
Hal itu disampaikan Kiai Makki dalam Sidang Komisi Program Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, yang berlangsung 26–30 Agustus 2026.
Menurut Kiai Makki, roadmap NU telah memiliki arah progresif dengan memasukkan agenda pendidikan, ekonomi, digitalisasi, teknologi, lingkungan, kesehatan, vokasi, manajemen talenta hingga peran global NU. Namun, masih perlu diperkuat aspek regenerasi dan kepemimpinan lintas generasi.
“Kalau NU berbicara tentang 2050, kita tidak cukup hanya berbicara tentang program. Kita harus menyiapkan generasi yang akan menjalankannya. Milenial, Gen Z, Gen Alpha dan generasi berikutnya harus menjadi subjek transformasi NU, bukan sekadar objek kaderisasi,” tegasnya.
Kaderisasi Berbasis Talenta, Kiai Makki menilai kaderisasi perlu bergeser dari sekadar pelatihan menuju sistem pengembangan kader yang berkelanjutan, mulai dari pemetaan, pembinaan, mentoring, penugasan, evaluasi hingga kepemimpinan.
Ia mendorong penguatan Badan Talenta Nahdlatul Ulama (BATANU) agar tidak hanya menjadi basis data kader, tetapi menjadi mesin pengembangan talenta dan regenerasi kepemimpinan NU.
Pesantren dan Teknologi.
Menurutnya, modernisasi tidak boleh menjauhkan NU dari pesantren. Justru pesantren harus menjadi ruang pertemuan antara turats, Aswaja, sains dan teknologi.
“Santri harus mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan adab dan sanad keilmuannya. Teknologi menjadi alat, sementara nilai pesantren menjadi kompas,” ujarnya.
Roadmap NU sendiri telah mendorong integrasi Aswaja dengan sains, teknologi, literasi digital, STEM, kewirausahaan dan pengembangan pendidikan.
Kepemimpinan Lintas Generasi
Kiai Makki juga menekankan bahwa penguatan generasi muda bukan berarti menggantikan generasi senior. NU, menurutnya, membutuhkan kolaborasi lintas generasi.
“Kiai menjaga sanad dan nilai, profesional menjaga kualitas, sementara generasi muda membawa energi dan inovasi. Bukan generasi lama melawan generasi baru, tetapi bersama-sama menyiapkan masa depan NU,” katanya.
Ia berharap Muktamar ke-35 dapat memperkuat arsitektur regenerasi NU jangka panjang, sehingga Milenial, Gen Z, Gen Alpha dan generasi berikutnya memiliki ruang dalam kaderisasi, pendidikan, ekonomi, teknologi, dakwah, lingkungan hingga kepemimpinan.
“NU 2050 tidak akan dibangun oleh generasi hari ini saja. NU 2050 akan dibangun oleh generasi yang hari ini sedang kita kaderkan. Karena itu, kita harus menjaga akar tradisi sekaligus menyiapkan generasi yang mampu membawa NU menjadi kekuatan peradaban,” pungkasnya. (Yus bakir)
