Ket foto : Ketua Pemuda Pusura Hoslih Abdullah
Surabaya.wirafokus.com – Pilwali Surabaya yang akan digelar September 2020 semakin ramai dibicarakan. Kali ini giliran Putera Surabaya (Pusura) ikut angkat bicara.
Meskipun belum menyebut figur, tetapi melalui Ketua Pemuda Pusura Hoslih Abdullah, ormas tertua di Surabaya yang didirikan para pejuang nasional tahun 1936 ini berharap agar pemimpin Kota Pahlawan ke depan harus peduli pada kampung.
“Kalau infrastruktur sudah tidak ada masalah. Yang diperlukan sekarang ini adalah pembangunan di kampung-kampung,” kata Hoslih Abdullah kepada wirafokus.com di kantor Pusura, Jumat (26/07/2019).
Pembangunan infrastruktur, menurut Hoslih Abdullah, sudah berhasil ditangani Wali Kota Tri Rismaharini.
“Dua periode Bu Risma memimpin Surabaya, pembangunan infrastruktur sangat luar biasa. Wajah Surabaya banyak sekali perubahannya,” tutur pria yang akrab disapa Cak Dullah ini.
Sehingga, lanjut Cak Dullah, wali kota yang terpilih mendatang tidak perlu lagi mengikuti jejak Risma, tetapi harus punya inovasi-inovasi baru untuk melengkapi yang ada.
Misalnya kegiatan atau program di kampung yang bisa menghasilkan produk bisa dijual atau dipromosikan.
Sehingga, hasilnya bisa dinikmati dan mengurangi pengangguran di kampung tersebut.
Cak Dullah lantas memberi contoh “Kampung Lawas” Maspati. Kampung di wilayah Kecamatan Bubutan ini sekarang dikenal tidak hanya di Surabaya atau Jawa Timur, tapi juga di tingkat nasional, bahkan internasional setelah dibenahi dan disulap jadi kampung wisata.
Hampir setiap turis yang berkunjung ke kampung ini, baik turis domestik maupun asing, disuguhi aneka permainan dan kesenian tradisional budaya khas Surabaya. Seperti permainan patelele, gobaksodor, egrang, tari remo dan lainnya.
“Harapan Pusura, ke depan muncul kampung-kampung baru yang mengikuti jejak Kampung Lawas. Tentunya dengan kemasan yang berbeda. Sehingga siapapun yang datang ke sana akan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula,” papar Cak Dullah yang sehari-hari juga menjabat ketua umum Koni Surabaya.
Mengenai figur, apakah wali kota ke depan harus arek Suroboyo asli atau bukan, Pusura tidak mempermasalahkan.
“Yang penting orang tersebut mencari makan dan hidup di Surabaya,” kata ayah delapan anak dan lima cucu ini.
Pusura juga tidak mempermasalahkan dari mana sosok wali kota pengganti Risma. Apakah dari kalangan politikus, birokrat, atau pengusaha.
Demikian pula faktor usia, tua atau muda tidak jadi soal. Yang penting tahu Surabaya dan punya komitmen membangun Surabaya menjadi lebih baik lagi.
“Tapi kalau bisa lebih bagus yang muda dan energik. Sebab, stamina kan tergantung usia. Asal dia punya kemampuan memimpin dan memajukan Surabaya, mengapa tidak,” tandas Cak Dullah.
Lebih jauh dikatakan, selama ini Pusura tidak pernah ikut dukung mendukung dalam pilwali di Surabaya. Tapi, khusus untuk pilwali 2020, Pusura akan mencoba bisa lebih berperan.
Misalnya, dengan memberi masukan pada masyarakat mengenai figur bacawali yang mumpuni. Karena itu, Pusura mulai menginventarisir nama-nama yang muncul dalam bursa bacawali dan bacawawali.
Dari nama-nama itu nantinya akan diseleksi siapa yang dianggap layak memimpin Surabaya.
“Nantinya para bacawali yang sudah ditetapkan menjadi cawali akan kami undang ke Pusura untuk menyampaikan visi misinya,” pungkas Cak Dullah. (Pin)
