Foto : Tuti Tursilawati TKW yang di eksekusi diam diam Arab Saudi.
Wirafokus.com – Sekitar sembilan tahun lalu, tepatnya pada tahun 2009, Tuti mengadu nasib ke arab dengan menjadi pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga di kota Thaif, yang berjarak 87 kilometer sebelah timur Kota Mekah.(29/10)
Pada 11 Mei 2010 sekitar tengah malam, majikan Tuti masuk ke kamarnya dan mencoba memperkosanya.
Diketahui Tuti kemudian memukulkan sebatang kayu ke majikannya, seorang pria tua bangka bernama Suud Malhaq Al Utaibi, melihat majikannya terkapar karena pukulannya, Tuti berusaha kabur dari rumah. Tiga hari berselang, majikannya itu akhirnya meninggal di rumah sakit.
Lepas dari rumah majikannya di Thaif, Tuti bertemu sekelompok pria, sekitar sembilan orang.
Awalnya, pria-pria jahanam itu menjanjikan bantuan membantu pelarian Tuti ke Mekah. Namun ternyata Tuti dibawa ke sebuah rumah kosong, lalu diperkosa. Tuti disebut digilir 9 pria durjana itu hingga pagi.
Tak lama usai kejadian itu, Tuti akhirnya ditangkap dan divonis mati atas tuduhan membunuh majikannya pada 11 Mei 2010, sembilan bulan setelah bekerja di Saudi.
Di pengadilan Tuti sembari menangis mengaku terpaksa membela diri karena kerap mengalami pelecehan seksual dari majikannya.
Bulan Mei lalu menjadi saat terakhir ibunda Tuti, Iti Sarniti, dapat menemui langsung buah hatinya yang mendekam di penjara kota Thaif, Arab Saudi.
Dengan berurai air mata, ibu Iti terus bertutur bahwa kunjungan pada bulan Mei itu merupakan kunjungannya yang paling berkesan. Ibu Iti bisa mengunjungi Tuti di penjara selama 1,5 jam, di mana dalam kunjungan sebelumnya hanya bisa bertemu 10 menit saja.
Tidak hanya itu, dalam kunjungan terakhir itu ia juga bisa memeluk Tuti dan berfoto bersama.
Saat itu Tuti nampak sangat senang saat ibundanya datang membawakan seluruh permintaannya.
Tidak muluk-muluk, Tuti hanya meminta dibawakan pakaian tidur dan cemilan khas Majalengka, kampung halamannya.
Ibundanya membawakan dua buah daster sederhana dan beberapa cemilan seperti rengginang, keripik singkong, dan opak. Bawaan cemilan itu pun langsung dimakan ramai-ramai di penjara.
Tuti nampak senang sekali saat itu. Namun ternyata, itu adalah permintaan terakhir Tuti kepada ibundanya.
Tak sampai 5 bulan kemudian Tuti dieksekusi mati pada hari Senin, 29 Oktober 2018, Pukul 9 pagi waktu setempat.
Hal itu baru diketahui perwakilan Indonesia pada siang harinya, itu pun tak disengaja karena ingin mengunjungi Tuti di penjara.
Tuti adalah satu lagi warga negara Indonesia yang dipancung oleh pemerintah Saudi tanpa pemberitahuan.
Sebelumnya Maret lalu, Saudi juga menyembelih mati Zaini Misrin dan pada 2015 Siti Zaenab. Semuanya dipancung tanpa pemberitahuan kepada perwakilan RI.
Wanita lulusan akademi farmasi itu baru menginjak usia 33 tahun saat disembelih hidup-hidup pemerintah Saudi.
Tuti meninggalkan seorang anak perempuan bernama Ara Herlina yang kini berusia sekitar 12 tahun.(Red)
