Foto : Ilustrasi
Surabaya, wirafokus.com – Radikalisme dan budaya sampai sekarang masih menjadi momok yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini menjadi pemicu langkah extrim dan tindak kekerasan.
Hal ini menjadi keresahan tersendiri bagi Liyana Trisna Hutari salah satu mahasiswi tingkat akhir ini menggarap skripsi yang berjudul “Radikalisme dalam Konteks Budaya pada Remaja di Wilayah Arek, Tapal Kuda dan Mataraman” hingga mendapatkan predikat skripsi menarik.
“Saya meresahkan tindakan radikalisasi yang ada di Indonesia. Maka dari itu saya meneliti penyebab terjadinya radikalisme ini. Penelitian ini meliputi wilayah Arek, Tapal Kuda dan Mataraman. Dimana wilayah itu melingkupi daerah Surabaya, Banyuwangi, Madura, Kediri, dan Mojokerto,” ujar calon wisudawan Universitas 17 Agustus Surabaya saat jumpa pers di kampus UNTAG Surabaya.

Foto : Liyana Trisna Hutari
Liyana mendapatkan fakta bahwa usia pelaku radikalisme semakin muda dan menyasar remaja. Berdasarkan riset dari BNPT, 110 pelaku tindakan terorisme terdapat 29,1% yang diman berusia 31-40 tahun, 47,3% berusia 21-30 tahun dan dibawah usia 21 tahun berkisar 11,8%.
Menurut Liyana, remaja Indonesia saat ini remtan terhadap radikalisme. Hal ini disebabkan karena remaja Indonesia sedang gencar-gencarnya mencari jati diri.
Dalam penelitiannya, Liyana ingin mengetahui perbedaan potensi radikalisme yang berkaitan dengan budaya. Dari 600 siswa yang diteliti hasilnya terdapat kolerasi positif yang signifikan antara variabel budaya dengan potensi radikalisme.
“Budaya dalam wilayah Arek, Tapal Kuda, dan Mataraman ini sangat menarik. Karena budaya di wilayah ini masih sangat kental. Maka dari situ saya mencoba menggali data mengenai budaya yang berpotensi mengakibatkan radikalisme,” tutup Liyana. (Adi)
