Warga Plemahan: Bu Risma Jangan Kampanye Terus, Kami Rindu Ibu Seperti yang Dulu

14
Martha dan surat ajakan dari Risma untuk mencoblos salah satu paslon di Pilwali Surabaya.

Surabaya, wirafokus.com- Saymatu Martha bahagia Rabu (2/12/2020) pagi lalu. Ia mendapatkan surat dari ”Pemkot Surabaya”. Sejak menjadi warga Surabaya pada 1998, baru sekali ini ia mendapatkan surat langsung dari pemkot. Ke alamat rumahnya di kawasan padat penduduk, Plemahan, Kelurahan Kedungdoro.

”Saya senang, apalagi surat itu saya pikir isinya kenaikan BLT,” kata Martha saat ditemui di rumahnya yang terletak di gang sempit.

”Apalagi, dalam empat bulan terakhir, BLT hanya Rp 300 ribu, padahal empat bulan sebelumnya Rp 600 ribu,” lanjutnya.

BLT yang dimaksud Martha adalah bantuan langsung tunai bersamaan dengan pandemi Covid-19. Bantuan Rp 600 ribu sangat membantunya, karena suaminya yang asli Surabaya bekerja serabutan. Penghasilan tidak tetap.

”Sayang, empat bulan terakhir nilainya turun Rp 300 ribu, kami menunggu nilainya kembali Rp 600 ribu, lumayan,” ucapnya.

Namun, begitu membuka amplop surat berwarna coklat, Martha kecewa. Isi surat itu adalah ajakan mencoblos pasangan Eri Cahyadi-Armuji dalam pilwali 9 Desember nanti. Ia juga baru sadar, kalau surat yang ia terima dari Wali Kota Tri Rismaharini pribadi.

”Kenapa Bu Risma begitu sibuk kampanye. Kenapa gak fokus urusi warga seperti kami yang kesusahan,” kata Martha. ”Kami rindu Bu Risma yang dulu, yang menomorsatukan warganya, bukan Bu Risma yang sibuk kampanye seperti ini,” lanjutnya.

Martha adalah perempuan kelahiran Ambon. Ia pindah ke Surabaya pada 1998 ketika di tanah kelahirannya meletus kerusuhan. Dia kemudian mendapatkan jodoh orang Surabaya, Arek Plemahan.

Sejak pindah ke Surabaya 1998, ia tidak pernah pulang ke Ambon lagi. Dia sudah ber-KTP Surabaya.

Karena sudah puluhan tahun di Surabaya, Martha pun bisa merasakan perubahan sikap Risma. Dari kali pertama menjabat pada 2010, sampai di ujung masa jabatan seperti saat ini.

”Bu Risma, mohon biarkan warga Surabaya memilih sesuai hati nurani. Jangan paksakan kami memilih pasangan Eri-Armuji. Surat itu seperti ancaman saja buat kami, warga kecil ini,” tutup Martha. (bam)