
Kiai Makki Nasir, cicit Syaichona Moh. Kholil Bangkalan, menegaskan bahwa program NU abad kedua harus mampu memberikan stimulus yang kuat bagi Generasi Z (Gen Z) untuk aktif terlibat dalam kaderisasi dan pengembangan organisasi.
Menurutnya, Gen Z tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek kaderisasi, tetapi harus menjadi subjek perubahan dan bagian dari kepemimpinan masa depan NU.
“NU memasuki abad kedua dengan tantangan yang berbeda. Karena itu, kaderisasi harus mampu menjawab karakter generasi baru, terutama Gen Z yang akan menjadi kekuatan penting bagi masa depan Indonesia,” ujar Kiai Makki.
Ia menilai, Gen Z memiliki posisi strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena itu, NU perlu membangun sistem kaderisasi yang tidak hanya memperkuat identitas ke-NU-an, tetapi juga meningkatkan kapasitas intelektual, profesionalitas, kepemimpinan, kewirausahaan, literasi digital, dan kemampuan membaca perubahan sosial.
“Kaderisasi tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Anak muda harus diberi ruang untuk belajar, memimpin, berinovasi, melakukan riset, serta menyelesaikan persoalan masyarakat,” tegasnya.
Kiai Makki juga mendorong agar digitalisasi menjadi bagian penting dari kaderisasi NU. Ruang digital harus dimanfaatkan untuk pendidikan, dakwah, literasi, pengembangan kepemimpinan, hingga penguatan jejaring anak muda NU.
Menurutnya, keberhasilan NU memasuki abad kedua tidak hanya ditentukan oleh kekuatan struktur organisasi, tetapi juga oleh kemampuan NU menyiapkan generasi penerus.
“Muktamar ke-35 harus menjadi momentum merumuskan arsitektur kaderisasi NU abad kedua yang adaptif dan visioner. Gen Z bukan sekadar penerima estafet, tetapi harus dipersiapkan menjadi generasi yang mampu membawa NU dan Indonesia menuju masa depan,” pungkas Kiai Makki Nasir. (yus bakir)
