Advokat di Surabaya Dilaporkan Perkosa Staf Cewek

Surabaya, wirafokus.com – Seorang wanita berinisial E melaporkan seorang advokat yang juga bosnya sendiri berisial PS, karena diduga telah menodai dan memperkosanya, alias kasus dugaan advokat perkosa anak buah.

E, wanita 22 tahun ini merupakan bawahan advokat yang berkantor di kawasan Surabaya Pusat.

Menurut E, kejadian yang menimpanya tersebut bermula pada 26 Mei 2019 lalu. Akibat kejadian tersebut korban mengalami trauma berat dan merasa kesal dengan PS yang sebagai atasan dianggap justru mencelakainya.

“Saya sekarang shock, tidak enak makan, kepikiran terus dengan kejadian waktu itu,” ujar E yang didampingi pengacaranya, Abdul Malik, Kamis, (13/6/2019).

Saat itu, E tidak kuasa melawan karena PS menindihnya di sofa seusai dirinya mandi sore hari, lalu merobek paksa bajunya, dan tidak berteriak karena mulutnya dibungkam PS.

Saat kejadian di kantorhanya berdua antara dirinya dengan PS saja, tidak ada orang lain. Sehingga terjadilah perkosaan oleh bos kepada anak buahnya sendiri.

“Saya juga takut karena diancam mau dibunuh. Dia juga mengancam pakai pistol yang disimpan di lemari,” beber E.

Pengacara E Abdul Malik menyatakan, bahwa dari hasil visum terbukti bahwa kliennya tersebut diperkosa.

Dugaan pemerkosaan itu diperkuat dengan barang bukti berupa baju sobek yang kini sudah disita penyidik.

Kini dia percaya penyidik dapat segera menetapkan PS sebagai tersangka.

“Hasil visum identik. Ada sperma di celana dalam korban. Unsur paksaan juga terpenuhi,” tegas Malik.

Tegas Membantah

Sementara itu, PS si advokat yang dilaporkan terkait dugaan memperkosa anak buahnya sendiri tegas membantah tudingan tersebut.

Petang setelah kejadian, E menurut PS justru mengunggah live story di akun media sosial.

Dia juga keberatan kalau E disebut shock.

“Mengada-ada itu. Dia malamnya itu malah buat story Facebook kalau sedang senang-senang di kafe. Saya ada buktinya,” ujarnya, Kamis, (13/6/2019).

PS juga membantah memiliki pistol untuk mengancam korban dan laporan itu terkesan dipaksakan.

Dia menuding ada pihak lain di belakang E yang memiliki motif untuk menjatuhkannya.

“Dia itu laporan tiga kali. Laporan pertama, kedua ditolak, dia tidak masukkan ada pistolnya. Baru di laporan ketiga ini dia masukkan pistolnya,” beber PS.

Kejadian ini bermula pada 26 Mei 2019 lalu, yang sehari sebelumnya, PS menghubungi pelapor agar keesokan harinya bekerja lembur pada hari libur.

Pelapor sudah datang ke kantor pukul 06.00, dua jam berselang PS datang bersama anak dan istrinya.Namun, pada pukul 12.00, anak dan istrinya pulang, setelah itu, tersisa PS dan E di kantor. Sekitar pukul 16.00, korban mandi karena akan pulang. (Tbm/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *