Penyintas Covid-19 Masih Sulit Diterima Masyarakat

21
Para penyintas Covid-19 RSLI yang diwisuda, Minggu (14/3).

Surabaya, Wirafokus.com- Sembilan bulan lebih beroperasi, Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) kembali mewisuda penyintas Covid-19, Minggu (14/3). Kali ini tercatat ada 17 penyintas Covid-19 yang diwisuda.

Jumlah tersebut menggenapi 6.627 orang yang telah dirawat dan dinyatakan sembuh dari Covid-19. Sedang yang dirawat, hingga kini jumlahnya mencapai 6.949 orang.

Wisuda kali ini di antaranya terdapat satu keluarga (ayah, ibu dan dua anak), prajurit TNI dan beberapa individu.

“Mereka dari klaster instansi/perusahaan, keluarga serta individu,” kata Radian Jadid, Ketua Relawan Pendamping Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 (PPKPC) RSLI.

Sesuai KMK No.HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19, pasien dengan tanpa gejala hingga gejala sedang yang telah dirawat 10 hari dan tidak menunjukkan adanya gejala baru yang timbul, dapat dinyatakan sembuh dan dapat keluar rumah sakit.

Selanjutnya, kata Jadid, yang bersangkutan bisa menjalankan isolasi mandiri selama beberapa hari untuk memastikan tidak adanya gejala lain yang muncul.

Yang menarik, hingga kini masih sering terjadi beberapa kendala yang dihadapi oleh pasien sembuh namun hasil swab terakhir masih positif. Selain itu, masih ditemukan beberapa kejadian berupa penolakan penyintas Covid-19 yang sudah sembuh untuk kembali pulang ke lingkungannya.

Bahkan, ada yang ditolak dari tempatnya bekerja karena mensyaratkan hasil swab yang harus negatif. Seperti dialami salah seorang wisudawan. Sebut saja Ny. Melati (samaran), penyintas yang berdomisili di kawasan Surabaya Selatan.

Saat akan dipulangkan dari rumah sakit, ia sudah gelisah. Ketika ditanya relawan pendamping, ia mengaku takut kembali ke kosnya. Sebab, ia merasa belum sembuh. Sedang pengelola kos yang sudah mengetahui kesembuhannya di RSLI, tidak mau menerima sebelum ia menunjukkan hasil swab negatif. Sehingga, ia minta ditemani saat kembali ke kos.

Sita Pramesthi, salah seorang relawan PPKPC- RSLI memberikan edukasi kepada Ny. Melati. Sita meyakinkan bahwa Ny. Melati sudah sembuh. Putusan dari Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) merupakan hasil kesimpulan selama perawatan oleh tim dokter yang berkompeten dalam menangani Covid-19.

Artinya, kesembuhan yang dinyatakan DPJP sudah dengan pertimbangan medis yang matang dan terukur.

“Sampean harus PD (Percaya Diri) dan yakin sudah sembuh, serta siap kembali beraktivitas seperti biasa dengan tetap menjalankan protokol kesehatan selama pandemi masih berlangsung,” kata Sita.

Selanjutnya, Ny. Melati diantar pulang hingga sampai ke tempat kosnya di kawasan Surabaya Selatan. Selanjutnya oleh relawan pendamping dilakukan mediasi antara penyintas dengan pengelola kos.

Kepada pengelola kos dijelaskan bahwa Ny. Melati sudah menjalani isolasi dan perawatan 10 hari di RSLI. Dia pun dinyatakan sembuh oleh DPJP serta sudah tidak membahayakan bagi orang lain. Potensi penularan dari virus yang masuk ke tubuhnya sudah sangat sedikit.

Dijelaskan pula apa yang harus dilakukan penyintas selama isolasi mandiri tambahan 5 hari yang disarankan. Yaitu agar penyintas memastikan tidak timbul lagi gejala Covid-19, sehingga ia lebih siap kembali ke masyarakat.

Pengelola kos pun bisa menerima penjelasan tersebut. Namun, ia masih berpikir untuk meminta pertimbangan dari RT dan Satgas Covid-19 setempat, serta minta dibantu untuk menjelaskan.

Selanjutnya RT dan satgas setempat dihubungi dan dijelaskan. Ternyata ia mendapat respon positif dari mereka. Tidak hanya bisa menerima penjelasan tentang pasien sembuh, tapi juga siap dan sanggup berkoordinasi lebih lanjut dalam mengawasi dan membantu penyintas menyelesaikan isolasi mandiri.

Beberapa waktu sebelumnya, Ny. Mawar (nama samaran), penyintas asal Kota Udang, mengabarkan kesembuhannya kepada keluarga dan perusahan setelah dirawat selama 10 hari di RSLI.

Berkas-berkas dari RSLI berupa rekam medis, surat keterangan sembuh, serta surat rujuk balik monitoring ke faskes ia foto dan dikirimkan ke perusahaan tempatnya bekerja.

Pihak perusahaan minta disertakan hasil labnya yang terakhir. Ny. Mawar menyampaikan hasil swab terakhir masih positif, tapi perusahaan meminta hasil swab harus negatif.

Ny. Mawar menceritakan kendala tersebut kepada relawan pendamping RSLI. Ia juga berkeluh kesah bahwa selama menunggu masuk kerja tidak dibiayai kebutuhan oleh perusahaan. Juga tetang test PCR yang harus ia tanggung sendiri biayanya.

Tim relawan memotivasi penyintas tersebut, meyakinkan bahwa dia sudah sembuh. Juga memotivasi Ny. Mawar untuk melakukan negosiasi dengan perusahaan, meminta agar tidak perlu swab PCR negatif. Karena sudah dinyatakan sembuh oleh DPJP.

Bila tidak bisa, diupayakan pakai swab antigen saja, karena biayanya lebih murah dan hasil lebih cepat.

Setelah dilakukan pendekatan, negosisasi dan mediasi dibantu oleh relawan, perusahaan akhirnya mau menerima opsi swab antigen sebagai persyaratan Ny. Mawar kembali masuk kerja.

“Setelah hari Minggu ini dibantu menjalani swab antigen dan ternyata hasilnya sudah negatif, Ny. Mawar mengabarkan hal tesebut ke perusahaan dan alhamdulillah mendapatkan kepastian Senin ini bisa bekerja,” terang Jadid.

Diakui, memang dari berkali-kali kepulangan pasien sembuh di RSLI, masih sering ditemukan kendala nonmedis yang menyertai para penyintas tersebut, sehingga menjadikan beban tersendiri dalam upaya menyiapkan dirinya kembali beraktivitas normal di masyarakat.

Masih beragamnya pemahaman masyarakat awam, perangkat RT/RW, serta perusahaan akan Covid-19, khususnya tentang pemahaman pembacaan positif atau negatif dari hasil swab PCR, serta kondisi sakit ataupun sembuh pasien Covid-19 masih sering menjadi permasalahan yang dialami para penyintas Covid-19.

Permasalahan penyintas menghadapi kesulitan secara ekonomi dan tertekan secara psikologis, serta takut hasil tesnya positif masih sering dijumpai oleh relawan pendamping PPKPC-RSLI.

Radian Jadid menandaskan bahwa hal tersebut hendaknya menjadikan catatan bersama bagi semua stakeholder terkait Covid-19. Bahwa permasalahan Covid-19 tidak hanya pada ranah medis saja, tapi juga mencakup aspek nonmedis seperti psikologis, ekonomi, serta sosial kemasyarakatan.

“Penyintas Covid-19 di mana saja harus percaya diri kalau sudah sembuh. Mereka berhak hidup normal serta mendapatkan hak-haknya dalam bekerja dan hidup bermasyarakat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Dwi Arifin