― Advertisement ―

Jalin Tali Silaturahmi Madas Sedarah PAC Dukuh Pakis Gelar Acara Rutinan

Surabaya,Wirafokus.com - Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama serta penguatan internal Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Madas PAC Dukuh Pakis Surabaya kembali melaksanakan kegiatan...
BerandaKotaM, Zein Alhadad: Pengganti Bu Risma Harus Peduli Sepakbola

M, Zein Alhadad: Pengganti Bu Risma Harus Peduli Sepakbola

M, Zein Alhadad dan Yusuf Ekodono

Surabaya, wirafokus.com- Siapa yang akan memimpin Surabaya menggantikan Tri Rismaharini untuk lima tahun ke depan (2021-2026) akan ditentukan dalam Pilkada Surabaya, 9 Desember 2020. Siapapun yang akan terpilih, tidak jadi soal. Apakah pasangan nomor urut 1 Eri Cahyadi-Armuji (ErJi) atau pasangan nomor urut 2 Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno (Maju).

Yang penting, wali kota terpilih harus bisa memajukan Kota Surabaya menjadi lebih baik lagi dan memakmurkan warganya, gak ngisin-ngisini, opo maneh sampek korupsi.

Kalangan pengusaha juga berharap agar perizinan lebih dipermudah dan tidak berbelit-belit. Demikian para seniman, mulai ludruk, penari, pelukis dan lainnya, berharap wali kota pengganti Risma lebih peduli pada mereka.

Tak terkecuali, para pemain, pelatih dan suporter fanatik Persebaya yang biasa dipanggil Bonek.

“Siapapun yang terpilih sebagai wali kota, harus peduli pada sepakbola,” kata M.Zein Alhadad, legenda sepakbola Niac Mitra dan Timnas, Selasa (8/12/2020).

Mengapa demikian? Sebab, menurut Alhadad, Surabaya merupakan barometer sepakbola nasional. Di Kota Pahlawan ini ada dua klub legendaris, yakni Niac Mitra dan Persebaya dengan suporternya yang dikenal sangat fanatik, Bonek. Bahkan, pada masa kejayaan Niac Mitra di tahun 1980-an, penonton selalu berjubel di stadion. Pemandangan serupa juga terlihat apabila Persebaya bertanding, sampai sekarang.

Alhadad masih ingat, bagaimana kepedulian Wali Kota H Poernomo Kasidi maupun H Soenarto Sumoprawiro (Cak Narto) terhadap sepakbola.

“Kala itu, hampir setiap kali Niac Mitra bertanding, Pak Poer selalu hadir di lapangan untuk memberi dukungan,” kenang mantan kapten Niac Mitra yang akrab disapa Mamak itu.

Legenda Persebaya Yusuf Ekodono juga punya pendapat sama. Dia berharap agar wali kota pengganti Risma lebih peduli pada sepakbola, seperti Poernomo Kasidi dan Cak Narto.

Bahkan, ketika Poernomo Kasidi menjabat wali kota, Persebaya berhasil tampil sebagai juara Kompetisi Divisi Utama PSSI Perserikatan 1986-1987. Saat itu, dalam final Nuryono Hariadi dkk mengalahkan Persija 3-2 di Stadion Utama Senayan, Jakarta.

Atas keberhasilan tersebut, beberapa pemain diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Pemkot Surabaya, seperti di Dispenda dan PDAM. Diantaranya adalah Yusuf Ekodono, Putut Wijanarko, Anak Agung Raebawa (alm), Maura Helly, Seger Sutrisno, Muharom Rusdiana dan Nanang Harmuji.

“Saya sempat lima tahun di PDAM Surabaya, tahun 1987 sampai 1992. Saya mundur karena saya ingin fokus di sepakbola,” aku Yusuf Ekodono yang kini menjadi pelatih klub Liga 2, PS Hizbul Wathan (PSHW).

Demikian pula di masa Cak Narto.
Persebaya berhasil tampil sebagai juara kompetisi Liga Indonesia 1996-1997. Atas prestasi tersebut Cak Narto memberi bonus berupa uang muka pembelian mobil Timor kepada Yusuf Ekodono dkk. Selain itu, beberapa pemain diangkat sebagai PNS di lingkungan Pemkot Surabaya, seperti Reynald Pieterz, Jatmiko, Marzuki Badriawan, Edy Santoso dan Hartono. Yusuf juga mengaku ditawari lagi, tapi tidak mau.

Begitu besar kepedulian Cak Narto pada Persebaya dan Bonek. Terbukti, ketika Persebaya tampil vs Persija dalam final Liga Indonesia 1996-1997 di Jakarta, Cak Narto memborong nasi bungkus dan tiket untuk dibagikan kepada Bonek. Sehingga, tak heran kalau Cak Narto kemudian dapat gelar “Bapake Bonek”. Sayangnya Cak Narto kemudian meninggal dunia sebelum masa jabatannya habis pada tahun 2002, sehingga kemudian diganti wakilnya, Bambang DH hingga 2005.

Selain peduli pada Persebaya yang ikut kompetisi Liga 1, Yusuf juga berharap wali kota terpilih pada klub-klub internal yang ada. Termasuk diputarnya kembali kompetisi Galakarya yang sudah dihentikan sejak 1995.

“Galakarya itu merupakan ujung tombak pembinaan sepakbola. Dari Galakarya akan banyak lahir pemain hebat. Jadi, jangan hanya Liga 1 dan Liga 2 yang dipikirkan,” pungkas Yusuf Ekodono, yang ikut memperkuat Timnas ketika Indonesia merebut medali emas sepakbola di SEA Games 1991. Di final, Indonesia mengalahkan Thailand lewat adu penalti. (pin)