― Advertisement ―

Jalin Tali Silaturahmi Madas Sedarah PAC Dukuh Pakis Gelar Acara Rutinan

Surabaya,Wirafokus.com - Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama serta penguatan internal Organisasi Masyarakat ( Ormas ) Madas PAC Dukuh Pakis Surabaya kembali melaksanakan kegiatan...
BerandaReligiMelatih Anak Untuk SHAUM/PUASA

Melatih Anak Untuk SHAUM/PUASA

T. KIKI JUANDA, sby.. 24/5/2018

Wirafokus.com – Imam Busyiri dalam kasidahnya berkata “Nafsu itu seperti anak kecil yang masih menyusu. Jika dibiarkan, maka dia akan ketagihan hingga dewasa kelak, namun jika disapih, dia akan terbiasa”.

Mencintai anak tidak harus selalu dengan kata-kata indah, elusan lembut, dituruti segala kamauannya, bahkan dimanja, atas dasar “Cinta dan sayang”. .

Bila Ramadhan tiba, banyak orang tua membiarkan anaknya tidak berpuasa, atas dasar “kasihan”. Takut lapar, takut sakit, takut tidak bisa sekolah, takut lemas, dan segala ketakutan yang dikwatirkan untuk anaknya.

Namun, terkadang lupa, bahwa puasa adalah kewajiban syariat yang butuh latihan. Apakah tidak lebih kasihan, jika kelak anaknya tidak kuat berpuasa. Apakah tidak kasihan, jika anak meninggalkan puasanya bila dewasa. menyepelekan kewajiban, bahkan terang-terangan untuk tidak puasa. Apakah tidak kasihan, jika anaknya menjadi penentang syariah, dan lebih kasihan lagi, bila berada di neraka. Sebagai dalam Hadis Nabi, ”Aku melihat orang-orang yang tergantung di tumit-tumit mereka, tulang rahang mereka pecah dan meneteskan darah. Aku bertanya, ‘Siapa mereka?’ Dia menjawab, ‘Orang-orang yang berbuka sebelum halal bagi mereka untuk berbuka’” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Nabi anti kekerasan, bahkan beliau tidak pernah bersikap keras sama putra-putrinya dan istri-istrinya, memukulpun tidak, dan juga mengecam kekerasan. Namun, jika berkaitan dengan ibadah wajib, maka nabi sangat keras. Kalau sudah dengan kata-kata lembut tidak bisa, dinasehati tidak mempan, diperingati juga tidak diindahkan, maka bisa pula dengan kekerasan, ini pun jalan terakhir, Sabda Nabi, “Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah dia karena (meninggalkan)nya pada usia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)
Namun, pukulan disini bukan pukulan mematikan, penyiksaan apalagi dera, ia pukulan “tarbiyah”.

Cinta dan sayang kepada anak tidak hanya dengan pelukan, tapi bagaimana kelak ia mampu memeluk cita-citanya dan merindu surgaNya, kadang harus diraihnya dengan keringat dan darah. Maka butuh perjuangan dan latihan. .

Dalam puasa anak butuh dilatih berlahan-lahan, misalnya tidak boleh makan terang-terangan (3.5th), berpuasa dua jam (4.5th), setengah hari (5th), sampai Ashar (5.5), sampai Maghrib (6th), disesuaikan dengan kemampuannya. Demikian pula dengan shalat, dan kebaikan-kebaikan lainnya. .

Maka agar anak-anak terbiasa dengan kebaikan, butuh; Pengenalan, pemahaman, penerapan, pembiasaan, pembudayaan, internalisasi menjadi karakter. Demikian juga dengan puasa dan lainnya. Allah A’lam bishawab. (*)