Teks Foto: Dari kiri ke kanan; Dirut PT Garam (Persero) Budi Sasongko , Bupati Kupang Korinus Masneno dan Kapolres Kupang AKBP Indra Gunawan dalam kegiatan panen raya garam di Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Rabu (16/10/2019).
Kupang, wirafokus.com – PT Garam (Persero) menjalin sinergi dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dalam upaya pengembangan produksi garam di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini dibuktikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam inovasi dan penerapan teknologi sebagai bentuk dukungan pada sektor industri garam di NTT, Rabu (16/10) kemarin.
Kesepakatan tersebut terjalin bersamaan dengan kegiatan panen raya garam di Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Panen garam di lahan seluas 304 hektare tersebut dihadiri pula sejumlah pejabat dan tokoh setempat.
Sebut saja Bupati Kupang Korinus Masneno, Kapolres Kupang AKBP Indra Gunawan, Kadis Perikanan Kabupaten Kupang Novita Funay dan Camat Sulamu Adrian Abineno. Selain itu hadir pula Kasie Intel Kodim 1604/Kupang yang mewakili Dandim, Kapten I Ketut Darmadi, Kabindan, Letnan Eko dan Danranmil Sulamu Kapten Okto. Tampak hadir pula Direktur Utama PT Garam (Persero) Budi Sasongko dan tenaga pengajar Undana Dr Franchy Christian Liufeto yang mewakili Rektor Undana Kupang Fred Benu.
Para pejabat dan tokoh masyarakat tersebut antusias mengikuti kegiatan panen raya garam. Ini terlihat ketika mereka bersama-sama Dirut PT Garam Budi Sasongko dan Bupati Kupang Korinus Masneno memanen langsung butiran garam dari lahan yang telah disiapkan.
Dr Franchy Christian Liufeto yang merupakan dosen di Fakultas Kelautan dan Perikanan Undana menyampaikan jika NTT mempunyai potensi besar sebagai wilayah pengembangan garam karena memiliki lahan yang sesuai kajian akademis sangat produktif.
“Kerjasama dengan PT Garam adalah bentuk dukungan terhadap Undana dalam berperan aktif pada industri garam yang ada di NTT. Mulai dari mempersiapkan lahan potensial, penelitian hasil garam, hingga meningkatkan kapasitas berupa pelatihan kepada masyarakat,” ujar Christian Liufeto.
Di pihak lain, Dirut PT Garam Budi Sasongko menjelaskan jika lahan pegaraman Bipolo merupakan unit kerja yang baru terbentuk dengan pelaksanaan pekerjaan tahun 2016 oleh tim Satuan Tugas Kupang dan dikomersilkan menjadi sebuah pegaraman mulai Oktober 2017.
“Meski demikian, tahun 2017 PT Garam mampu memanen 7 ribu ton dan 8 ribu ton pada tahun 2018 dari lahan pegaraman Bipolo yang seluas 304 hektare. Untuk tahun 2019, PT Garam menargetkan memproduksi sebanyak 15.000 ton,” kata Budi Sasongko.
Sementara Kepala Pegaraman Kupang PT Garam (Persero) di Desa Bipolo, NTT, Agung Triwasono di Kupang mengatakan jumlah produksi di desa itu terus meningkat karena dibantu cuaca dan iklim yang mendukung. Agung memastikan target produksi garam di Bipolo tahun ini dapat tercapai, mengingat sejak September hingga Oktober ini merupakan puncak kemarau.
“Sampai dengan akhir musim panen, yakni November sampai dengan Desember nanti kami yakin produksi garam bisa mencapai target perusahaan. Semoga cuaca serta iklim bisa mendukung proses kegiatan pembuatan garam,” ujarnya.
Pihaknya juga berharap keberadaan Garam di daerah itu dapat meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat setempat.
“Kehadiran PT Garam ini untuk mendukung program pemerintah yakni swasembada garam juga untuk menyejahterakan masyarakat Bipolo dan NTT umumnya,” ujarnya. (red/fks)
