
Stanley 22 tahun, mengaku menjadi korban dugaan pengeroyokan setelah keributan yang, menurut versinya, bermula dari tindakan catcalling terhadap teman perempuannya.
Peristiwa itu disebut terjadi sekitar pukul 01.30 hingga 02.00 WIB.
Saat itu, Stanley sedang makan bersama sejumlah teman. Menurut keterangannya, sekelompok orang datang dan mulai mengganggu teman perempuannya.
Stanley mengaku awalnya memilih diam. Ia tidak ingin menanggapi tindakan tersebut karena khawatir keributan semakin meluas.
Namun, gangguan disebut terus terjadi.
Situasi berubah ketika Stanley melihat salah seorang dari kelompok tersebut bernama Bayu, yang menurutnya mengenal kakaknya. Stanley kemudian mencoba mengajak Bayu berbicara secara terpisah.
“Tujuan saya hanya ingin bicara baik-baik supaya tidak terjadi salah paham,” kata Stanley.
Alih-alih meredakan suasana, percakapan itu justru berkembang menjadi ketegangan. Stanley mengaku didorong hingga ke arah sudut lokasi.
Ia juga menyebut seorang pria bernama Evis adalah kakak bayu diduga ikut memprovokasi situasi.
Dari titik itu, menurut Stanley, kekerasan fisik mulai terjadi. Ia mengaku tidak hanya berhadapan dengan satu orang, melainkan beberapa orang yang kemudian melakukan pemukulan terhadap dirinya.
Stanley menyebut Michael dan Abdi Putra sebagai dua dari tiga orang yang dilaporkannya ke polisi. Ia mengaku mendapat pukulan dan tamparan, terutama di bagian kepala.
“Kalau saya, tidak ada memukul balik sama sekali. Saya hanya berusaha melindungi diri,” ujarnya.
Di tengah keributan, teman perempuan Stanley disebut ikut membela. Kontak fisik kemudian melibatkan lebih banyak orang. Termasuk michael memukul teman perempuan Stanley dan dibalas pukul secara membabibuta.Keributan sempat memanas sebelum akhirnya mereda.
Stanley mengatakan dirinya sempat menganggap persoalan telah selesai setelah Bayu mengetahui hubungan keluarganya dengan kakak Stanley.
Keduanya bahkan sempat berbicara dan suasana disebut mulai mencair.
Stanley dan teman-temannya kemudian kembali masuk ke dalam depot untuk melanjutkan makan. Namun, ketegangan kembali muncul ketika Evis disebut menuduh Stanley menyebabkan istrinya terjatuh.
Tuduhan itu dibantah Stanley. Ia menyebut rekaman CCTV di lokasi menjadi bukti penting untuk menguji kronologi.
“Dari CCTV terlihat bagaimana kejadian sebenarnya. Karena itu, rekamannya harus diperiksa secara utuh,” katanya.
Menurut Stanley, rekaman tersebut menunjukkan perempuan itu terjatuh bukan akibat pukulan atau dorongan yang dilakukannya. Perbedaan versi mengenai peristiwa itu kemudian berkembang menjadi persoalan hukum.
Stanley mengaku pihak lain lebih dahulu membuat laporan polisi. Ia mengetahui hal tersebut setelah ibunya menerima pesan WhatsApp dari Bayu yang menyampaikan bahwa dirinya akan dilaporkan.
Merasa menjadi korban kekerasan dan menghadapi laporan dengan versi yang berbeda, Stanley kemudian membuat laporan balik ke Polrestabes Surabaya pada hari yang sama.
“Saya langsung membuat laporan. Saya melaporkan tiga orang yang diduga melakukan penganiayaan terhadap saya,” ujarnya.
Stanley mengaku telah menyerahkan kronologi dan bukti yang dimilikinya kepada penyidik. Ia berharap rekaman CCTV, keterangan saksi, serta seluruh rangkaian peristiwa diperiksa secara menyeluruh.
Menurutnya, perkara ini tidak dapat dilihat hanya dari bagian akhir ketika keributan telah berkembang menjadi kontak fisik.
Titik awal konflik, dugaan gangguan terhadap teman perempuannya, percakapan dengan Bayu, hingga dugaan pemukulan terhadap dirinya, menurut Stanley, harus ditelusuri secara berurutan.
“Kami tidak mau meminta maaf karena menurut kami, kami tidak melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan. Biar bukti dan proses hukum yang menjelaskan,” katanya.
Kasus ini kini berujung pada saling laporan polisi. Versi Stanley berdasarkan rekaman dari cctv gentong mas masih menjadi salah satu bukti di perkara tersebut.
Kapolrestabes Kombespol. Dr.Luthfie Sulistiawan, S.I.K.,M.H.,M.Si. saat di hubungi Via WA nya sampai saat ini belum ada jawaban yang pasti, hingga berita ini naik.( Kiky)
