
Oleh: Dr. Jamhadi
Jakarta,wirafokus.com- Nilai tukar Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada Januari 2026, mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Tekanan ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan kombinasi faktor global dan domestik yang saling memperkuat.
Rupiah di Bawah Tekanan Ganda
Pelemahan Rupiah dipicu oleh ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Data ekonomi AS yang masih solid membuat pasar berspekulasi suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Akibatnya, arus modal global kembali mengalir ke dolar AS.
Di sisi lain, tensi geopolitik dan potensi perang tarif meningkatkan sentimen risk-off, mendorong investor global memburu aset aman. Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN—yang diperkirakan mendekati 3,5 persen PDB—ikut menekan kepercayaan pasar.
IHSG Ikut Terkoreksi
Tekanan pada Rupiah merembet ke pasar saham. Setelah mencetak rekor tertinggi, IHSG terkoreksi akibat aksi ambil untung, sikap wait and see investor menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia, serta keluarnya dana asing dari saham perbankan berkapitalisasi besar.
Dampak Nyata ke Ekonomi Riil
Pelemahan Rupiah bukan sekadar angka statistik. Kenaikan kurs mendorong inflasi berbasis biaya karena tingginya ketergantungan impor bahan baku. Beban subsidi energi ikut meningkat, sementara daya beli masyarakat tergerus akibat kenaikan harga barang kebutuhan.
Secara fiskal, setiap pelemahan Rupiah memperlebar defisit anggaran karena kenaikan belanja lebih besar dibanding tambahan pendapatan negara. Secara psikologis, ekspektasi pelemahan lanjutan dapat mempercepat inflasi melalui kenaikan harga dini oleh pelaku usaha.
Jalan Keluar yang Perlu Ditempuh, Menjaga stabilitas Rupiah membutuhkan sinergi kebijakan.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia perlu melanjutkan intervensi terukur di pasar valas, DNDF, dan obligasi, serta menjaga keseimbangan antara stabilitas kurs dan pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi fiskal, pemerintah harus memberi sinyal disiplin anggaran, mengoptimalkan devisa hasil ekspor, dan mempercepat substitusi impor.
Bagi masyarakat dan investor, strategi defensif menjadi kunci: diversifikasi aset, efisiensi konsumsi, serta memprioritaskan produk dalam negeri.
Bela dan Beli Produk Indonesia
Di tengah tekanan Rupiah, gerakan bela dan beli produk lokal bukan sekadar slogan, melainkan strategi ekonomi. Mengurangi impor menekan kebutuhan dolar, memperkuat perputaran uang domestik, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan ketahanan Ekonomi Nasional.
Namun, gerakan ini harus diiringi peningkatan kualitas industri hulu agar ketergantungan bahan baku impor dapat dikurangi.
Kesimpulan
Menjaga Rupiah tetap stabil bukan hanya tugas otoritas moneter dan fiskal, tetapi juga hasil kolektif dari perilaku ekonomi nasional. Dalam kondisi krisis, membeli produk Indonesia bukan sekadar konsumsi, melainkan investasi sosial untuk menjaga ekonomi tetap hidup. (WL/Fks)
