― Advertisement ―

Jalin Tali Silaturahmi Madas Sedarah PAC Dukuh Pakis Gelar Acara Rutinan

Surabaya,Wirafokus.com - Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama serta penguatan internal Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Madas PAC Dukuh Pakis Surabaya kembali melaksanakan kegiatan...
BerandaPolitik dan PemerintahanKoalisi Butuh Fighter Untuk Merebut Jatim

Koalisi Butuh Fighter Untuk Merebut Jatim

SURABAYA, wirafokus.com-TARIK ULUR soal bakal calon gubernur Jawa Timur dari poros tengah, tampaknya bukan karena politik makro. Situasi yang tak menentu itu lebih disebabkan karena politik prakmatis yang ada di internal Gerindra, PAN. dan PKS.

Menurut tokoh dan lokomotif reformasi, Prof. Dr. Amien Rais, hal ini terjadi karena tidak adanya komitmen dari masing-masing elit partai. “Jam terbang saya di dunia politik yang seperti ini, jauh lebih tinggi dari mereka semua, ” katanya Rabu (27/12) di kediamannya.

Amien Rais melanjutkan, langkah yang seharusnya mudah dan sederhana, jadi berliku karena semuanya melanggar fatsun berpolitik. “Jelas mereka (Gus Ipul dan Khofifah) sudah merepresentasikan penguasa, lha Gerindra, PAN, dan PKS yang ingin berkoalisi di 2019, harusnya punya pilihan berbeda!” lanjut mantan ketua umum PP Muhammadiyah. “Jadi, apa sulitnya?” katanya lagi setengah bertanya.

Mereka butuh fighter
Masih menurut Pak Amien, jika Prabowo sungguh-sungguh mau maju di pilpres nanti, maka koalisi ini harus menentukan calon gubernurnya seorang _figther_. “Kalau pakai istilah dunia tinju, kita membutuhkan orang-orang seperti Mike Tyson atau Gennadi Golovkin,” tutur pendiri dan mantan ketua umum PAN yang juga pecinta olahraga tinju itu.

“Itu kalau Pak Prabowo serius untuk nyapres!” tambahnya.

Jawa Timur, tukas Pak Amien, koalisi membutuhkan La Nyalla Mattalitti. “Saya lihat, dia adalah seorang _figther_. Dan Jatim itu adalah Indonesia mini ke-3 setelah Jakarta.”

LNM, begitu La Nyalla biasa disapa, sesungguhnya pendukung utama Prabowo saat 2009 & 2014. Begitu totalnya LNM, ia akhirnya sempat ‘dijadikan musuh’ oleh penguasa saat ini. Jabatannya di kursi Ketum PSSI dikudeta dan LNM pun dibui selama tujuh bulan untuk kasus korupsi yang akhirnya tidak terbukti. LNM menang hingga ke tingkat Mahkamah Agung.

Menurut info dari kalangan tertentu (maaf tidak bisa dituliskan), LNM adalah representasi perlawanan bagi penguasa. Untuk itu, apa pun yang dilakukan LNM, pasti mendapat hambatan. Termasuk untuk maju di pilkada Jatim.

“Jadi, jika Pak Prabowo mau nyapres, maka Jatim harus direbut.” tambah Pak Amien. “Soal kalah atau menang, itu hak Sang Khalik. Tapi, jika kita ingin bermartabat, maka kita harus punya pilihan sendiri bukan mengekor!”

Bukan Asal Cagub
Meski demikian, tentu saja koalisi Gerindra,PAN, dan PKS jangan asal menentukan bacagub. Seperti kata lokomotif reformasi itu, koalisi membutuhkan seorang petarung. Dan jangan merasa kalah sebelum bertarung.

Ketum PAN, Zulkifli Hasan, sebelum resmi berkoalisi lanjutan Pilkada DKI, sempat mengatakan: “Tidak ada yang berani melawan Gus Ipul dan Khofifah!”
Sungguh, pernyataan itu pastilah kekhilafan belaka.

ZH, mantan Mentri Kehutanan di era SBY periode kedua, adalah mantan ketum olahraga beladiri lokal Tarubg Drajat. Kita ketahui, cabor yang sebelumnya bernama Boxer itu, merupakan cabor yang tak kenal menyerah. Cabor TD itu merupakan cabor beladiri yang keras. Para atletnya sama sekali tidak mengenal rasa takut dan fisik serta mental mereja begitu luar biasa. Untuk itu ZH pastilah memiliki jiwa dan mental yang sekokoh cabor TD.

Prabowo sendiri juga dikenal sebagai sosok yang berani. Berjiwa serta mental yang luar biasa. Kita juga tahu, Prabowo adalah ketum IPSI (Silat) yang atletnya pun sangat ulet.

Jika ketiganya disandingkan, maka kekuatan nyata ada di hadapan. Apalagi ada Amien Rais satu-satunya tokoh yang masih enggan ditemui penguasa. Selain itu, para tokoh Islam 212 sudah jelas mengatakan akan berada di depan partai yang tidak tetgolong pada partai penista agama.

LNM sendiri seperti menurut sumber khusus, sudah mendapat dukungan dari Habib Rizieq Shihab sang ulama besar yang menjadi pimpinan pergerakan islam 212. Maka, jika koalisi partai yang bukan penista agama ini benar-benar mau menang, maka pilihannya hanya satu LNM.

“Saya sudah beberapa kali menegaskan pada Pak Prabowo dan Pak Zul, bahwa pilihan saya ke Pak Nyalla tidak keliru!” tegas Amien Rais.
Kita tunggu saja! (red/kj)