
Nisarofatin Terduga korban, warga Dusun Tetelan, Desa Kandangtepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, seorang perempuan muda yang sehari-hari bekerja sebagai petani, ditemukan terbujur kaku di lantai tanah sebuah gudang dengan kondisi mulut berbusa dan diduga banyak luka lebam disekujur tumbuhnya.
Atas peristiwa kejadian tersebut, Pihak keluarga melalui pelapor, Sorin Abadi (34), telah resmi membawa kasus ini ke ranah hukum pada Sabtu dini hari (4/4/2026) pukul 01.30 WIB, kemaren.
Berdasarkan informasi narasumber yang dihimpun awak media di tempat kejadian perkara (TKP), khususnya narasumber dari pihak keluarga terduga korban, kematian Nisarofatin banyak kejanggalan yang mencurigakan terkait sekujur tubuhnya.
Sangat ironis, apa yang dilihat oleh saksi mata di TKP bukanlah sebuah peristiwa kematian biasa. Diduga “Ada orkestra kejanggalan yang langsung tertangkap mata, mengindikasikan bahwa ini bukanlah sekadar kasus bunuh diri konvensional, melainkan ada potensi intervensi pihak luar”.
Menurut keteranga pihak keluarga (Sorin Abadi) menduga ada yang janggal terkait apa yang dilihatnya di TKP terkait kondisi fisik tempat kejadian dan posisi korban memicu analisis tajam mengenai adanya kejanggalan struktural dan tak logis yakni :
åSelendang Bayi yang Terputus di Usuk Atap :
Tepat di atas posisi tergeletaknya korban, ditemukan sebuah selendang bayi yang terikat pada kayu usuk (atap) rumah dalam kondisi sudah terputus. Jika koridor awalnya adalah dugaan gantung diri, material selendang bayi dan beban tubuh korban menjadi titik krusial yang harus diperiksa secara forensik. Apakah selendang tersebut putus karena beban, atau sengaja dipotong untuk mengaburkan fakta?
å Jeratan Ganda di Perut: Ban Luar dan Kabel Merah
Ini adalah anomali paling mencolok dalam laporan kepolisian. Pada bagian perut korban, terdapat lilitan erat dari ban luar kendaraan dan kabel berwarna merah. Secara psikologis dan mekanis, sangat tidak lazim bagi seseorang yang berniat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri untuk mengikat perutnya sendiri dengan dua material tebal dan kaku secara bersamaan. Ikatan di perut ini mengarah kuat pada adanya upaya imobilisasi (pelumpuhan) atau kekerasan fisik sebelum korban kehilangan kesadaran.
å Busa dari Hidung dan Mulut :
Setelah lilitan di perut dilepas oleh Abdul Hanan dan istrinya, korban sempat dipindahkan ke kamar dalam kondisi masih bernapas. Namun, setibanya di Puskesmas Senduro, nyawa korban tidak tertolong. Petugas medis dan personel Polsek yang berjaga mendapati korban mengeluarkan busa dari hidung dan mulutnya. Gejala keluar busa ini secara medis kerap diidentifikasikan dengan dua hal: asfiksia berat (kekurangan oksigen ekstrem akibat jeratan/pencekikan) atau adanya indikasi keracunan zat kimia.
Usut punyak usut beredar issue kabar sangat senter di kalangan tetangga terdekat, bahwa terduga korban (Nisarofatin) dalam kehidupan sehari-hari sering cek-cok dengan “Suwaminya”???.

PUBLIK dan Masyarakat Desa Kandangtepus kini dirundung kecemasan sekaligus rasa penasaran yang tinggi !!! ;
• Apakah Nisarofatin merupakan korban dari sebuah skenario “pembunuhan yang mencoba disamarkan”???…
• Ataukah ada motif lain di balik jeratan ban luar dan kabel merah tersebut???…
• ???? : Mampukah POLRES LUMAJANG dan POLSEK SENDURO menjalankan Polri PRESISI secara benar???….
• ???? : Lama Waktu Sudah 4 Bulan Berjalan Mampukah “SDM” penyidik Polsek Senduro dan Polres Lumajang Berhasil Mengungkap Kasus Kematian Nisarofatin…???. (dwiw)
