BI Optimistis Ekonomi Kembali Positif di Akhir Tahun

28
BI memprediksi ekonomi tumbuh di akhir tahun meskipun kecil

Jakarta, Wirafokus.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan pada kuartal IV/2020 hingga tutup tahun 2020 akan kembali positif. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator yang mulai menunjukkan perbaikan.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini kejatuhan ekonomi Indonesia akibat pandemi COVID-19 telah berakhir. Diyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali positif.

Perry mengungkapkan dalam prospek ekonomi yang dibuat BI diyakini kuartal IV-2020 ekonomi Indonesia bisa kembali positif. Meskipun angkanya sangat kecil.

“Saya jelaskan bagaimana kami memandang bahwa proses pemulihan ekonomi itu tengah berlangsung. Kuartal IV-2020 semoga akan mulai positif meski masih sangat kecil,” ucapnya dalam sebuah webinar, Senin (7/12/2020).

Perry menjelaskan dalam proses saat ini, pemulihan ekonomi nasional harus diperkuat. Nah karena akar permasalahannya pandemi, maka mencegah penyebaran virus melalui vaksin dan protokol kesehatan menjadi sangat penting.

Perry yakin dengan adanya vaksin maka proses pemulihan ekonomi semakin pasti. Sebab dengan begitu maka proses kegiatan ekonomi dan keuangan berangsur pulih.

Perry sendiri meyakini kuartal IV-2020 ekonomi Indonesia bisa kembali positif. Meskipun angkanya sangat kecil.

Pada kesempatan berbeda, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad melihat kedatangan vaksin tidak serta merta membuat masyarakat lega. Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat kehadiran vaksin covid-19 tidak efektif mengangkat ekonomi di penghujung tahun.

Memang, penggunaan vaksin perlu diberikan prioritas. Artinya, tidak semua masyarakat bisa merasakan vaksin dalam waktu segera. Selain itu, menyiapkan jumlah dosis yang ideal pun ada tantangannya. Mulai dari pengadaan, kesiapan, hingga anggaran.

“Ini baru 1,2 juta dosis saja sudah sekian miliar (anggaran pengadaannya), apalagi kalau untuk memenuhi semua dosis masyarakat, entah butuh berapa triliun. Tapi kalau dibilang butuh ya butuh karena covid-19 sudah sangat menyebar,” imbuhnya.

Tantangan ini terlihat dari jumlah alokasi anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 yang tidak setinggi 2020. Pada tahun ini, pemerintah menyiapkan Rp695,2 triliun dengan anggaran kesehatan sekitar Rp96,17 triliun.

Sementara tahun depan, anggaran PEN Rp356,5 triliun atau setengah dari tahun ini. Alokasi anggaran kesehatannya memang lebih tinggi mencapai Rp169,7 triliun, tapi itu bukan untuk vaksin saja.

Anggaran vaksin dan penanganan covid-19 hanya sekitar Rp60,5 triliun. Sementara khusus vaksin sekitar Rp18 triliun ditambah beberapa triliun untuk vaksinasi dan sarana-prasarana pendukungnya.

Masalahnya, kalau anggaran negara tidak cukup dan mengandalkan masyarakat membeli sendiri, ia khawatir vaksin pada akhirnya tidak terbeli. Apalagi kalau biayanya cukup mahal.

“Ada risiko APBN bakal habis untuk vaksin, tapi kalau diserahkan ke masyarakat langsung juga takut tidak terbeli,” ujarnya.

Kedua, perlu diingat bahwa vaksin belum sepenuhnya bisa digunakan. Sampai saat ini, vaksin yang sudah tiba di Tanah Air masih harus menunggu evaluasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Selain itu, belum ada jaminan halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tanpa itu semua, vaksin belum akan menjadi sentimen positif bagi ekonomi Indonesia.

“Vaksin juga belum dites, karena takutnya ini safe atau tidak. Takutnya, gen kita tidak cocok dengan gen China yang membuatnya, ada perbedaan karakteristik orangnya dan lainnya, jadi harus diuji coba dulu, dipastikan keamanan dan efektivitasnya,” ucapnya.

Ketiga, vaksin datang sangat mepet, sehingga belum sepenuhnya bisa dirasakan langsung dampaknya di penghitungan ekonomi kuartal IV 2020. Tauhid pun melihat ekonomi pada kuartal terakhir tahun ini masih akan sama dengan proyeksinya sebelum ada vaksin, yaitu di kisaran minus 2 persen.

“Jadi secara keseluruhan belum bisa pengaruhi ekonomi, konsumsi pun tidak karena masyarakat juga masih pertimbangkan kasus harian yang masih naik terus. Tapi mungkin setidaknya bisa beri sentimen baik ke keyakinan konsumen,” jelasnya.

Lebih lanjut, Tauhid melihat efek vaksin mungkin baru terasa ke ekonomi pada kuartal III 2021. Pasalnya, estimasinya pemerintah masih butuh waktu untuk meningkatkan jumlah vaksin dan melangsungkan vaksinasi pada kuartal I dan II 2021.

“Pada awal tahun depan, ekonomi masih ter-hit. Pengaruhnya mungkin baru semester II 2021, mulai kuartal III,” tuturnya. (red/fks)