Ket. Photo: Saat dibukanya pameran seni rupa di Aksera Surabaya.
Surabaya,wirafokus.com Kesenian atau seni bisa hidup dengan segala macam bentuk, sebagai wahana kreativitas, yang bisa menampung segala ide dari pendapat seseorang. Dan dalam seni menyimpan pesan serta keindahan bagi kehidupan orang pelaku seni.
Aksera (Akademi Seni Rupa Surabaya), berdiri sejak tahun 1967-1972 didirikan oleh para seniman Surabaya, Aksera adalah salah satu akademi seni rupa untuk mewadahi calon seniman dalam bentuk pendidikan formal. Serta banyak mencetak seniman besar, yang sampai saat ini masih menjadi warna khasanah dunia seni rupa Indonesia, diantaranya, Thalib Prasojo, Hardi, Dwijo Sukatmo, Nunung WS, Ari Setiawan, Nuzurlis Koto, Machfud, Aes Su’ud, Asro Serudi, Koesfendi, Kusnan, Poerono Sambowo, Iman Suligi dan masih banyak yang lain.
Dengan para dosen yang tidak kalah prestasi luar biasa dalam kesenimannya antara lain, M Roeslan, Krishna Mustajab, M Daryono, O.H. Supono, Amang Rahman, Budi Hantana, Indra H Kusuma, Gatot Kusuma dan Thea. Hingga saat ini, nama para seniman-seniman itu tak lekang digerus zaman.

Walaupun nama seniman tersebut agak redup, tapi dalam sunyi, beliau-beliau ini masih terus eksis bergerak menggoreskan karyanya.
Saat ini para penerus yang peduli dengan Aksera yang digawangi oleh putra sulung dari dosen dan seniman Amang Rahman Jubair, yaitu Yunus Jubair dan dibantu oleh Nining Zaro (istri alm. Aes Su’ud), Dona Ghani dan Yopi (putra beserta menantu) dari seniman Koesfendi, tentu terlebih dahulu berkoordinasi dengan para seniman senior Aksera, untuk mencoba menghidupkan kembali ruh aksera (Akademi Seni Rupa Surabaya) yang terletak di Jl. Dukuh Kupang XVII yang sebelumnya berada di Balai Pemuda Surabaya, dengan tujuan agar bisa mewarnai lagi khasanah seni rupa di Surabaya khususnya, puji syukur hingga tingkat Nasional ataupun Go Internasional. Sebenarnya seni adalah penawar dalam memberikan hiburan, kenyamanan serta ketenangan bagi semua orang yang ada di sekitarnya.

Adapun tujuan dibukanya kembali Aksera, yaitu sebagai bentuk para seniman yang berhenti disaat adanya Pandemi Covid-19 selama 6 (enam) bulan, sehingga para pelaku seni dilanda gelisah, gerah dan harus at home, distancing social, tidak bisa leluasa untuk bergerak mengekspresikan gejolak nurani yang menunjukkan eksistensi karya.
Untuk itu para pelaku seni atau seniman dan seniwati berinisiatif, meskipun agak nekat membuka, membersihkan, memperbaiki gedung Aksera yang sudah bertahun-tahun vakum, kosong dan tak ada kegiatan sama sekali.
Menurut keterangan Nining Zaro selaku pelaku seni atau seniwati,”harapan kami serta tentunya harapan dari para senior dan tokoh-tokoh Aksera di masa depan adalah semoga Aksera bisa bergerak eksis mewarnai dunia seni rupa dari generasi ke generasi millenial saat ini hingga seterusnya.

Agenda pertama sebagai awal kita membuka kembali pintu Aksera dengan membuat pameran dengan tema “NUWUN SEWU” yang dibuka hari Jum’at (21/8), minta restunya untuk berpameran bersama generasi-generasi yang baru dalam komunitas “JAJAN PASAR”, serta kami dibantu oleh teman-teman muda yang peduli terhadap Aksera, yaitu Gopla, Ucup dan Anin, juga para seniman dan seniwati yang mengikuti pameran tersebut, antara lain Yunus Munzir, Buggy, Lutfi Shakato’Mujib Darjo, Ken Adhisti, Cak Har, Alifiman E, aninn, Nining Zaro, Bromo Jodha, dan Dona Ghani, “kata Nining Zaro selaku pelaku seni kepada wartawan wirafokus.com .
“Semoga Aksera sukses dan terus hidup, selamat berpameran teman-teman serta teruslah bergerak Rek,” pungkasnya. (Dwi W)
