
Sekolah seluas 6,6 hektare yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu itu ditargetkan mulai menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) pada awal Agustus 2026.
Qodari mengaku terkesan dengan perkembangan pembangunan kawasan pendidikan tersebut yang sebelumnya merupakan lahan kosong.
Menurutnya, transformasi itu menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat.
“Dari sawah, sekarang punya gedung yang begini bagus dan megah. Alhamdulillah, kami sangat bangga. Saya yakin Bapak Presiden juga sangat bangga dan terharu jika melihat langsung perkembangan pembangunan Sekolah Rakyat ini,” ujar Qodari.
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dengan fasilitas yang lengkap.
Kompleks pendidikan ini mencakup gedung terpadu untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, asrama siswa dan guru, lapangan mini soccer, lapangan basket, lapangan voli, ruang serbaguna, masjid, guest house, kantin, hingga dapur umum. Sementara itu, peralatan laboratorium masih dalam tahap pendataan sebelum digunakan.
Menurut Qodari, Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kategori desil satu dan dua sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan melalui pendidikan.
“Mudah-mudahan tempat ini menjadi pintu dan jalan bagi perubahan nasib anak-anak kita yang kurang beruntung serta keluarga mereka. Ini adalah momentum untuk menyaksikan bagaimana program Presiden Prabowo diimplementasikan dan menjadi nyata dari sebuah ide,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Antiek Sugiharti mengatakan, sebanyak 270 siswa baru jenjang SD, SMP, dan SMA akan mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 30 Juli 2026.
“Tanggal 30 mereka mulai masuk untuk administrasi, lalu tanggal 31 mulai menginap dan menjalani tes kesehatan khusus siswa SMA. Selanjutnya, tanggal 1 Agustus disusul tes kesehatan untuk jenjang SD dan SMP,” ujar Antiek.
Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, para siswa akan mengikuti rangkaian kegiatan yang dipandu kementerian terkait sebelum memulai proses belajar mengajar.
Selain menerima 270 siswa baru, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 juga akan menampung sekitar 100 siswa rintisan jenjang SMA yang sebelumnya belajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Dengan demikian, total sekitar 370 siswa akan menempuh pendidikan di kompleks tersebut.
Antiek mengimbau siswa membawa pakaian secukupnya untuk beberapa hari pertama serta seragam lama apabila seragam baru dari Sekolah Rakyat belum diterima.
Ia menambahkan, proses penjaringan siswa dilakukan melalui kolaborasi antara pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), pendamping kecamatan, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Pemerintah Kota Surabaya. Data calon siswa kemudian diverifikasi sebelum masuk ke sistem pendataan.
Menurut Antiek, kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 diharapkan menjadi solusi untuk menekan angka putus sekolah sekaligus membuka peluang masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Surabaya. (Pin)
