Ket foto : Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno didampingi Direktur Utama PT Garam (Persero) Budi Sasongko dan jajaran direksi lainnya melaksanakan penandatanganan prasasti sekaligus meresmikan pembangunan dua pabrik garam industri dan revitalisasi lahan di Manyar, Kabupaten Gresik.
Gresik, wirafokus.com – Memperkuat produksi garam olahan menjadi langkah strategis PT Garam (Persero) dalam meningkatkan pengembangan usaha di sektor hilir. Ini menjadi keniscayaan menyusul persaingan global di bisnis garam yang semakin ketat. Di sisi lain, PT Garam juga tetap memacu akselerasi angka produksi di sektor hulu, yakni garam bahan baku.
Neraca garam nasional sejauh ini diketahui masih defisit, dimana untuk pemenuhan garam industri, pemerintah terpaksa masih harus impor. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi PT Garam untuk meningkatkan produksi demi memacu kinerja usaha dan berkontribusi dalam mengapai asa swasembada garam.
Berangkat dari hal tersebut, PT Garam melaksanakan penandatanganan prasasti sekaligus meresmikan pembangunan dua pabrik garam industri dan revitalisasi lahan di Manyar, Kabupaten Gresik. Penandatangan dilakukan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno didampingi Direktur Utama PT Garam (Persero) Budi Sasongko dan jajaran direksi lainnya di Pabrik Segoromadu, Gresik pada Rabu (11/09/2019).
Kegiatan ini merupakan langkah PT Garam dalam memperkuat bisnis hilir (hilirisasi) atau menambah kemampuan menghasilkan garam olahan. BUMN tertua di bidang pengolahan garam ini sekarang tercatat telah mempunyai 4 pabrik garam olahan dengan kapasitas produksi sebesar 106.300 ton/tahun.
Keempat pabrik tersebut diantaranya adalah Pabrik Camplong dengan kapasitas produksi 63 ribu ton/tahun, Pabrik Sampang yang mampu memproduksi 11 ribu ton/tahun dan Pabrik Galus (Garam Halus) Segoromadu dengan kapasitas 30 ribu ton/tahun serta Pabrik Lososa (garam sehat untuk penderita darah tinggi, red) Segoromadu yang mampu menghasilkan 1.500 ton/tahun.
Direktur Utama PT Garam (Persero) Budi Sasongko mengatakan jika Pabrik Segoromadu ini merupakan rekondisi yang sejak tahun 2018 lalu mulai berproduksi garam halus karungan dan kemasan dengan kapasitas 30 ribu per tahun. Ditambahkan, saat ini penyelesaian pembangunan pabrik sudah mencapai 98 persen.
“Permintaan pasar untuk garam halus kemasan terus meningkat setiap tahun. Begitu juga permintaan untuk garam merk Segitiga G dan Lososa. Untuk pengiriman sudah mencakup seluruh Indonesia sejak Juli dan sampai akhir Desember diperkirakan bisa mengirim 10 ribu ton,” ujar Budi seusai acara.

Foto : Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno didampingi Direktur Utama PT Garam (Persero) Budi Sasongko usai melepas pengiriman garam LOSOSA salah satu produk PT GARAM (PERSERO)
Budi juga menjelaskan jika strategi memperkuat bisnis hilir (hilirisasi) garam adalah dengan senantiasa meningkatkan kualitas produk dan layanan garam olahan untuk industri dan konsumsi. Penataan fasilitas produksi dimulai sejak proses produksi, sistem penyimpanan hasil produksi, SOP pengelolaan barang konsumsi dan telah sesuai ketentuan Balai POM serta sistem pelaporan menggunakan program ERP yang terintegrasi.
Selain pabrik, PT Garam juga tetap memperhatikan tingkat produksi garam bahan baku. Ini berarti adalah optimalisasi lahan pegaraman yang salah satunya berlokasi di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Lahan ini menjadi pegaraman ke-5 PT Garam dengan luasan awal sekitar 525 hektare.
Belum lama ini, revitalisasi lahan pegaraman Manyar dilakukan PT Garam pada tahun 2019 dengan luas mencapai 260 hektare yang sejak tahun 1994 tergolong non-produktif. Lahan tersebut ditata sebagai etalase proses produksi yang bervariatif yaitu produksi dengan sistem konvensional, proses produksi dengan teknologi GEKI (Korea) dan proses produksi dengan metode Bestekin (Pemurnian air laut).
“Pengerjaan konstruksi pegaraman Manyar dimulai pada Juli 2019. Untuk mencapai kapasitas produksi 100 persen atau 26 ribu ton/tahun, dibutuhkan tahapan selama tiga tahun. Untuk tahun ini, diproyeksikan mencapai 20 persen, dan 60 persen pada tahun kedua serta mencapai titik optimal produksi pada tahun ketiga,” urai Budi.
Budi, lahan di Manyar sebenarnya sempat produktif tahun 1964 sampai 1994 dengan kapasitas sekitar 25 ribu ton/tahun. Namun, sejak 1994 sampai 2019 pasif dan mengalami reduksi. Dan sebagai upaya optimalisasi produksi garam bahan baku, lanjut Budi, sekarang lahan tersebut sudah siap beroperasi kembali. (Why/ Red)
