― Advertisement ―

Jalin Tali Silaturahmi Madas Sedarah PAC Dukuh Pakis Gelar Acara Rutinan

Surabaya,Wirafokus.com - Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama serta penguatan internal Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Madas PAC Dukuh Pakis Surabaya kembali melaksanakan kegiatan...
BerandaPendidikanTiga Mahasiswa Universitas Kristen Petra Dengan Nilai Cumlaude Yang Akan di Wisuda

Tiga Mahasiswa Universitas Kristen Petra Dengan Nilai Cumlaude Yang Akan di Wisuda

Foto : Mahasiswa Universitas kristen Petra saat mempresentasikan karya ilmiah nya.

Surabaya, wirafokus.com- Dalam wisuda ke 74 yang diadakan dua hari berturut nanti, Sabtu-Minggu (31/08-01/09/2018), Universitas Kristen Petra, Jalan Siwalankerto 142-144 Surabaya, akan melepas sebanyak 1203 mahasiswa dari jenjang Strata 1 dan Strata 2.

Di antara sekian banyak mahasiswa, ada 220 mahasiswa S-1 yang berhasil mendapatkan hasil cumlaude. Seperti press conference dan pantauan wartawan wirafokus.com, ada tiga mahasiswa peraih cumlaude mempresentasikan penemuan dan hasil akhirnya yakni Stefan Rio Erwanto (Program Studi Arsitektur), Monica Claudia Chiong (Program Studi Desain Komunikasi Visual/ DKV), dan Tracy Amelia (Program Studi Desain Interior/DI), Kamis (30/08/2018).

Press conference yang dimulai pukul 10.30 WIB, presentasi pertama dibuka oleh Stefan Rio Erwanto (Program Studi Arsitektur). Rio, panggilan dari Stefan Rio Erwanto, memaparkan bahwa dirinya melakukan penelitian mengenai perkembangan langsung Kampung Kreatif Dolly. Pria yang masih berusia dua puluh dua tahun sangat berantusias menceritakan Gang Dolly yang dahulu merupakan tempat protitusi terbesar di Asia Tenggara sehingga saat ini menjadi Kampung Kreatif terdiri batik, kuliner, seni lukis dan kerajinan tangan. Di tangan pria asal Surabaya, dia tak ingin program dari pemerintah dianggurkan begitu saja.

Melihat Kampung Kreatif yang serupa, Jalan Dago Kota Bandung, dirinya ingin menyuguhkan sisi arsitektur yang berbeda. Arsitektur tersebut yakni tiap rumah tinggal di kampung tersebut memiliki ruang kreatif yang terdapat di muka sehingga terjadinya interaksi antara pengunjung dan penduduk, ruang galeri yang menceritakan tentang Gang Dolly dari masa ke masa serta ruang terbuka yang bisa digunakan warga.

“Semoga kedepannya, konsep yang saya rancang bisa diterima dan diaplikasikan. Hal ini dikarenakan di daerah sekitar Gang Dolly tersebut terdapat banyak industri-industri kreatif namun kurang terekspos pasca penutupan industri protitusi,” harap pria yang bergelar Sarjana Arsitektur tersebut.

Berbeda dengan Rio, Monica Claudia Chiong (Program Studi Desain Komunikasi Visual/ DKV) menghasilkan sebuah permainan yang diperuntukkan anak sekitar usia 4 sampai 6 tahun yakni Board Game semacam gabungan dari permainan ular tangga dan monopoli. Dasar yang mendorong Monic, panggilan dari Monica Claudia Chiong, ini dikarenakan melihat perkembangan tumbuh kembang anak yang berusia 4 hingga 6 tahun di sekitarnya sangat dipergaruhi dan kecanduan dengan gawai. Tak ingin anak kecil terlalu kecanduan gadgate, perempuan berambut panjang membuat permainan yang dapat dimainkan hingga 6 pemain serta dipandu seorang grandmaster, sebutan untuk orang dewasa yang memandu permainan tersebut, yang membutuhkan kerjasama tim.

“Permainan ini dikhususkan anak berusia 4-6 tahun dan pemainan maksimal 6 orang serta ada satu pembimbing yaitu disebut grandmaster. Semoga ada dengan permainan tidak terlalu tergantung gadgate,” tandas perempuan yang masih umur 22 tahun.

Melihat sampah di sekitar fakultasnya membuat wanita berusia dua puluh dua tahun berpikir untuk memanfaatkan sampah-sampah kertas dalam bahan utama penelitian seperti koran. Tracy Amelia (Program Studi Desain Interior/DI), mencoba empat kali percobaan dengan empat racikan lem yang berbeda yaitu flanel koran.

Tracy, panggilan dari Tracy Amelia, selama enam bulan percobaan akhirnya memutuskan menggunakan campuran lem kuning. Hal tersebut disebabkan campuran lem kuning dirasa kuat namun hasilnya tidak melengkung dan kaku.

“Dengan adanya pembuatan flanel tersebut, kita dapat memanfaatkan sampah seperti koran. Kedepannya, kita dapat memproduksi semacam ini secara massal,” ujar perempuan berambut pendek. (Ais/Fir)