
Oleh: Dhimam Abror Djuraid
Ada banyak orang yang takut terhadap sesuatu yang remeh-temeh. Saking takutnya sampai menjadi trauma.
Ada yang takut ketinggian, sampai tidak berani naik pesawat terbang. Takut ketinggian disebut sebagai akropobia, berada di ketinggian beberapa meterpun dia akan ketakutan dan stres luar biasa, mungkin bisa sampai pingsan.
Akropobia biasanya berhubungan dengan aeropobia, takut terbang. Ini lebih spesifik lagi, karena selain takut ketinggian juga takut naik pesawat terbang.
Bukan hanya orang-orang katrok saja yang kejangkitan gejala pobia ini. Orang-orang modern dan bahkan pesohor terkenal pun banyak yang terkena aeropobia. Salah satu yang paling tersohor adalah bintang sepakbola Belanda Dennis Bergkamp yang menjadi bintang klub Arsenal, Inggris 1995 sampai 2006.
Bergkamp asli orang Belanda tinggal di Amsterdam, tapi bermain untuk Arsenal yang bermarkas di London. Selama masa kejayaan yang hebat bersama Arsenal Bergkamp tidak pernah naik pesawat. Ia naik bus atau kapal ferry. Jadi kalau main di luar Eropa Bergkamp tidak pernah mau ikut.
Ada lagi pobia yang aneh yaitu pobia melihat benda-benda kecil terutama lubang atau tonjolan kecil yang tidak teratur. Ada juga orang yang takut terhadap benda-benda mini yang kecil seperti miniatur, misalnya miniatur manusia, binatang, mobil dan banyak lagi.
Yang belakangan banyak beredar di media sosial adalah orang yang ketakutan disuntik. Saking takutnya sampai teriak-teriak histeris sambil berusaha meraih apa saja di sekitarnya. Ada satu adegan lucu karena kebetulan yang takut suntik adalah seorang wanita yang salah pegang barang laki-laki yang ada di sebelahnya.
Ketakutan terhadap jarum suntik disebut sebagai “trypanopobia”. Sama dengan pobia lainnya pengidap trypanopobia tidak boleh dipaksa disuntik karena dia bisa pingsan dan pobia akan makin parah.
Trypanopobia biasanya satu paket dengan pobia terhadap alat-alat kedokteran yang lain misalnya stetoskop, alat tensi, gunting operasi, dan bahkan baju putih dokter.
Ketika mengalami sakit karena penyakit tertentu pengidap trypanopobia akan sulit diobati apalagi dibawa ke rumah sakit dan bertemu dokter. Alih-alih sembuh ia malah bisa pingsan.
Para pejangkit trypanopobia sekarang pasti sudah pada gemetaran mendengar berita vaksin Covid 19 yang sudah diimpor dari China sebanyak 100 juta unit dan bakal disuntikkan secara gratis.
Bagi banyak orang kabar vaksin gratis adalah kabar baik karena dengan demikian pandemi Covid 19 yang sudah hampir setahun ini diharapkan bisa cepat selesai. Tapi, bagi penderita trypanopobia vaksin gratis ini adalah mimpi buruk yang bisa berakibat fatal.
Kalau penderita trypanopobia dipaksa suntik maka dia akan stres berat dan malah membuat imunitasnya turun dan antibodi tidak tumbuh dalam tubuhnya. Bisa jadi vaksin itu tidak menjadi obat malah jadi penyakit yang membuatnya kejangkitan virus Covid. Penyakit psikosomatis berupa ketakutan yang berlebihan jauh lebih berbahaya ketimbang penyakit riil yang nyata.
Vaksin anti Covid 19 buatan pabrik farmasi China Sinovac akan digratiskan. Presiden Jokowi sudah mengumumkan penggratisan itu sekaligus akan bersedia disuntik vaksin itu. Bila perlu, Jokowi akan menjadi orang pertama yang disuntik.
Sebelum Jokowi membuat pengumuman itu Perdana Menteri Singapura B.G Lee sudah terlebih dulu melakukannya. Lee mengumumkan vaksin gratis untuk semua penduduk Amerika, dan Lee akan menjadi orang Singapura pertama yang disuntik vaksin.
Ada yang sama dan ada yang beda dari Jokowi dan Lee. Di Singapura jumlah penduduknya hanya sekitar empat juta kepala. Vaksin gratis tidak akan terlalu memberatkan keuangan negara. Singapura jauh lebih makmur dan kaya dari kita.
Indonesia penduduknya 270 juta kepala. Apakah semua akan diberi vaksin gratis? Apa keuangan negara tidak makin megap-megap di tengah kondisi resesi seperti sekarang? Presiden Jokowi serius atau guyon, atau sekadar cari sensasi dan pencitraan seperti biasanya?
Pasti Menkeu Srimulyani tambah pening kepalanya. Sama peningnya ketika Jokowi mau boyongan pindah ibukota ke Kalimantan Timur dengan biaya Rp 500 triliun. Sampai sekarang rencana boyongan itu tidak kedengaran juntrungnya.
Menurut perkiraan kasar harga vaksin Sinovac berkisar USD 5 sampai 10, atau sekitar Rp 75 ribu sampai Rp 150 ribu. Silakan kalikan dengan jumlah penduduk yang digratiskan dan silakan pikirkan berapa yang harus ditanggung negara.
Penggratisan ini akan ditangani oleh BPJS Kesehatan. Kita semua mafhum track record BPJS dalam menangani pelayanan kesehatan yang banyak dikomplain karena prosedur yang berbelit-belit.
Perbedaan lainnya antara Singapura dan Indonesia adalah, Singapura memakai produk buatan pabrik farmasi Amerika Pfiezer yang bekerja sama dengan perusahaan farmasi Jerman BionTech. Reputasi dua perusahaan multinasional itu tidak meragukan. Uji klinis terhadap vaksin dilakukan dengan teliti dan dilaporkan secara berkala kepada otoritas dan publik.
Ujicoba tahap tiga yang krusial melibatkan 30 ribu relawan dari berbagai jenis ras dan usia, mulai dari kulit putih, hitam, dan berwarna. Mulai dari usia muda sampai lanjut usia di atas 65 tahun. Tingkat efisiensinya diketahui sebesar 98 persen.
Vaksin buatan China diujicobakan di Bandung dengan jumlah relawan cuma 1.600 orang. Sampai sekarang hasilnya belum diumumkan ke publik dan tingkat efisiensinya belum diketahui.
Meski belum ketahuan efektifitas dan keamanannya tapi pemerintah sudah mengimpor 100 juta unit dari China. Padahal di sisi lain China malah mengimpor vaksin buatan Amerika untuk dijual lagi. Tentu ini jadi pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh pemerintah Indonesia.
Vaksin China dibuat dari virus yang dilemahkan dan disebut-sebut lebih baik dari vaksin Amerika yang dibuat dari stemsel. Boleh saja ada argumen seperti itu. Tapi, yang jelas efektifitas vaksin Amerika sudah dipastikan 98 persen, sedangkan vaksin produk China belum diketahui efektivitasnya.
Harus dicatat, semua pabrik vaksin, dari manapun, tidak bisa digugat kalau terjadi efek samping yang berbahaya. Jadi, risiko ditanggung penumpang.
Jokowi sudah mengingatkan agar komunikasi pemerintah diperbaiki supaya kasus vaksin gratis ini tidak menimbulkan keos sebagaimana kasus UU Omnibus Law.
Tapi kelihatannya pemerintah tidak siap dengan strategi komunikasi yang tertata dalam kasus vaksin gratis ini. Bisa-bisa penolakannya akan sama seperti Omnibus Law.
Bahkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun setengah hati mendukung vaksin China dan program vaksinasi gratis ini.
Jokowi pun hanya bisa pegang kepala sambil bergumam, “Ruwet, ruwet..” (*)
