Yusuf Ekodono: Kembalikan Sepakbola pada Orang Bola

Ket foto: Yusuf Ekodono dan Moh Zein Alhadad

Surabaya, wirafokus.com- Keberhasilan Bagus Kahfi dkk lolos ke putaran final Piala Asia U-19 tahun 2020 di Uzbekistan memang cukup membanggakan. Tapi, bayang-bayang kegagalan timnas senior di prakualifikasi Piala Dunia tahun 2022 tidak bisa dilupakan.

Pasalnya, di event ini Stefano Lilipaly dkk tampil sangat mengecewakan. Kalah 2-3 lawan Malaysia, di gunduli Thailand 0-3 dan UEA 0-5, serta di permalukan Vietnam 1-3.

Buntutnya, banyak kritikan yang kemudian ditujukan ke PSSI. Salah satunya datang dari Yusuf Ekodono. Mantan pemain timnas Indonesia ini menilai, salah satu faktor penyebab jebloknya prestasi timnas senior itu adalah banyaknya orang non-bola dalam pengurusan PSSI. Misalnya jabatan exco dan posisi strategis lainnya.

“Sudah saatnya sepakbola Indonesia dikembalikan pada orang bola. Jangan orang tidak pernah menjadi pemain sepakbola kemudian menangani dan mengurus sepakbola,” kritik Yusuf Ekodono.

“Kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, saya khawatir sepakbola Indonesia akan semakin terpuruk, ” sambungnya. Mantan pemain Persebaya yang akrab disapa Nanang ini pun memberi masukan.

Selain mantan pemain nasional, untuk menjadi pengurus PSSI minimal harus pernah memperkuat klub yang ikut kompetisi di level tertinggi di tanah air. Misalnya Persebaya, Persib, Persija  atau PSM.

Kalau ditangani orang non-bola, seperti dari kalangan politisi atau lowyer jelas kurang pas.

“Ini tidak hanya di kepengurusan PSSI pusat, tapi juga dilevel Askot dan Asprov. Saya lihat banyak orang non-bola yang jadi pengurus,” ungkap ayah dari pemain Persebaya Fandi Eko Utomo ini.

Bagi Yusuf, tidak masalah kalau urusan mencari sponsor diserahkan pada orang  non-bola. Tapi kalau posisi strategis seperti  exco, “mutlak’ harus dipegang orang bola dan mengerti betul tentang sepakbola. Termasuk jabatan ketua umum PSSI. Lebih pas kalau dipegang orang bola yang “gila bola” dan punya komitmen memajukan sepakbola nasional. Bukan sekedar karena uangnya banyak atau faktor lain. Apalagi kalau bertujuan mencari sensasi atau pencitraan.

“Kalau politikus ya berkiprah di politik saja. Jangan menjadikan sepakbola sebagai alat untuk pencitraan atau kepentingan pribadi. Yang lowyer pun begitu. Sebaiknya fokus di  bidangnya,” tandas Yusuf.

TANPA ASING

Selain pengurus PSSI, Yusuf Ekodono juga menyoroti masalah pemain. Dia mengusulkan sebaiknya kompetisi Liga Nasional tidak menggunakan pemain asing.

Harapannya agar nantinya muncul pemain nasional yang berkualitas. Baik di posisi penjaga gawang, belakang, gelandang, atau penyerang.

“Kalau kita mengandalkan pemain asing, kapan kita bisa memunculkan pemain nasional dari produk lokal yang berkualitas,” ujarnya.

Yusuf berpendapat, keberadaan pemain asing justru mematikan karir pemain lokal. Karena mereka jarang masuk line-up starting eleven dan lebih sering di duduk bangku cadangan.

Yusuf juga tidak setuju timnas menggunakan pemain naturalisasi. Dia pun memberi contoh timnas Thailand yang menggunakan pemain full lokal. Namun Thailand tetap disegani di Asia Tenggara. Indonesia pun selalu kesulitan menghadapi tim negeri “Gajah Putih” ini.

Indonesia sendiri pernah berjaya di era tahun 1970 hingga 1980-an. Kala itu Indonesia sangat di segani di Asia Tenggara, bahkan di level Asia. Jepang, Korsel dan Arab Saudi sulit menang meski kita murni pakai pemain lokal.

Saat itu Indonesia juga melahirkan pemain hebat dan berkualitas. Sebut saja penjaga gawang Ronny Paslah. Selain itu ada Johanes Auri, Iswadi Idris, Ronny Pattinasrani, Hadi Ismanto, Yacob Sihasale, Junaidi Abdillah, Waskito, Abdul Kadir, Risdianto dan Andi Lala.

“Bolehlah timnas menggunakan pemain asing atau naturalisasi, tapi untuk klub yang berlaga di tingkat Champion Asia. Kalau timnas atau kompetisi nasional, harus full pemain lokal,” tegas Yusuf Ekodono yang diamini Moh Zein Alhadad, mantan penyerang Niac Mitra dan timnas Indonesia.

Untuk pelatih, baik Yusuf maupun  Alhadad tidak mempermasalahkan klub atau timnas pakai asing. Namun, lisensi kepelatihannya harus jelas dan ditunjukkan pada publik. Selain itu, reputasinya selama menangani tim juga perlu diperhatikan. Jangan asal comot.

Karena itu, mereka mendukung rencana PSSI mendatangkan Shin Tae- Yong. Mantan pelatih timnas Korsel di Piala Dunia lalu itu akan menggantikan posisi Simon McMenemy sebagai pelatih timnas senior. Kandidat lain yang disiapkan adalah Luis Milla.

Hanya saja, Yusuf menyarankan agar PSSI juga memberi kesempatan kepada pelatih lokal untuk menangani timnas senior.

Sebab, menurut dia, Indonesia punya banyak pelatih yang berkualitas.

“Mestinya kita mencontoh Korsel. Meski menggunakan pelatih lokal di Piala Dunia, hasilnya  membanggakan,” jelasnya.

Dia juga menyarankan Fakhri Husaini yang membawa timnas U-19 lolos ke putaran final Piala Asia tahun 2020 tetap dipertahankan sebagai pelatih.

“Fakhri sudah lama menangani Bagus Kahfi dkk. Bahkan sejak timnas U-16 juara Piala AFF tahun 2018. Jadi, dia pasti tahu persis kelebihan dan kekurangan tiap pemain,” kata Yusuf.

“Pemain pun pasti sudah tahu karakter Fakhri, sehingga klop,” timpal Alhadad yang duduk di samping Yusuf. Kebetulan, saat itu ada acara pengajian di rumah Alhadad di kawasan Ampel.

Seperti diketahui, timnas U-19 lolos ke putaran final Piala Asia U-19 t.ahun 2020 dengan rekor tidak terkalahkan di grup K, mengantongi poin 7. Yakni dari hasil menang atas Timor Leste 3-1, menggunduli Hong Kong 4-0 dan imbang 1-1 vs Korea Utara. (pin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *