― Advertisement ―

Polda Jatim Amankan 11 Orang Terkait Dugaan Upaya Memicu Kericuhan di Tengah Aksi Mahasiswa Surabaya

SURABAYA,wirafokus.com– Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mengamankan 11 orang terkait dugaan upaya memicu kericuhan di tengah kegiatan penyampaian aspirasi mahasiswa di kawasan Gedung...
BerandaPeristiwaGus Bahar Soroti NU: “Sedang Tidak Meneduhkan”

Gus Bahar Soroti NU: “Sedang Tidak Meneduhkan”

Gus Bahar
SURABAYA,wirafokus.com– Kritik terhadap kondisi Nahdlatul Ulama (NU) kembali mencuat. Gus Bahar melalui tulisannya berjudul “NU Sedang Tidak Meneduhkan” menyoroti perubahan peran organisasi keagamaan tersebut yang dinilai semakin dekat dengan lingkaran kekuasaan, sementara suara pembelaan terhadap masyarakat kecil dinilai semakin melemah.

Dalam tulisannya, Gus Bahar menggunakan perumpamaan NU sebagai pohon besar yang seharusnya memberikan keteduhan bagi masyarakat. Menurutnya, kemegahan organisasi, banyaknya kegiatan keagamaan, serta kedekatan dengan berbagai kalangan elite tidak seharusnya membuat NU kehilangan fungsi utamanya sebagai pengayom umat.

«“Krisis terbesar yang sedang terjadi saat ini adalah pergeseran kompas batin dalam cara kita meyakini dan menjalankan ajaran,” tulis Gus Bahar.»

Ia menilai nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah semestinya tidak berhenti pada seremoni keagamaan, tetapi diwujudkan dalam keberpihakan nyata kepada masyarakat yang lemah dan tertindas.

Soroti Kedekatan dengan Kekuasaan

Gus Bahar juga menyinggung kondisi masyarakat yang menurutnya tengah menghadapi tekanan ekonomi. Petani, nelayan, buruh, dan kelompok masyarakat kecil disebut membutuhkan ruang untuk mengadu dan mendapatkan perlindungan.

Dalam konteks tersebut, ia mempertanyakan keberanian moral organisasi keagamaan dalam menyuarakan kepentingan rakyat ketika berhadapan dengan kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat.

Menurutnya, agama seharusnya menjadi kekuatan moral untuk menghadapi ketidakadilan, bukan menjadi pembenaran bagi kepentingan ekonomi maupun politik tertentu.

“Ketika nilai agama dilepaskan dari denyut nadi penderitaan rakyat, maka agama kehilangan ruhnya,” tulisnya.

Mengkritik Perebutan Jabatan

Selain persoalan keberpihakan kepada rakyat, Gus Bahar juga mengkritik dinamika perebutan kepengurusan dalam organisasi keagamaan.

Ia menggambarkan adanya persaingan untuk mendapatkan posisi di tingkat pusat maupun daerah yang berpotensi menggeser semangat pengabdian dan pelayanan.

Menurutnya, ketika kepentingan jabatan dan kekuasaan menjadi terlalu dominan, hubungan antarsesama warga, ulama, dan kiai dapat ikut terdampak.

Gus Bahar mengingatkan bahwa organisasi keagamaan pada dasarnya dibangun untuk menjadi rumah bersama bagi umat, termasuk menjadi tempat masyarakat menyampaikan persoalan dan mendapatkan pengayoman.

Mengajak Menghidupkan Keteladanan KH Hasyim Asy’ari

Dalam bagian lain tulisannya, Gus Bahar mengajak warga NU untuk tidak hanya mengenang kebesaran Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, nama besar para pendiri NU tidak cukup hanya dijadikan simbol kebanggaan atau dipajang dalam berbagai kegiatan. Nilai perjuangan, kesederhanaan, keberanian moral, dan kepedulian terhadap masyarakat harus menjadi pedoman nyata.

“Kebesaran pendiri tidak boleh sekadar jadi pajangan dinding, melainkan harus menjelma menjadi kompas moral bagi khalayak umum,” tulisnya.

“Keteduhan” sebagai Ukuran Kepemimpinan

Gus Bahar kemudian menekankan bahwa ukuran keberhasilan sebuah organisasi bukan semata-mata besarnya struktur, banyaknya kegiatan, atau kedekatannya dengan pusat kekuasaan.

Ia menggunakan metafora pohon untuk menggambarkan kepemimpinan yang ideal.

“Keteduhan sebuah pohon tidak diukur dari seberapa megah dahannya merentang, melainkan dari seberapa sejuk orang-orang di bawahnya dapat bernapas,” tulisnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pengurus, ulama hingga warga biasa, untuk kembali menjadikan pelayanan dan kepedulian terhadap masyarakat sebagai ukuran kehormatan.

Pada akhirnya, Gus Bahar menegaskan bahwa pemulihan “keteduhan NU” tidak cukup dilakukan melalui pidato maupun slogan. Menurutnya, perubahan harus dimulai dari keberanian setiap individu untuk menjadi ruang aman dan pelindung bagi sesama.

“NU akan menemukan kembali mahkota terindahnya. Yaitu, menjadi tempat berteduh yang sejuk bagi seluruh alam,” pungkasnya.(WL/Fks)