SURABAYA,wirafokus.com – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur La Nyalla Mahmud Mattalitti memutuskan tidak lagi menjadi kader Partai Gerindra dan tak jadi maju pada Pemilihan Kepala Daerah Jawa Timur 2018 karena syarat uang yang diterapkan Gerindra untuk mengeluarkan rekomendasi di Pilgub Jawa Timur 2018.
La Nyalla Mattalitti memang sempat santer dikabarkan bakal maju dalam kontestasi Pilkada Jawa Timur, pada Juni 2018 mendatang. La Nyalla sejak awal digadang-gadang bakal maju dengan dukungan dari Partai Gerindra.
Hanya saja peluang La Nyalla untuk meramaikan Pilgub Jatim akhirnya sirna. Apa yang membuat La Nyalla undur diri dari pesta demokrasi lima tahunan tersebut? Alasan apa yang akhirnya membulatkan opsi La Nyalla untuk tidak maju?
La Nyalla mengaku pertama kali dimintai duit untuk uang saksi pada 9 Desember 2017 lalu. Namun, La Nyalla tak merinci uang saksi ini untuk ajang pesta demokrasi yang mana.
“Ada saat tanggal 9 itu yang ditanyakan uang saksi. Kalau siapkan uang saksi, saya direkom tapi kalau uang saksi dari 68.000 TPS dikali Rp 200.000 per orang dikali 2 berarti Rp 400.000. Itu sekitar Rp 28 miliar. Tapi, yang diminta itu Rp 48 miliar dan harus diserahkan sebelum tanggal 20 Desember 2017. Nggak sanggup saya, ini namanya saya beli rekom, saya nggak mau,” ujar La Nyalla dalam konferensi pers di Restoran Mbok Berek, Jl Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2017)
Mantan Ketum PSSI itu melanjutkan cerita. Ketua DPD Gerindra Jatim Soepriyatno disebut La Nyalla meminta Rp 170 miliar kepada dirinya. Namun, La Nyalla menolak.
“Dia minta uang Rp 170 miliar. Langsung saya sampaikan kepada Daniel (pengusaha Tubagus Daniel Hidayat, bendahara La Nyalla saat mencoba mendapatkan rekom) saya lebih baik bangun masjid saya bilang. Biar yang mengganjal ini tanggung jawab,” ujarnya.
Dalam keterangan kepada sejumlah awak media, La Nyalla menerangkan, sempat mendapatkan surat mandat dari Prabowo 11 Desember lalu, surat mandat tersebut berlaku 10 hari dan berakhir pada Rabu (20/12/2017) malam.
Dalam surat nomor 12-0036/B/DPP-GERINDRA/Pilkada/2017 itu dijelaskan bahwa nama La Nyalla sebagai cagub Jatim sedang diproses oleh DPP Partai Gerindra. Karena itu, selain diminta mencari mitra koalisi, La Nyalla juga diminta untuk menyiapkan kelengkapan pemenangan.
Salah satu kelengkapan pemenangan, ucap La Nyalla, ia sempat diminta uang sebesar Rp 40 miliar oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Uang itu, untuk saksi dalam Pilkada Jatim.
Permintaan itu, saat La Nyalla melangsungkan pertemuan dengan Prabowo di Hambalang, Bogor, Sabtu (10/12/2017), bertepatan dengan Gerindra mengumumkan Mayjen (Purn) Sudrajat sebagai calon gubernur Jawa Barat.
“Saya dimintai uang Rp 40 miliar. Uang saksi disuruh serahkan di tanggal 20 Desember 2017, kalau tidak bisa saya tidak akan direkomendasi,” ujar La Nyalla di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2018). “Yang minta Bapak Prabowo kok,” katanya.
Menurut La Nyalla, ia belum menyanggupi, menyerahkan uang sebesar Rp 40 miliar untuk Prabowo. Uang harus diserahkan sebelum tanggal 20 Desember 2017.
La Nyalla mengaku, dimarahi oleh Prabowo, karena persoalan itu.
“Saya dipanggil kosong delapan kok dimaki-maki. Prabowo itu siapa? Saya bukan pegawainya dia, kok dia maki-maki saya,” ujar La Nyalla.
La Nyalla mengatakan, tak menyangka akan dimarahi Prabowo karena permasalahan uang Rp 40 miliar.
La Nyalla merasa disia-siakan Prabowo. Padahal, ia telah mendukung Prabowo dari 2009, saat masih menjadi calon wakil presiden.
“Saya ini, orang bego kalau masih mau mendukung Pak Prabowo Subianto, karena saya sudah berjuang habis-habisan di 2009, 2014. Sampai kemarin pun saya masih kibarkan bendera Prabowo Subianto dan bendera Gerindra di Jawa Timur,” ujar La Nyalla.
La Nyalla memutuskan untuk keluar dari Partai Gerindra.
“Ada yang tanya, ‘apa saya masih mau di Gerindra?’ Tidak, saya tidak akan mau lagi di Gerindra,” ujar La Nyalla. (red/kj)
