Oleh : Irfan Ibnu
Wirafokus.com – Derasnya arus global yang ditunggangi oleh peran kapital, melalui bentuk konsep ekskulsifitasnya, melelapkan mental pemuda bangsa ini, bersama syndrome hedonis yang menghisap ketahanan mental pemuda. Lungsut dan terkesan ringkih, seolah generasi muda hanya melampiaskan hasrat konsumtifnya, serta memelihara pemikiran apatis terhadap dinamika politik.
Gejolak kaula muda wajib merebut kedaulatan mimbar demokrasi, guna melucuti kekuatan oligarki asing yang terus mengancam stabilitas kemakmuran negara. Filtrasi terhadap budaya asing, wajib tertanam pada minset setiap pemuda Indonesia. Menjunjung nilai kebangsaan, menerapkan budaya toleransi, mewujudkan praktik musyawarah murni, merupakan suatu bentuk protektif yang ampuh bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menapaki orde digital saat ini, siklus ekonomi mengalir sangat cepat bersanding dengan fluktuasi teknologi yang semakin deras. Begitu juga akses informasi yang diperoleh secara instan dapat menimbulkan pemuda untuk bergerak secara cermat, terhadap hasil transaparasi yang disuguhkan oleh media melalui basis teknologi. Perkembangan industri semakin menjamur dalam rana digital, semakin terisolasi bagi pemuda yang hanya memanfaatkan teknologi sebagai wadah untuk mengimplementasikan kehedonisannya.
Panen Inovasi
Inovasi semakin menggeliat, kreator muda dengan riangnya berkompetisi secara poistif, membingkai wajah negeri ini dengan konten – konten mejamuk. Keanekaragaman hayati, adat istiadat, suku dan budaya yang tersaji dalam akses digital, memanjakan pelancong asing, hingga tergiur untuk mengisi pundi – pundi devisa negara.
Demokrasi yang absolut, membuka ruang kreatif bagi generasi penerus bangsa, menciptakan gagasan yang bersifat revolusi, baik untuk memulai ataupun membenahi sistem pemerintahan yang terkilir. Potensi generasi kreatif merujuk terhadap akses teknologi yang semakin terbuka. Menanam sikap empati terhadap kaum marjinal yang hampa akan harapan untuk kehidupan. Penerapan dari pemikiran pemuda kreatif mengarahakan kemakmuran secara bertahap, bagi daerah yang terisoalasi ataupun tertinggal. Mengolah sumber daya alam ataupun manusia menjadi otonom yang kuat, desentralisasi dapat terealisasi sangat mungkin.
Paruh Dekade
Narasi tiap capres, telah tersusun rapi dalam lembar yang digenggamnya. Pastinya mengarungi revolusi industri 4.0 dengan menerapkan sistem “pabrik cerdas”, menggalang pemikiran pemuda yang bernuansa nasionalisme yang dikemas secara kreatif. Selama ini capres yang gemar mengenakan kemaja putih pada bagain kedua lengannya selalu
disisingkan, tanpa absen selalu berpartispasi dalam event milenium yang menyajikan produk – produk dari generasi muda, tidak jarang pula membungkusnya untuk dibawa ke istana sebagai bentuk apresiasi. Sedangkan capres dari jebolan militer, menggandeng sangat erat tokoh publik yang tergolong masih muda. Dalam hal ini dapat diraba, bahwa strategi dari kedua capres akan sangat terampil saat menapaki revolusi industri milenium kini. Derasnya arus globalisasi menghanyutkan kemandirian industri yang berbasis tekonologi. Pemerintah yang siap memimpin, wajib mengukuhkan ruang bagi generasi penerus untuk dapat berfikir secara progresif dalam membangun bangsa. Begitu juga menjunjung sikap konservatif dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Naras tiap capres dalam mengarungi revolusi industri 4.0, harus terbingkai dengan nilai – nilai pacasaila. Merdeka berinovasi,
merdeka berpendapat, merdeka berkarya.
