang yang beriman. Sabda ini tentu bukan sebuah ajakan pasif untuk membenci kemajuan peradaban atau mengasingkan diri dari dunia fisik. Sebaliknya, hadis tersebut menyiratkan satu pengingat yang amat mendasar mengenai pentingnya kerangka kendali moral. Dunia dengan segala pesona kemilau, ambisi kekuasaan, dan kemudahan fasilitasnya senantiasa memiliki daya sedot luar biasa yang dengan amat mudah sanggup memperbudak akal sehat serta memuaskan hawa nafsu manusia jika tidak dibatasi oleh rem keimanan.

​Hari ini, paradoks tersebut tepercik sangat nyata pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Alih-alih murni difungsikan sebagai alat bantu untuk menyelesaikan rintangan perkembangan kemanusiaan, perkembangan teknologi hari ini kerap dirancang hanya untuk melayani kepentingan kapitalisme dan mengeruk keuntungan material sebesar-besarnya. Algoritma media sosial dan ekosistem digital tidak dirancang untuk memajukan kedalaman daya pikir, melainkan justru sengaja merawat hawa nafsu agar terus membara: memupuk ketergantungan psikologis, merangsang sifat iri hati melalui pamer kemewahan, mereduksi bobot empati, hingga mengasingkan manusia dari kehangatan hubungan sosial di sekitarnya.

​Kerusakan orientasi ini mencapai titik paling krisis ketika memasuki ruang-ruang pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menjadi sarana penyucian jiwa dan pencerdasan akal budi kini direduksi sekadar menjadi mesin pabrikasi tenaga kerja yang kering dari kesadaran batin. Angka-angka statistik, megahnya konstruksi fisik, serta akumulasi gelar akademis kini dijadikan tolok ukur tunggal keberhasilan. Padahal, Al-Qur’an dalam Surah Al-Zalzalah ayat 7-8 telah menetapkan standar nilai yang amat tegas: fa may ya’mal miṡqāla żarratin khairan yarah. Keberhasilan sejati dan balasan yang dilipatgandakan oleh Allah senantiasa dihitung berdasarkan kualitas amalan kebajikan sekecil zarrah (khairan), bukan berdasarkan jumlah akumulasi kekayaan materi (mālan).

​Ketika pendidik terjebak pada capaian material semata, mereka mengalami kebingungan masif untuk membaca fenomena sosial yang sesungguhnya terjadi di sekitar mereka. Kesadaran untuk melihat penderitaan orang lain tertutup oleh kepentingan sepihak.

​Menghidupkan Kembali Kesadaran Lahir dan Batin

​Untuk menyelamatkan peradaban yang sedang mengalami disorientasi nilai ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan mengembalikan landasan pengajaran pada dua lapis kesadaran yang terintegrasi utuh: kesadaran lahiriah (ẓāhir) dan kesadaran batiniah (bāṭin).

​Kesadaran lahiriah merupakan ketajaman mata dan pikiran seorang pendidik dalam memandang murid serta fenomena sosialnya secara jernih dan peka. Pengajaran tidak boleh didasari oleh kepentingan sepihak, baik demi mengejar reputasi institusi maupun keuntungan materiil semata. Guru dan kiai yang memiliki kesadaran lahiriah akan senantiasa hadir secara utuh untuk memahami pergumulan batin murid-muridnya, membaca ketimpangan di sekelilingnya, serta memberikan bantuan konkret tanpa memicu motif-motif tersembunyi.

​Sementara itu, kesadaran batiniah adalah penataan struktur niat yang menghadirkan manifestasi sifat kasih sayang Allah (Ar-Rahman) dalam melihat setiap fenomena kehidupan. Sifat Rahman menuntut lahirnya kepedulian yang murni dan inklusif—sebuah dorongan mendidik dan berbuat kebajikan yang terbebas dari pamrih balasan manusia. Seluruh daya upaya, peluh keringat, dan dedikasi pengajaran disambungkan secara langsung dengan keikhlasan niat untuk memetik ridha Allah semata, tanpa sedikit pun terkontaminasi oleh perburuan materi atau ambisi duniawi yang memperbudak jiwa.

​Melalui lensa inilah kita dapat membaca dengan optimis gerakan mahasiswa yang terus bersuara di ruang-ruang publik saat ini. Ketika sebagian dari mereka menolak diposisikan sekadar sebagai konsumen pendidikan, mempertanyakan ketidakadilan tatanan yang ada, serta memilih untuk kembali turun ke akar rumput membersamai masyarakat yang tergusur, sesungguhnya materi sedang dijawab secara nyata oleh mereka. Mahasiswa sedang membuktikan bahwa martabat kemanusiaan tidak dapat dibeli dengan tumpukan ijazah yang kering dari empati. Peradaban yang lebih mulia tidak akan pernah dibangun di atas fondasi teknologi yang memupuk hawa nafsu, melainkan melalui ketulusan tangan-tangan yang merawat sesama—meski seberat zarrah sekalipun. (Red)