― Advertisement ―

Jalin Tali Silaturahmi Madas Sedarah PAC Dukuh Pakis Gelar Acara Rutinan

Surabaya,Wirafokus.com - Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama serta penguatan internal Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Madas PAC Dukuh Pakis Surabaya kembali melaksanakan kegiatan...
BerandaProfilSelamat Hari Film Nasional, Sineas Muda Terus Mengasah Diri Untuk Berkontribusi Terhadap...

Selamat Hari Film Nasional, Sineas Muda Terus Mengasah Diri Untuk Berkontribusi Terhadap Kemajuan Sinema Indonesia

Insert foto : Wira Lina, SE, M.Si. (Ketua DPD PARFI JATIM)

Surabaya, wirafokus.com – Hari Film Nasional (HFN) merupakan momentum tahunan yang diperingati setiap tanggal 30 Maret.

Hari Film Nasional dilakukan sejak tahun 1962 oleh Konferensi Kerja Dewan Film Nasional dan Organisasi Perfilman, dipilihnya tanggal ini karena pada 30 Maret 1950 ada sebuah peristiwa sejarah dalam dunia film Indonesia.

Perayaan Hari Film Nasional merupakan yang ke 69 yang jatuh tepat pada hari Sabtu 30/3/2019

1. Kondisi perfilman saat ini ?

Film sepertinya sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Kita dapat melihat berbagai film melalu televisi atau menonton di bioskop. Menonton film bisa menjadi hiburan bahkan adapula yang menjadikannya sebagai hobby. Kita dapat melihat imajinasi sutradara yang dituangkan secara apik dalam film. Dan dunia film pun semakin berkembang dari masa ke masa, terlihat jelas dari sisi teknologinya terlebih seperti yang tejadi dalam dunia perfilman di Negara Barat sana.

Perfilman Indonesia pun terus maju dengan banyaknya karya film anak bangsa yang bisa dinikmati penonton di bioskop.

Bagaimana dengan industri Perfilman di negara kita sendiri???

Selama dua dekade lalu, sekitar tahun 1980-an hingga 1990-an perfilman Indonesia terpuruk sangat dalam. Insan film Indonesia seperti tak bisa berkutik menghadapi arus film impor. Masalah yang dihadapi harus diakui sangatlah kompleks, mulai dari persoalan dana, SDM, hingga kebijakan pemerintah. Persoalan ini dari tahun ke tahun semakin melebarkan jarak antara film, bioskop dan penonton, tiga komponen yang seharusnya memiliki pemahaman yang sama terhadap sebuah industri film.

Namun perkembangan film Indonesia saat ini semakin pesat di setiap tahunnya. Masyarakat kini tidak hanya disajikan film horor dibalut keseksian, namun film berkualitas di berbagai genre.

Menurut salah satu pelaku industri film, Agus Kuncoro, tahun 2014 warna film akan semakin berwarna. Tak ada lagi satu genre yang menguasi bioskop, tapi mulai dari komedi hingga film bertemakan politik.

Dan industri perfilman Indonesia ini juga tak bisa lepas dari tanggung jawab pemerintah.

Diharapkan peran pemerintah bisa membantu pelaku industri film dalam hal mencari bahan baku yang lebih murah, lebih menunjang namun berkualitas sehingga perfilman di Indonesia mencapai garis kesuksesan seperti di negara tetangga.

Selain itu diharapkan juga peran pemerintah dalam mengambil tindakan tegas terhadap pelaku-pelaku yang masih sering melakukan tindakan pembajakan, baik itu dalam Industri Perfilman maupun hal lainnya. Dan tentu juga dengan bantuan masyarakat yang juga tidak suka terhadap pembajakan ini.

2. BERBAKAT DAN KREATIF, SINEAS MUDA INDONESIA INI LAYAK JADI PANUTAN =

Muda, kreatif dan penuh talenta, itulah sebutan yang tepat untuk sineas-sineas muda Indonesia ini. Dengan ide dan kreativitas, mereka mencipta ragam karya film berkualitas yang mampu menghibur serta menginspirasi penontonnya.

Seiring kebangkitan dunia film di tanah air, sineas-sineas muda Indonesia yang berbakat kini hadir dengan ragam karya film dan ide kreatifitas terbaiknya.

Mereka memiliki keberanian, idealisme dan kaya gagasan. Para sineas muda berbakat ini, tak henti untuk belajar dan berpraktik,  mengeluarkan gagasan dan keberanian untuk berkompetisi dengan sineas muda dari mancanegara.

Tekad dan semangat dari para sineas muda ini bisa menular sehingga bibit-bibit berpotensi dalam dunia perfilman akan semakin tumbuh.

Sineas muda yang terus mengasah diri dan tak lelah  berkontribusi terhadap kemajuan sinema Indonesia.

Dika Angkasaputra Moerwani atau lebih dikenal dengan Raditya Dika pria kelahiran Jakarta, 28 Desember 1984, dikenal sebagai penulis, komedian, aktor dan sutradara film.

Pernah menjadi mahasiswa di  Adelaide University, Australia, Radit sering menulis kisah sehari-harinya sebagai mahasiswa di negeri orang dalam blog pribadi, yang akhirnya dituangkan dalam buku dan diceritakan kembali dalam film.

Film pertama yang ia sutradarai berjudul “Kambing Jantan”, dalam film itu Radit juga menjadi pemeran utamanya. Film-film yang ia sutradarai kebanyakan skenarionya ia tulis sendiri. Jika biasanya Radit membuat film bergenre komedi romantis, namun di akhir 2016 kemarin ia membuat film dengan genre komedi horor berjudul Hangout yang sukses meraih jutaan penonton.

Menjadi sutradara sejak usia 25, membuat Radit masuk dalam jajaran sineas muda berbakat Indonesia. Berbagai penghargaan pun berdatangan pada pria yang masih single ini, salah satunya menjadi pemenang kategori Digital Persona Of The Year Indonesian Choice Award 2015 dan filmnya berjudul “Marmut Merah Jambu” juga menang sebagai kategori Movie of The Year. (#)