― Advertisement ―

Kasus Viral Pembacokan di Jalan Kenjeran, Korban Lapor ke Polrestabes Surabaya

SURABAYA,wirafokus.com- Ajang balapan sepeda onthel di Jalan Kenjeran, Kota Surabaya, tepatnya di depan Gang Lebak Jaya 2, Kelurahan Gading, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, pada...
BerandaPeristiwaEri Irawan Dorong Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Model Konservasi Berkelanjutan

Eri Irawan Dorong Kebun Raya Mangrove Surabaya Jadi Model Konservasi Berkelanjutan

Ketua Komisi C DPRD Surabaya Eri Irawan. (Foto: Andra Jatmiko/wirafokus.com)
SURABAYA, wirafokus.com- Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya Eri Irawan menegaskan bahwa Kebun Raya Mangrove Surabaya telah berkembang menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata edukasi. Kawasan tersebut kini berperan sebagai benteng perlindungan pesisir, penyerap emisi karbon, pusat riset lingkungan, hingga laboratorium pengembangan energi terbarukan yang mendukung pembangunan berkelanjutan di Kota Surabaya.

Pernyataan itu disampaikan Eri saat memberikan tanggapan mengenai penyelenggaraan Festival Mangrove dan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Kebun Raya Mangrove Surabaya yang digelar di kawasan Gunung Anyar, Sabtu (25/7).

Menurutnya, momentum tersebut menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kota Surabaya bersama berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove.

“Pertama saya mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-3 kepada Kebun Raya Mangrove Surabaya. Ini merupakan salah satu dari sedikit kebun raya di Indonesia, bahkan di dunia, yang secara khusus didedikasikan untuk pengembangan tanaman mangrove,” ujar Eri usai mengikuti Rapat Paripurna DPRD Kota Surabaya di Gedung DPRD, Senin (27/7).

Ia menilai keberadaan kawasan mangrove memiliki nilai strategis bagi masa depan Kota Surabaya. Selain menjadi benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari ancaman abrasi dan gelombang laut, ekosistem mangrove juga berfungsi sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang mampu mengurangi dampak perubahan iklim sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan.

Menurut Eri, manfaat ekologis tersebut sudah mulai dirasakan masyarakat. Bahkan berdasarkan hasil diskusinya dengan sejumlah pegiat lingkungan, kawasan Gunung Anyar dan Rungkut tercatat sebagai wilayah dengan suhu udara yang relatif lebih rendah dibanding sejumlah kawasan lain di Surabaya.

Fenomena tersebut menunjukkan peran penting mangrove dalam mengurangi efek urban heat island atau pulau panas perkotaan yang selama ini menjadi tantangan di kota-kota besar.

“Hasil pemetaan menunjukkan kawasan Gunung Anyar dan Rungkut relatif lebih sejuk. Ini menjadi bukti bahwa mangrove memberikan efek pendinginan alami bagi lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan kota terhadap perubahan iklim,” jelasnya..

Lebih lanjut, Eri mengatakan Kebun Raya Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga terus berkembang menjadi pusat penelitian dan inovasi lingkungan. Kawasan seluas sekitar 64 hektare yang berada di Kelurahan Gunung Anyar Tambak dan Medokan Ayu itu kini menjadi lokasi berbagai pengembangan teknologi berbasis energi bersih.

Salah satu inovasi yang mulai dikembangkan adalah Terangin, sebuah teknologi yang memanfaatkan energi angin untuk menghasilkan listrik guna memenuhi kebutuhan penerangan di kawasan Kebun Raya Mangrove.

Menurutnya, inovasi tersebut menjadi langkah awal menuju kawasan konservasi yang mandiri energi. Ke depan, pemanfaatan listrik berbasis energi terbarukan akan diperluas untuk memenuhi kebutuhan kawasan parkir, sentra wisata kuliner, hingga berbagai fasilitas publik lainnya.

“Bertahap seluruh fasilitas di kawasan mangrove diharapkan dapat memanfaatkan energi bersih sehingga lebih efisien, ramah lingkungan, dan tidak bergantung pada energi fosil,” katanya.

Tidak berhenti pada pengembangan energi angin, kawasan tersebut juga mulai menyiapkan sistem energi hijau yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Salah satunya melalui rencana penyediaan stasiun pengisian kendaraan listrik bagi motor listrik nelayan yang menggunakan sumber energi terbarukan hasil inovasi di kawasan mangrove.

Selain itu, sedang dikembangkan pula teknologi pengolahan sampah pesisir menjadi bahan bakar alternatif bagi nelayan. Menurut Eri, inovasi tersebut merupakan bagian dari pembangunan sistem energi hibrida yang mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan sampah dan penyediaan energi ramah lingkungan.

Di sektor perikanan, Kebun Raya Mangrove juga mulai mengembangkan konsep tambak digital melalui kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas budidaya perikanan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem mangrove.

“Pengembangan ini menunjukkan bahwa kawasan mangrove bukan hanya kawasan konservasi, tetapi juga pusat riset dan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ungkapnya.

Eri menambahkan, potensi pengembangan kawasan mangrove di Surabaya masih sangat besar. Saat ini kawasan yang telah dikelola sebagai Kebun Raya Mangrove mencapai sekitar 64 hektare. Sementara secara keseluruhan, ekosistem mangrove di kawasan Pantai Timur Surabaya memiliki potensi pengembangan hingga sekitar 540 hektare.

Namun demikian, ia mengakui proses perluasan kawasan konservasi tidak dapat dilakukan secara instan karena sebagian lahan masih dimiliki masyarakat. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, pemilik lahan, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat agar upaya konservasi tetap berjalan tanpa mengabaikan hak-hak warga.

“Saat ini yang sudah dikelola sekitar 64 hektare. Ke depan masih ada potensi pengembangan yang cukup luas sehingga perlu kita jaga bersama sebagai kawasan konservasi pesisir Surabaya,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan, DPRD Kota Surabaya, lanjut Eri, akan terus mendorong berbagai inovasi yang lahir dari Kebun Raya Mangrove. Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui riset, teknologi, energi terbarukan, dan pengembangan ekonomi berbasis konservasi.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas lingkungan, dan masyarakat terus diperkuat agar Kebun Raya Mangrove mampu menjadi model pengelolaan ekosistem pesisir yang berkelanjutan serta menjadi warisan lingkungan bagi generasi mendatang.

“Menjaga mangrove bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Seluruh elemen masyarakat harus ikut berpartisipasi agar Surabaya tetap memiliki benteng alami menghadapi perubahan iklim sekaligus mewariskan lingkungan yang sehat kepada generasi berikutnya,” pungkasnya. (dra)