― Advertisement ―

Jalin Tali Silaturahmi Madas Sedarah PAC Dukuh Pakis Gelar Acara Rutinan

Surabaya,Wirafokus.com - Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama serta penguatan internal Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Madas PAC Dukuh Pakis Surabaya kembali melaksanakan kegiatan...
BerandaPendidikanEnam Tahun Tidak Lulus S1, Mahasiswa Unair Dipaksa Mundur

Enam Tahun Tidak Lulus S1, Mahasiswa Unair Dipaksa Mundur

Ket foto : Rektor Unair Prof.Dr. Mohammad Nasih saat memberikan sambutan dalam acara silaturrahim orangtua mahasiswa baru dengan pimpinan Unair

Surabaya, wirafokus.com – Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya
harus memenuhi dua syarat untuk lulus menjadi sarjana program Strata (S)1. Yakni, memenuhi Sistem Kredit Semester (SKS) dan Sistem Kredit Prestasi (SKP).

Pernyataan ini disampakan Rektor Unair Prof.Dr. Mohammad Nasih dalam acara silaturrahim orangtua mahasiswa baru dengan pimpinan Unair di Aula Garuda Mukti Lantai 5 Kantor Manajemen Unair, Kampus C Mulyorejo, Senin (05/08/2019).

Menurut Nasih, untuk SKS mahasiswa dikatakan lulus sarjana S1 kalau mampu menyelesaikan 144 SKS dengan nilai D (40-54,9) tidak lebih dari 20 persen dalam jangka waktu normal empat tahun atau delapan semester.

Kendati demikian, lanjut Nasih, Unair masih memberi kesempatan selama enam tahun atau 12 semester kepada mahasiswa untuk menyelesaikan 144 SKS.

“Enam tahun merupakan batas maksimal yang diberikan sesuai SK Rektor. Dan enam tahun itu lama sekali. Kalau enam tahun tidak bisa menyelesaikan 144 SKS atau kurang satu saja, kita minta untuk mengundurkan diri. Kalau tidak mau mundur, akan kita paksa mundur,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, meskipun diberi batas waktu maksimal enam tahun, tetapi selama ini jarang sekali yang lulus enam tahun.

Umumnya empat tahun sudah lulus sarjana S1. Bahkan, tidak sedikit yang kuliah tiga setengah tahun sudah lulus.

Bagi mahasiswa berprestasi dengan lulus kurang dari empat tahun ini, Unair memberikan banyak insentif. Diantaranya memberi kesempatan kuliah program magister atau S2 di Unair tanpa seleksi dan dengan SPP yang besarnya sama dengan program S1melalui program Fasrek.

Dengan demikian, ketika lulus dari Unair mahasiswa tersebut sudah punya gelar sarjana dan magister.

“Kalau nilai magisternya bagus, mereka langsung bisa masuk program doktoral atau S3 selama tiga tahun. Sehingga kalau lulus, juga menyandang gelar Doktor,” jelas Nasih yang sehari-hari juga dikenal sebagai ustad.

Mengenai SKP, menurut Nasih, untuk syarat kelulusan setiap mahasiswa program S1 harus memperoleh minimal 100 SKP. Sedang yang masuk SKP ini adalah semua kegiatan mahasiswa yang bernilai positif. Yang masuk dalam penilaian ini diantaranya mengikuti kegiatan upacara.

“Ada tiga upacara utama wajib yang harus diikuti mahasiswa, yakni upacara Hari Pendidikan Nasional, 17 Agustus, dan Hari Pahlawan. Kalau tidak ikut, ya harus mengulang lagi,” terang Nasih

Nasih juga menjelaskan, bahwa setiap upacara tersebut ada nilai SKP-nya. Termasuk kegiatan-kegiatan positif lainnya, seperti mengikuti seminar, kegiatan tanam pohon dan lain-lain.

“Kurban kalau dilakukan di Unair juga ada nilai SKP-nya,” ujar Nasih.

Ditambahkan, Unair melakukan seleksi ketat terhadap mahasiswa baru.

Terutama pada tahun pertama atau akhir semester dua, setiap mahasiswa Indeks Prestasi Komulatif (IPK)-nya minimal harus satu atau rata-rata D.

“Kalau IPK-nya kurang dari satu, silakan mengikuti SNMPTN tahun berikutnya. Tidak bisa lanjut ke semester tiga,” tegas Nasih.

Untuk bisa mendapatkan IP satu itu, menurut Nasih, sangat mudah. Asal setiap ujian ikut, pasti bisa mencapai IPK satu. Dan untuk bisa ikut ujian, syaratnya harus hadir kuliah 80 persen.

“Kalau tingkat kehadiran kurang dari 80 persen, tidak boleh ikut ujian yang berarti nilainya nol atau E. Berarti dia jarang atau tidak pernah ikut kulian, sehingga pasti IPK-nya tidak mencapai satu,” tandas Nasih.

Di hadapan orangtua mahasiswa baru yang datang dari berbagai daerah di Indonesia itu, Nasih mengungkan bahwa tahun ini ada 7.000 mahasiswa baru yang diterima di Unair. Dari jumlah tersebut, 844 mahasiswa masuk program bidik misi. Mereka ada yang kuliah sambil kerja dan tidak sempat belajar. Untuk itu, perlu gotong royong membantu mereka agar nilainya exellence atau IPK-nya di atas 3,0.

“Jangan hanya anak bapak dan ibu saja yang nilainya exellence, mereka juga perlu kita bantu agar exellence,” tutur Nasih. Sebab, lanjut dia, kalau IPK kurang dari 3,0, daftar saja tidak akan dilirik oleh perusahan yang bonafit ketika melamar pekerjaan. Apalagi perusahaan BUMN atau multi nasional.

Untuk membantu mahasiswa bidik misi ini, Nasih berharap agar para orangtua mahasiswa baru bisa ikut mendukung. Tidak hanya dukungan moril, tapi juga materiil. “Tidak perlu tebal-tebal, tipis-tipis saja. Merah-merah boleh, biru-biru juga boleh,” guraunya yang disambut tawa dan tepuk tangan para undangan. (Pin)