― Advertisement ―

Jalin Tali Silaturahmi Madas Sedarah PAC Dukuh Pakis Gelar Acara Rutinan

Surabaya,Wirafokus.com - Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama serta penguatan internal Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Madas PAC Dukuh Pakis Surabaya kembali melaksanakan kegiatan...
BerandaEkonomi & BisnisKebijakan Impor Picu Harga Garam Lokal Turun

Kebijakan Impor Picu Harga Garam Lokal Turun

Teks Foto: Dirut PT Garam (Persero) Budi Sasongko (dua dari kiri) saat memberikan paparan di depan Komisi IV DPR RI, Selasa (21/1/2020).

JAKARTA, wirafokus.com – Pemerintah kembali membuka opsi impor garam tahun ini yang angkanya mencapai 2,9 juta ton. Angka tersebut naik 6 persen dari 2,7 juta ton tahun 2019.

Direktur Utama PT Garam (Persero) Budi Sasongko menyatakan jika kebijakan tersebut memicu harga garam dalam negeri turun drastis. Hal ini disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Selasa (21/1/2020).

Berdasarkan catatannya, harga garam lokal terus mengalami penurunan mulai awal tahun ini. Saat ini harga rata-rata garam petambak Rp 600 per kilogram (kg). Padahal, perusahaan mematok harga jual rata-rata Rp 1.200 per kg.

“Harga kita 2019 hancur. Harga pada tahun ini PT Garam (Persero) dari target rata-rata harga tahun lalu sekitar Rp 1.200 per kg. Tahun ini hanya bisa menjual rata-rata Rp 600 per kg. Luar biasa bahkan hari ini pun harga garam di truk Rp 300 per kg,” ungkapnya.

Apalagi, imbuh Budi, saat ini produksi garam lokal sangat cukup untuk mencukupi kebutuhan industri aneka pangan termasuk konsumsi rumah tangga.

“Saat ini stok nasional untuk garam masih 1,9 juta ton. Tapi pemerintah ada rencana untuk impor kurang lebih 2,5 juta ton. Ini akan terjadi penurunan harga garam lokal,” kata dia.

Dengan kondisi ini, menurut Budi, sebetulnya impor garam harusnya bisa diperkecil bukan malah diperbanyak. Dengan impor yang semakin meningkat maka akan membuat harga garam lokal semakin anjlok karena stok yang melimpah.

Untuk itu, Budi meminta pemerintah tidak mengalokasikan kuota impor garam lebih tinggi dibanding tahun lalu. “Sehingga sesungguhnya untuk kluster aneka pangan ini di minimize khususnya untuk impor-impor itu,” katanya.

Selain Budi Sasongko, hadir pula Direktur Utama PT Sang Hyang Seri Gunarso, Direktur Utama PT Pertani Febriyanto, dan Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Eko Taufik Wibowo serta Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia Farida. (red/fks)