Ditreskrimsus Polda Jatim Bekuk Mahasiswa Pemalsu Hasil Rapid Test

35
Dirreskrimsus Polda Jatim dan Kabid Humas Polda Jatim saat menunjukan barang bukti yang berhasil diamankan

Surabaya, Wirafokus.com – Tim Cyber Ditreskrimsus Polda jatim berhasil menangkap tersangka pemalsuan dan manipulasi data tentang hasil rapid test antigen tanpa dilakukan pemerikasaan medis.

Dalam pengungkapan tersebut berhasil diamankan seorang tersangka laki- laki inisial IMB (24) warga Jember.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko menjelaskan bahwa tersangka masih berstatus sebagai mahasiswa dan Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Desa Krajan Kelurahan Jombang, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember

“Tersangka ditangkap pada Sabtu, (9/1/21) dan pengungkapan ini berawal adanya informasi dari masyarakat tentang adanya jual beli surat hasil rapid test antigen di daerah Jember, perbuatan tersebut dilakukan oleh tersangka sejak awal bulan Desember 2020, sebelumnya pelaku pernah menjadi petugas Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) saat Pilkada serentak pada Desember 2020,” kata Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Farman, di Balai Wartawan Polda Jatim, Senin, (11/1/21).

Farman juga menambahkan bahwa pada saat pelaksanaan Pilkada ada persyaratan bahwa pengawasnya harus ada bukti bebas covid, ternyata pada saat pelaksaanaan itu ada 27 orang pengawas terindikasi reaktif positif kemudian oleh tersangka dibuatkan 24 lembar rapid test antigen tanpa pemeriksaan medis dengan harga Rp 50.000/ lembar

Tersangka IMB

“Setelah pelaksanaan Pilkada perbuatan tersangka untuk menawarkan bukti hasil rapid test antigen dilakukan melalui medsos(facebook) dengan harga Rp 200.000/ lembar dengan mengatas namakan Klinik Nurus Syifa, dan tersangka berhasil menjual sebanyak 20 lembar bukti hasil rapid test antigen untuk kepentingan perjalanan darat dan laut,” pungkasnya.

Dari pengungkapan tersebut bethasil diamankan 1 buah laptop, 1 buah handphone dan beberapa sampel dari hasil replikasi antigen tanpa pemeriksaan medis.

Atas perbuatannya tersangka akan dijerat dengan pasal 51 Jo pasal 35 UU ITE dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara, dengan denda 12 Milyard, Jo pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. (red/ Why)