Tim Siber Polri Ungkap Penipuan Daring Dengan Kerugian 17 Miliar

35
Dirtipidsiber Bareskrim Polri, saat memberikan keterangan terkait penipuan daring dan pencucian uang

Jakarta, Wirafokus.com- Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri berhasil mengungkap sekaligus menangkap pelaku penipuan daring dan pencucian uang.

Pelaku yang berinisial YMP (33), pekerjaan sebagai karyawan swasta

“Tersangka ditangkap di kawasan Kelurahan Selong Kecamatan Kebayoran Baru, Sabtu (9/1/2021) sekitar pukul 20.00 WIB, dalam melaksanakan aksinya pelaku meminta bantuan pihak ketiga untuk membuat website belanja daring, website ini juga diketahui menggunakan hosting di luar negeri,” kata Direktur Tindak Pidana Siber (Dirtipidsiber) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Slamet Uliandi, Senin, (11/01/2021).

Slamet juga menambahkan pelaku melancarkan aksinya dengan cara membuat sebuah website bernama GrabToko (www.grabtoko.com) yang menawarkan berbagai macam barang elektronik dengan harga yang sangat murah, hal ini mengundang minat banyak orang yang akhirnya berbelanja namun barang tidak kunjung dikirimkan.

Sementara itu Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri KBP Adex Yudiswan menjelaskan dari informasi pelaku, diketahui ada sejumlah 980 (sembilan ratus delapan puluh) costumer yang memesan barang elektronik dari situs GrabToko, namun hanya 9 (sembilan) customer yang menerima barang pesanan tersebut. dan 9 (sembilan) barang yang dikirimkan kepada costumer itu ternyata dibeli pelaku di ITC oleh pelaku dengan harga normal.

“Untuk melancarkan aksinya pelaku menyewa kantor di kawasan Kuningan, dan mempekerjakan 6 (enam) orang karyawan costumer service, yang bertugas untuk meminta tambahan waktu pengiriman barang, apabila ada konsumen yang bertanya mengapa barang pesanannya tidak kunjung dikirimkan,” tambahnya

“Ke enam costumer service tersebut bekerja dengan dengan dibekali laptop oleh pelaku, yang ternyata didapatkan dengan cara menyewa dari orang lain,” pungkasnya.

Sementara itu untuk memperlancar proses penyidikan, Dittipidsiber Bareskrim Polri dibantu oleh beberapa bank yang di antaranya bank BCA, BNI & BRI. Pihak bank juga membantu penyidik dalam upaya penanganan tindak pidana ini. Total kerugian ditafsir sekitar 17 Miliar Rupiah dari pihak iklan dan pembeli.

Pelaku juga disinyalir menginvestasikan uang hasil kejahatannya ke dalam bentuk crypto currency, dan hal ini akan ditangani melalui berkas terpisah.

Dari pengungkapan kasus tersebut polisi berhasil mengamankan barang bukti di antaranya 4 (empat) unit ponsel pintar merk Samsung dan Oppo, 1 (satu) unit laptop, 2 (dua) buah Simcard, 1 (satu) buah KTP dan 4 (empat) buku cek dari bank BRI, BCA dan Mandiri.

Dirtipidsiber menjelaskan bahwa dalam era 4.0 dan memasuki era 5.0 ini dinamika kejahatan menggunakan media dunia maya berkembang terus dan polanya sama, menjual barang murah untuk mengumpulkan korban, baik berupa elektronik, logam mulia kendaraan, properti dan masih banyak penawaran lainnya.

“Oleh karena itu berhati-hati dengan bujuk rayu barang murah dan sangat menguntungkan. Kroscek dan banyak melakukan riset sebelum terjebak dengan modus penipuan serupa. Kami juga selalu memantau dan melakukan upaya agar hal ini tidak terjadi lagi,” jelas Slamet.

Atas perbuatannya, pelaku akan dijerat dengan pasal 28 ayat 1 juncto pasal 45A ayat 1 undang-undang nomor 19 tahun 2016 atas perubahan undang-undang nomor 11 tahun 2008 dan/atau pasal 378 KUHP dan/atau pasal 82 dan/atau pasal 85 undang-undang nomor 3 tahun 2011 tentang Transfer Dana, dengan ancaman maksimal 6 (enam) tahun penjara dan / atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah). (red/why)