Ket foto : Anggota Komisi B DPRD Jatim Subianto
Surabaya, wirafokus.com- Melonjaknya harga gula pasir di Jatim yang tembus hingga Rp14.500/kg sangat disesalkan Komisi B DPRD Jatim. Ditengarai kenaikan harga dipicu banyaknya permintaan dari wilayah Indonesia bagian timur. Pasalnya, Jatim merupakan penyuplai gula pasir ke wilayah ini.
Anggota Komisi B DPRD Jatim Subianto mengatakan, peristiwa ini merupakan perulangan10 tahun lalu. Kala itu, harga gula pasir di Jatim mengalami kenaikan. Padahal Jatim mengalami surplus gula pasir sampai 200 ribu ton. Hasil produksi mencapai satu juta ton, sedang kebutuhan hanya sekitar 400 ribu ton hingga 500 ribu ton per tahun.
“Saya berharap kondisi ini tidak lama, karena bulan Mei Jatim sudah panen. Di sisi lain kenaikan ini tidak berimbas pada para petani tebu. Justru yang diuntungkan adalah para pemodal besar,” kata politisi asal Partai Demokrat Jatim ini ketika dihubungi lewat telepon genggamnya, Selasa (18/2/2020).
Sebaliknya, menurut Subianto, jika Jatim menolak menyuplai gula pasir ke Indonesia timur, dikhawatirkan muncul kebijakan pemerintah pusat untuk membuka kran impor. Kalau sudah begini, maka petani tebu yang dirugikan. Apalagi selama ini mereka selalu dirugikan Rp 800 per kg. Dimana ongkos produksi habis Rp 9.900, sementara pabrik atau Bulog hanya membeli seharga Rp 9.100/kg.
Terpisah, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa minta meminta kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPS) dan Satgas Pangan untuk mendekati sejumlah pabrik gula, baik BUMN maupun swasta untuk mengeluarkan stok yang belum digiling. Mengingat selama ini Jatim mengalami surplus hingga 200 ribu ton.
Di sisi lain, Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak diminta untuk bekerjasama dengan Polda Jatim mengawasi oknum pengusaha nakal yang menimbun gula pasir.
“Saya sudah intruksikan Pak Emil menggandeng Polda Jatim untuk gelar operasi,” tegas gubernur perempuan pertama di Jatim ini. (pin)
