― Advertisement ―

Jalin Tali Silaturahmi Madas Sedarah PAC Dukuh Pakis Gelar Acara Rutinan

Surabaya,Wirafokus.com - Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama serta penguatan internal Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Madas PAC Dukuh Pakis Surabaya kembali melaksanakan kegiatan...
BerandaPolitik dan PemerintahanEri-Armuji Diunggulkan, tapi Machfud-Mujiaman Masih Berpeluang Menang

Eri-Armuji Diunggulkan, tapi Machfud-Mujiaman Masih Berpeluang Menang

Paslon Nomer 01 Eri Cahyadi-Armudji (ErJi)

Surabaya, wirafokus.com-Pilkada Serentak akan digelar pada 9 Desember 2020. Di Pilkada Surabaya, pertarungan sengit bakal terjadi antara paslon nomor urut 1 Eri Cahyadi-Armudji (ErJi) melawan paslon nomor urut 2 Machfud Arifin-Mujiaman (Maju).

Di atas kertas, jika melihat jumlah kursi di DPRD Kota Surabaya, Maju yang diusung delapan partai politik, yakni PKB, Gerindra, Golkar, PKS, Demokrat, Nasdem, dan PPP akan keluar sebagai pemenang dengan total 31 kursi di DPRD Surabaya. Sementara ErJi yang diusung PDIP (15) dan didukung PSI (4) hanya punya 19 kursi

Artinya, jika mesin politik masing-masing parpol pendukung paslon solid atau berjalan seperti Pileg 2019 lalu, maka dipastikan perolehan suara Maju akan mengungguli ErJi.

Namun, itu hitungan di atas kertas atau secara matematis. Segalanya bisa saja terjadi. Sebab, seperti pertandingan sepakbola, politik sulit ditebak. Fakta berbicara bahwa tim sepakbola yang diprediksi bakal menang karena bertabur bintang atau faktor lainnya, kenyataannya justru kalah.

Begitu pula di Pilkada Surabaya 2020, Maju yang didukung delapan parpol belum tentu menang melawan ErJi yang hanya didukung dua parpol. Apalagi PDIP sudah tiga kali memenangkan calonnya di Pilkada Surabaya, mulai Bambang DH-Arif Afandi di Pilkada 2005, Tri Risma Harini-Bambang DH di Pilkada 2010 dan Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana di Pilkada 2015.

Sehingga, praktis PDIP sudah cukup pengalaman. Lebih-lebih ErJi kali ini didukung Risma, yang selama 10 tahun jadi wali kota dinilai cukup berhasil membangun Kota Pahlawan. Pengaruh Risma diprediksi akan ikut mempengaruhi perolehan suara ErJi.

Hal ini pun diakui oleh pengamat politik Edy Marzuki dari Surabaya Survey Center. Dia menilai “Risma Efek” sangat berpengaruh di Pilkada Surabaya 2020.

Hal itu dibuktikan berdasarkan data riset yang telah dilakukan bahwa tingkat kepuasan kinerja Risma tinggi selama 10 tahun, yakni 95,7 persen. Riset juga menyebut, warga Surabaya sebagian besar ikut pilihan Risma di Pilkada Surabaya. Yakni 45,6 persen responden. Lainnya, 30,3 persen mengaku belum pasti memilih pasangan yang didukung Risma, serta 24,1 persen tidak akan memilih pasangan yang didukungnya.

Karena itu, Pilkada Surabaya kali ini dipastikan bakal berlangsung seru. Siapa pemenangnya masih sulit ditebak. Lembaga survei pun belum semuanya “kompak” mengunggulkan salah satu paslon, meski mayoriras menilai elektabilitas paslon ErJi lebih bagus dibanding Maju.

Berdasarkan catatan yang ada, dari 10 lembaga survei yang merilis hasil surveinya selama masa kampanye Pilkada Surabaya 2020, ErJi unggul di 7 lembaga survei. Lainnya, Maju lebih unggul.

Tujuh lembaga survei yang menyebut ErJi unggul adalah Pusat Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (PusdeHAM), Populi Center, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Cyrus Network, Surabaya Survei Center, Indo Survei Strategy, dan Charta Politica.

Sedang tiga lembaga survei yang mengunggulkan Maju adalah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Poltracking, dan Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI).

PusdeHAM, misalnya. Lembaga ini melakukan survei awal Oktober 2020 terhadap 1.000 responden. Hasilnya, elektabilitas ErJi unggul 6,5 persen dari Maju. Elektabilitas ErJi 48,6 persen, Maju 42,1 persen.

Lembaga survei Populi Center menyatakan, elektabilitas ErJi unggul sekitar 3,3 persen dari Maju. ErJi 41 persen, Maju 37,7 persen. Survei dilakukan 6-13 Oktober 2020 dengan melibatkan 800 responden. Margin of error sebesar 4,0 persen dengan tingkat kepercayan 95 persen.

SMRC juga menyebut elektabilitas ErJi 48,5 persen, sedang Maju 37,3 persen. Cyrus Network merilis, elektabilitas ErJi 55,3 persen, Maju 33,8 persen.

Demikian pula Surabaya Survei Center yang melakukan survei sehari pasca debat publik kedua Pilkada Surabaya, yaitu pada 19-24 November 2020. Menyebut ErJi unggul dengan perolehan 49,9 persen dan Maju 38,1 persen.

Paslon Nomer 02 Machfud Arifin-Mujiaman (MaJu)

Sementara hasil survei Poltracking, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), dan ARCI menyebut paslon Maju lebih unggul dibanding ErJi.

Poltracking menyebut elektabilitas Maju sebesar 51,7 persen, ErJi hanya 34,1 persen. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) merilis Maju unggul 3,14 persen atas lawannya ErJi. Elektabilitas Maju 46 persen, ErJi 42,86 persen. Sedang ARCI menyebut elektabilitas Maju 49,81 persen dan ErJi 41,27 persen. Artinya, Maju unggul 8,54 persen atas ErJi.

Namun demikian, ini hanya hasil survei. Meski lembaga survei yang mengunggulkan ErJi jumlahnya lebih banyak, tidak menjamin duet kader banteng ini akan menang di Pilkada Surabaya.

Pengamat politik Universitas Negeri Trunojoyo Madura, Mochtar W Oetomo mengatakan, hasil jajak pendapat lembaga survei hanya memberi gambaran sekaligus panduan untuk menganalisa dinamika obyektif pertarungan elektoral yang terjadi di lapangan jelang pemungutan suara.

Berdasarkan hasil 10 lembaga survei, probabilitas kemenangan pasangan ErJi lebih besar. “Tapi probabilitas adalah kemungkinan, bukan kepastian,” tegas Mochtar.

Dia juga menyebut bahwa yang harus dilihat bukan jumlah lembaga survei yang memenangkan salah satu paslon, tapi bagaimana kredibilitas dan latar belakang lembaga-lembaga survei tersebut.

Pendapat Mochtar ini menegaskan jika pertarungan memperebutkan kursi L1 dan L2 di Pilkada Surabaya bakal seru. Karena itu, mekipun sejak 6-8 Desember diberlakukan masa tenang, kedua paslon yang akan “bertarung” di Pilkada Surabaya tetap harus waspada dan terus berjuang. Bahkan, ada yang mengatakan, justru masa tenang ini merupakan “penentu kemenangan” pasca pencoblosan 9 Desember 2020.

Ibarat lomba lari estafet 400 meter, tiga hari terakhir masa tenang ini adalah 100 meter terakhir menjelang garis finish. Jika pelari terakhir terjatuh atau tidak bisa melanjutkan lomba akibat kram atau sebab lainnya, maka pupuslah harapan untuk menang, meski sejak start unggul jauh atas lawannya.

Adanya politik uang (money politic) pada masa tenang harus benar-benar diwaspadai. Khususnya “serangan fajar” menjelang hari H pencoblosan.

Pengamat politik Edward Dewaruci pun mengingatkan agar semua pihak menjadikan Pilkada Surabaya 2020 bebas dari politik uang, sehingga terwujud pesta demokrasi yang benar-benar demokratis.

Menurutnya, politik uang membahayakan karena berkontribusi kuat terhadap melemahnya politisi dan institusi demokrasi.

‘’Sehingga tak boleh ada toleransi sedikitpun terhadap politik uang. Sekecil apapun, politik uang harus diusut tuntas. Jika ada satu kasus pun yang melibatkan calon dan terbukti di mata hukum, maka calon harus didiskualifikasi dan dibatalkan,’’ kata Edward Dewaruci.

Sementara itu Hoslih Abdullah, Ketua Pemuda Pusura (Putera Surabaya) yang juga Ketua Umum KONI Surabaya juga berharap agar Pilkada Surabaya 2000 bebas dari politik uang.

Dia juga memprediksi bakal seru. Paslon Maju yang didukung delapan parpol, menurutnya belum tentu menang melawan ErJi. Apalagi Erji diusung PDIP yang sudah pengalaman tiga kali memenangkan calonnya di Pilkada Surabaya.

“Kecuali jika delapan parpol pengusung Machfud-Mujiaman solid, lain lagi ceritanya. Kalau pecah, sulit mengalahkan Eri-Armuji,” ujar pria yang akrab disapa Cak Dullah ini.

Kendati demikian, Cak Dullah berharap agar Pilkada Surabaya berjalan lancar dan sikses, tidak sampai terjadi kerusuhan. Siapapun yang terpilih, ia berharap bisa membawa kemajuan dan kemakmuran bagi warga Kota Surabaya. (pin)