
Sidoarjo, Wirafokus.com – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1445 H ( tahun 2024 ) Megengan merupakan tradisi yang harus dilestarikan oleh masyarakat Jawa, tradisi ini biasanya dilakukan dengan membaca zikir, sholawat dan diakhiri dengan makan bersama.
Tradisi megengan tersebut juga dilaksanakan oleh para guru, staf, dan juga karyawan SDN Kedungturi Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo. Acara yang dilaksanakan pada hari Kamis (07/04/2024), di sekolahan dihadiri juga Kepala Sekolah SDN Kedungturi.
Kepala SDN Kedungturi Mohamad Fauzan. S.pd mengatakan bahwa tradisi megengan menjelang Ramadhan rutin dilakukan, adapun tujuannya adalah mengajak keluarga besar baik guru siswa staf dan karyawan SDN Kedungturi memahami tradisi megengan,yang artinya menahan sebagaimana makna puasa Ramadan. Menahan lapar mulai terbitnya fajar hingga matahari terbenam.
’’Tradisi ini sebagai tanda akan datangnya Ramadan. Selain itu, mengenalkan tradisi kepada anak-anak,’’ kata Mohamad Fauzan
Mohamad Fauzan juga berharap kegiatan ini, bisa eksis dilakukan setiap tahun bahkan untuk tahun tahun yang akan datang saya harap bisa ditingkatkan lagi agar lebih bermanfaat bagi siswanya dan lingkungan sekitar sekolah.
Sementara itu Nur cholifah, S.Ag, selaku koordinator acara menjelaskan bahwa tradisi megengan menjelang Ramadhan juga bertujuan memberikan semangat baru agar saat bulan puasa nanti lebih taat beribadah
“Tradisi megengan di SDN Kedungturi terlaksana atas inisiatif dan motivasi dari para guru dan mendapat support dan dukungan penuh dari kepala sekolah,” kata Nur cholifah yang juga sebagai guru agama di SDN Kedungturi.
Nur cholifah juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan bertujuan memberikan contoh dan tauladan kepada para siswanya agar aktif beribadah, serta dapat mewariskan tradisi megengan sejak dini kepada anak didiknya.
Acara tradisi megengan yang dilaksanakan oleh SDN Kedungturi selain menyajikan makanan juga membagikan makanan kepada tetangga sekitar serta menggelar doa bersama yang ditujukan kepada akhli kuburnya masing masing. (Why/Bry)
