― Advertisement ―

Jalin Tali Silaturahmi Madas Sedarah PAC Dukuh Pakis Gelar Acara Rutinan

Surabaya,Wirafokus.com - Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama serta penguatan internal Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Madas PAC Dukuh Pakis Surabaya kembali melaksanakan kegiatan...
BerandaOpiniSuper Spreader

Super Spreader

Walikota Malang, Sutiaji

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Wirafokus.com – Walikota Malang, Sutiaji, mengonfirmasi telah kejangkitan Covid 19 (1/12). Sebelumnya, Gubernur DKI Anies Badwedan dan wakilnya Achmad Reza Patria juga mengumumkan positif terjangkit Covid 19.

Dua kepala daerah di Jatim meninggal karena Covid 19. Pelaksana Tugas Bupati Sidoarjo, Nur Achmad Syaifudin meninggal dunia Agustus lalu. Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto meninggal dunia, November.

Menteri Tenaga kerja Ida Fauziah juga mengumumkan dirinya terjangkit Covid yang berarti sudah enam menteri yang pernah terjangkit.

Sudah setahun sejak pagebluk ini kali pertama memakan korban di Wuhan, China, Desember tahun silam. Belum ada tanda-tanda penyebarannya berhenti. Malah sebaliknya penyebaran makin merajalela dengan munculnya fenomena super spreader.

Super spreader adalah penyebaran dari satu orang pembawa virus yang menulari puluhan orang dalam satu waktu. Kasus super spreader pertama terjadi Seoul, Korea Selatan, Agustus 2020. Ketika itu satu orang pembawa virus menulari 56 orang lainnya.

Ketika itu seorang pembawa virus tanpa gejala (OTG) ngopi di gerai Starbucks berjam-jam dan duduk di dekat AC. Keesokan harinya karyawan dan pengunjung kedai kopi itu dinyatakan positif Covid 19. Setelah dilakukan pelacakan terungkaplah si super spreader itu.

Sejak itu super spreader menjadi fenomena baru yang dengan cepat memunculkan klaster-klaster baru. Setiap saat terjadi kerumunan besar kemungkinannya sangat tinggi untuk munculnya super spreader.

Di seluruh dunia penyebaran Covid belum ada tanda-tanda berhenti atau terkendali, kecuali di Tiongkok saja. Amerika Serikat malah menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi dengan hampir 15 juta orang terjangkit dan 280 korban meninggal.

Di seluruh dunia sudah 66 juta orang terjangkit dan korban meninggal lebih dari 1,5 juta. Di Indonesia angka terjangkit menembus 500 ribu orang dengan jumlah korban meninggal 17 ribu.

Penyebaran yang tinggi itu terjadi karena beberapa even yang menjadi super spreader. Liburan panjang November lalu menjadi super spreader yang dampaknya baru terasa sekarang. Ketika liburan pabjang itu ribuan orang berkumpul di tempat wisata dengan disiplin penerapan protokol yang rata-rata seadanya.

Tempat-tempat wisata di Malang dan sekitarnya sekarang sudah hampir kembali ke kondisi normal. Liburan akhir tahun ini sangat mungkin akan menjadi super spreader baru yang memunculkan klaster-klaster baru di Malang dan daerah-daerah lain di Jawa Timur.

Umumnya masyarakat sudah semakin kendor dalam menerapkan protokol kesehatan. Selama hampir setahun terkungkung di rumah membuat masyarakat jenuh dan ingin segera menikmati piknik.

Psikologi masyarakat sudah tidak terlalu takut lagi kepada pagebluk ini dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. Hal ini menjadi penyulut munculnya super spreader dan klaster-klaster baru.

Banyak yang berharap pada bulan-bulan awal 2021 pagebluk akan berakhir. Tapi prilaku masyarakat yang kurang disiplin membuat harapan itu tinggal angan-angan saja.

Kalau liburan akhir tahun nanti masyarakat menjubeli tempat piknik dan mal-mal maka super spreader akan terjadi lagi dan dampaknya akan terlihat pada akhir Januari atau awal Februari. Kalau muncul banyak klaster baru pada Januari dan Februari maka bisa jadi kita masih akan tetap berkutat dengan pandemi sepanjang 2021 mendatang.

Pemerintah memang sedang ngebut untuk menyelesaikan uji klinis vaksin buatan China yang sekarang tengah diujicoba di Bandung. Tapi vaksin buatan produsen farmasi Sinovac, China ini belum benar-benar bisa diandalkan.

Pemerintah mengharapkan akhir tahun ini vaksin sudah bisa beredar. Tapi melihat perkembangan yang ada sangat sulit untuk memastikan target itu bisa tercapai. Sangat mungkin vaksin Cina itu terlambat produksi dan peredarannya sampai pertengahan 2021.

Sejauh ini China tidak pernah dikenal sebagai produsen obat-obatan yang bisa diandalkan. Produsen farmasi terkemuka masih tetap dikuasai Amerika dan Eropa. Sebagaimana produk made in China yang lain vaksin China ini lebih murah dan kualitasnya di bawah produk Amerika dan Eropa.

Dalam perkembangan terbaru perusahaan farmasi Amerika Pfizer dan Moderna bekerja sama dengan perusahaan Jerman BionTech mengumumkan telah berhasil menyelesaikan uji klinis tahap tiga dan siap memprodusi vaksin.

Perusahaan Amerika berada pada pole position terdepan disusul oleh perusahaan Inggris Astra-Zenica yang bekerja sama dengan Universitas Oxford.

Dua perusahaan raksasa ini sudah melakukan uji klinis dengan sampel 30 ribu orang lebih dari berbagai kelompok umur dan etnis. Efektifitas produk Pfizer dan Moderna mencapai 95 persen. Toh otoritas obat Amerika FDA sampai sekarang belum juga mengeluarkan izin produksi.

Kehati-hatian yang super ketat ini dilakukan karena risiko negatif vaksin baru ini belum benar-benar bisa diantisipasi. Dalam sejarah, penemuan vaksin membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan sampai 10 tahun. Karena itu wajar kalau vaksin Covid 19 ini diragukan.

Di Indonesia yang penduduknya 270 juta jumlah sampelnya hanya 1.600 orang. Dibanding dengan sampel Amerika yang 30 ribu orang jadinya seperti langit dan sumur.

Karena itu vaksin Cina belum bisa jadi andalan dalam waktu dekat. Satu-satunya vaksin yang bisa diandalkan untuk mencegah super spreader adalah disiplin pribadi. Pakai masker, jaga jarak, jaga kebersihan, dan gak usah piknik dulu. (*)