― Advertisement ―

Jalin Tali Silaturahmi Madas Sedarah PAC Dukuh Pakis Gelar Acara Rutinan

Surabaya,Wirafokus.com - Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama serta penguatan internal Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Madas PAC Dukuh Pakis Surabaya kembali melaksanakan kegiatan...
BerandaPendidikanKajian Islam: CIRI-CIRI ISTRI DURHAKA

Kajian Islam: CIRI-CIRI ISTRI DURHAKA

Wirafokus.com – terdapat 7.sifat ciri ciri istri durhaka terhadap suami, yang mana seluruh sifat itu sering kita jumpai dalam kehidupan rumah tangga, untuk lebih meyakinkan kita terhadap istri supaya taat kepada suami dan bersyukur dengan apa yang diberikan suami terhadap istrinya, walaupun apa yang di berikan belum bisa memuaskan sang istri, dikutip dari kajian islam “Keluarga Samawah” ada 7. Sifat yang masuk dalam katagori istri yang durhaka diantaranya :
1. Nusyus (tidak taat kepada suami)

Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan
tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang
melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak
ridha pada kedudukan yang Allah Swt telah tetapkan
untuknya.

Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
~ Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
~ Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
~ Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah.
~ Lalai dalam melayani suami.
~ Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
~ Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya.
~ Keluar rumah tanpa izin suami.
~ Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.

Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan
ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan
dalam kedurhakaan kepada Allah.

2. Tidak menjaga penampilan

Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan
mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika
hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara
maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya
mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau,
rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang
menyengat.

Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri,
jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka
menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya
dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah
dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya
di rumah lebih berhak untuk itu.

3. Kurang berterima kasih

Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi
keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia
harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun
suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan
keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.

Istri kurang bersyukur, selalu mengeluh bahkan mengeluh ketika tidak punya uang di mediasosial bahkan tidak memiliki rasa terima kasih
kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan
kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan.
Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya
sangat jauh dari dirinya.

Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami
keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan
sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan
mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami
akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Qs.Ibrahim :7 )

4. Mengingkari kebaikan suami

“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.”

Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.

Ajaib !! wanita sangat dimuliakan di mata Islam,
bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar
ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni
mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?

“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal
itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?

Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi
mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat
suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa,
kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari
seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat
kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari
(5197).

Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!

Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam
neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi , apa
dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?

Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.

Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami,
mengingkari kebaikan-kebaikannya, maka berhati-hatilah dengan apa yang
telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Bertobat, satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa
neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di
kerongkongan, masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti
nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?

Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai
saudariku; kejarlah ajalmu, bukankah engkau tidak tahu kapan engkau
akan menemui Robb mu?

“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya
di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi
pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu
dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa
segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)

Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita
lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi
diri, jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa
kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.

Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai
dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan
yang telah suami kita lakukan.

“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)

5. Mengungkit-ungkit kebaikan

Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak
terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri
menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka
mengungkit-ungkit kebaikannya semata.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]

Abu Dzar radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,“Ada
tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan
memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu
Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang
yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang
suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu
ketika menjual. ” [HR. Muslim]

6. Sibuk di luar rumah

Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin
suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.

Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati
rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap,
anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika ini terjadi terus
menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.

7. Kurang menjaga perasaan suami

Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan
pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik,
kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa
berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti
perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci,
berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu
berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka
masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.

Demikian beberapa kesalahan-kesalahan istri yang
terkadang dilakukan kepada suami yang seyogyanya kita hindari agar suami
semakin sayang pada setiap istri. Semoga keluarga kita menjadi keluarga
yang sakinah, mawadah, warohmah.
aamiin.  (Bledex)

Info: Kajian Islam