― Advertisement ―

Polrestabes Surabaya Hadirkan Ajang Hoofdbureau City Night Race – Kapolrestabes Surabaya Cup 2026

Surabaya,wirafokus.com— Polrestabes Surabaya menghadirkan ajang Hoofdbureau City Night Race – Kapolrestabes Surabaya Cup 2026 sebagai ruang bagi anak muda dan komunitas otomotif untuk menyalurkan...
BerandaPeristiwaGaram Nasional Surplus, Budi Sasongko: Saatnya PT Garam Jadi “Single Gate” Industri...

Garam Nasional Surplus, Budi Sasongko: Saatnya PT Garam Jadi “Single Gate” Industri Garam RI

Menanggapi hal tersebut, akademisi sekaligus pengamat industri garam nasional, Budi Sasongko, justru melihat capaian Indonesia lebih maju dari yang diperkirakan.
Jakarta,wirafokus.com– Indonesia dinilai sudah melangkah jauh menuju kemandirian sektor garam. Tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga, bahkan untuk kebutuhan industri tertentu mulai menunjukkan tanda-tanda swasembada.

Direktur Operasi dan Pengembangan PT Garam, Syarifuddin, sebelumnya menegaskan bahwa kebutuhan garam konsumsi nasional pada 2026 telah terpenuhi dan mengalami surplus. Namun, tantangan besar masih tersisa pada pemenuhan garam industri.

Menanggapi hal tersebut, akademisi sekaligus pengamat industri garam nasional, Budi Sasongko, justru melihat capaian Indonesia lebih maju dari yang diperkirakan.

Menurutnya, dengan kapasitas pabrik dan teknologi yang dimiliki PT Garam saat ini, Indonesia sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan garam untuk industri pangan dan minuman.

“Ini bukan sekadar wacana. Secara kapasitas dan teknologi, PT Garam sudah mampu mengolah bahan baku sendiri untuk kebutuhan industri tertentu,” tegasnya.

Budi yang juga menjabat sebagai Sekretaris HKTI DPD Jawa Timur menilai, momentum ini harus dijadikan titik balik untuk memperkuat peran PT Garam sebagai pemain utama industri nasional.

Ia menekankan bahwa PT Garam bukan sekadar perusahaan biasa, melainkan entitas strategis yang membawa mandat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945, serta pelaksanaan kebijakan percepatan pembangunan pergaraman nasional.

Karena itu, ia mendorong agar pemerintah memberikan kewenangan lebih besar kepada PT Garam, bahkan menjadikannya sebagai “single gate” industri garam nasional.

“Kalau tidak single gate, minimal dikembalikan ke bentuk Persero agar lebih kuat secara kelembagaan dan strategis,” ujarnya.

Budi Sasongko, Akademisi dan Pengamat Industri Garam Nasional
Budi juga mengapresiasi soliditas jajaran direksi dan komisaris PT Garam yang dinilainya kompak dalam menjalankan visi pemerintahan Presiden Prabowo, terutama dalam mendorong hilirisasi sektor garam.

Namun, ia mengingatkan bahwa langkah ke depan tidak boleh berhenti pada produksi konvensional berbasis laut. Indonesia harus mulai serius mengembangkan sumber garam alternatif non-laut.

Untuk itu, ia mengusulkan pembentukan tim riset nasional lintas sektor, melibatkan lembaga geologi, Kementerian Perindustrian, hingga pakar regulasi BUMN. Selain itu, studi banding ke negara maju seperti China dinilai penting untuk memperkaya strategi nasional.

“Indonesia tidak boleh hanya jadi produsen, tapi harus menjadi penguasa industri garam secara menyeluruh,” pungkasnya.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, teknologi, serta keberanian mengambil keputusan strategis, Indonesia diyakini mampu tidak hanya swasembada, tetapi juga menjadi kekuatan baru dalam industri garam global.
(WL/Fks)