
Jakarta, Wirafokus.com – Tim penyelidikan Komnas HAM untuk mengungkap kasus kematian enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) mulai bekerja. Tim tersebut menjadi tumpuan harapan banyak pihak bisa menemukan titik terang kasus tersebut.
Apalagi hingga dua hari sejak kejadian tewasnya enam pengawal Rizieq Shihab, kronologis kejadian masih menjadi spekulasi. Data yang disampaikan FPI dan polisi berbeda. Masing-masing mengklaim menjadi pihak yang diserang. ‘Perang’ data memenuhi ruang publik dan memunculkan berbagai penafsiran.
Sebut saja ungkapan FPI mengenai kondisi seluruh jenazah. Terdapat lima poin pernyataan disampaikan pihak FPI. Salah satunya adalah penemuan lebih dari satu lubang peluru pada seluruh jenazah.
Pernyataan itu berdasarkan temuan tim ahli yang didatangkan untuk memeriksa jenazah dan terdapat tanda tangan Ketua Umum FPI Ahmad Shabri Lubis dan Sekretaris Umum FPI Munarman.
“Tembakan terhadap para syuhada tersebut memiliki kesamaan sasaran, yaitu semua tembakan mengarah ke jantung para syuhada,” kata Munarman. Berikut lima poin pernyataan yang disampaikan;
1. Bahwa pada seluruh jenazah syuhada terdapat lebih dari 1 lubang peluru.
2. Bahwa tembakan terhadap para syuhada tersebut memiliki kesamaan sasaran, yaitu semua tembakan mengarah ke jantung para syuhada.
3. Dilihat dari bekas tembakan, menurut pendapat ahli yang hadir dalam pemandian jenazah, bahwa para syuhada ditembak dari jarak dekat.
4. Bahwa menurut ahli yang hadir dalam pemandian jenazah, tembakan ke arah jantung para syuhada tersebut ada yang dilakukan dari depan, bagian dada dan ada yang dilakukan dari belakang.
5. Bahwa pada tubuh sebagian besar para syuhada, terdapat tanda tanda bekas penyiksaan.
Terhadap keenam jenazah laskar FPI, semuanya sudah dimakamkan pada Rabu (9/12/2020) pagi, usai diambil dari RS Polri Kramat Djati pada Selasa (8/12/2020) malam. Lima jenazah dimakamkan di Megamendung dan satu jenazah lain dikebumikan di Jakarta oleh keluarga.

Tanggapan Polisi
Sementara Polri buka suara soal dugaan penyiksaan terhadap pengawal Rizieq Shihab seperti yang diungkap FPI. Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menegaskan penyidik nanti akan menyampaikan bukti pendukung.
“Penyidik sedang berproses dalam melakukan penyidikan. Tunggu saja nanti akan disampaikan dengan bukti pendukungnya,” kata Argo saat dihubungi terpisah.
Kasus ini bermula saat upaya pengejaran polisi terhadap pengikut Rizieq Shihab di Tol Jakarta-Cikampek mendapat perlawanan. Pengikut Habib Rizieq dan aparat kepolisian terlibat baku tembak hingga menewaskan enam laskar FPI.
Enam orang anggota laskar FPI yang tertembak adalah Faiz Ahmad Syukur (22), Andi Oktiawan (33), M Reza (20), Muhammad Suci Khadavi Poetra (21), Lutfhil Hakim (24), Akhmad Sofiyan (26). Mereka tewas ditembak polisi karena disebut melawan petugas. Atas kejadian tersebut, Divisi Propam Mabes Polri pun turut mengawasi kasus tersebut.
“Propam mengawasi, mengevaluasi, bukan memeriksa (polisi yang terlibat). Anggota profesional dalam pelaksanaan tugas,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono kepada wartawan.
Sebelumnya Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat juga menyatakan polisi telah dikantongi sejumlah bukti, salah satunya pesan suara. Rekaman suara tersebut menunjukkan adanya perbincangan dari anggota laskar FPI untuk mencelakakan polisi.
“Juga ada bukti tentang voice note bagaimana sedemikian rupa direncanakan untuk dipancing di sana, kemudian dipepet, semua terdatakan atau ternyatakan dengan jelas di dalam voice note,” ujar Tubagus. Dalam voice note, menurut kepolisian, anggota laskar FPI telah mengetahui bahwa pihak yang mengikuti adalah polisi.
Fakta Baru
Sementara itu Tim Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM telah menyelidiki lokasi polisi menembak mati enam laskar FPI di jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50. Sejumlah temuan penting berhasil didapatkan.
“Komnas telah melakukan penelusuran sejak lusa kemarin. Lusa kami meminta keterangan dari FPI dan saksi. Sedangkan, kemarin kami menyusuri TKP dan sekitarnya,” kata Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan HAM Choirul Anam di Jakarta, Rabu (9/12).
Di tempat kejadian perkara (TKP), kata Anam, pihaknya menemukan sejumlah fakta baru. Namun, ia masih enggan membeberkan temuan itu kepada publik.
“Beberapa hal penting untuk merekonstruksi peristiwa kami dapatkan. Namun, masih perlu pendalaman,” ucapnya.
Adapun keterangan dari pihak kepolisian, kata Anam, pihaknya masih menentukan waktunya. “Setelah itu, kami juga akan memanggil polisi untuk mendapatkan keterangan,” kata dia.
Sebelumnya, terjadi bentrokan antara polisi dan laskar pengawal pimpinan FPI Rizieq Shihab di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50 pada Senin pukul 00.30 WIB. Dalam insiden itu, polisi menembak mati enam orang laskar FPI.
Kronologi peristiwa ini simpang siur. Menurut keterangan polisi, aparat terpaksa menembak laskar FPI karena berusaha menyerang polisi dengan senjata api dan senjata tajam. Sedangkan, menurut pihak FPI, keterangan polisi itu tidak benar.
Sebab, para laskarlah yang diserang polisi dan selain itu laskar FPI diklaim tak menggunakan senjata api maupun senjata tajam. (dbs/red/fks)
