― Advertisement ―

Bukan Sekadar Ngopi, Cangkrukan ANTRAK dan Bakesbangpol Lumajang Jadi Momentum Perkuat Perang Melawan Narkoba

LUMAJANG,wirafokus.com- Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai pertemuan silaturahmi Tim Lembaga Anti Narkotika dan Rehabilitasi Narkoba (ANTRAK) bersama perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol)...
BerandaPeristiwaMachmud: Kebakaran TPA Benowo Jadi Momentum Benahi Sistem Pengelolaan Sampah Surabaya

Machmud: Kebakaran TPA Benowo Jadi Momentum Benahi Sistem Pengelolaan Sampah Surabaya

Mochammad Machmud. (Foto: Andra Jatmiko/wirafokus.com)
Surabaya, wirafokus.com- Kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo menjadi momentum evaluasi terhadap sistem pengelolaan sampah di Kota Surabaya. Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya Mochammad Machmud menilai peristiwa tersebut harus menjadi bahan introspeksi menjelang berakhirnya kerja sama Pemerintah Kota Surabaya dengan PT Sumber Organik (SO).

Ditemui di ruang Komisi B DPRD Surabaya, Rabu (22/7), Machmud mengatakan bahwa pengelolaan sampah ke depan diharapkan lebih modern dan profesional seiring rencana keterlibatan Danantara bersama mitra strategisnya dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi.

“Kerja sama dengan PT Sumber Organik akan segera berakhir. Sekarang proses pembebasan lahan juga sudah berjalan. Harapan kami, ketika nanti ditangani Danantara bersama mitranya, akan terjadi penghematan anggaran APBD yang cukup besar sekaligus peningkatan kualitas pengelolaan sampah,” ujar Machmud.

Menurutnya, pengelolaan baru harus mampu menghilangkan persoalan klasik yang selama ini terjadi di TPA Benowo, mulai dari penumpukan gunungan sampah, pencemaran lingkungan, hingga gangguan asap dan bau yang kerap dikeluhkan masyarakat.

Machmud menilai konsep pengelolaan sampah yang hanya memindahkan atau membolak-balik timbunan sampah sudah tidak relevan. Ia berharap fasilitas baru nantinya benar-benar menerapkan teknologi ramah lingkungan.

“Kalau nanti menjadi tempat pengolahan sampah Surabaya Raya, tentu harus dikelola secara profesional. Jangan sampai masih muncul gunungan sampah seperti sekarang. Tidak boleh ada pencemaran lingkungan, bau menyengat, maupun asap yang mengganggu masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti besarnya anggaran yang selama ini dikeluarkan Pemkot Surabaya untuk pengelolaan sampah. Menurut Machmud, skema pembayaran kepada operator dinilai lebih menguntungkan pihak pengelola dibanding pemerintah daerah.

“Pemkot tetap membayar minimal 1.000 ton meskipun volume sampah yang masuk di bawah angka tersebut. Kalau lebih dari 1.000 ton ya dibayar sesuai jumlahnya. Skema seperti ini tentu lebih menguntungkan pengusahanya,” katanya.

Selain persoalan biaya, Machmud mengingatkan lokasi TPA Benowo berada tidak jauh dari sejumlah fasilitas publik, termasuk kawasan yang sering menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan berskala nasional. Karena itu, ia meminta pengelolaan baru benar-benar memperhatikan dampak lingkungan.

Ia menjelaskan, keberadaan TPA Benowo sendiri merupakan solusi yang diambil setelah TPA Keputih ditutup akibat penolakan warga pada masa lalu.

“Awalnya memang karena keadaan darurat setelah Keputih ditutup. Sejak awal sudah menyimpan persoalan, sehingga sampai sekarang berbagai masalah terus muncul, mulai dari lindi, pencemaran udara, hingga beban APBD yang sangat besar,” ungkapnya.

Machmud berharap proyek pengolahan sampah berbasis pembangkit listrik yang akan dikembangkan nantinya mampu menjadi solusi jangka panjang, tidak hanya bagi Surabaya, tetapi juga kawasan aglomerasi Surabaya Raya yang mencakup Gresik dan Sidoarjo.

Menurut informasi yang diterimanya, lahan baru yang disiapkan memiliki luas kurang lebih sekitar empat hektare dan proses pembebasan lahan sebagian besar telah selesai.

“Harapannya nanti pengelolaan dilakukan lebih profesional sehingga seluruh persoalan sampah bisa teratasi. Sampah tidak lagi menumpuk di jalan, pencemaran lingkungan bisa ditekan, dan pelayanan kepada masyarakat menjadi jauh lebih baik,” pungkas Machmud. (dra)